"Orang baru bisa dikatakan sukses itu kalau ujung perutnya sudah sejajar dengan ujung hidungnya. Syukur-syukur jika bisa melebihi."

Itulah celetukan salah seorang kawan saya yang berasal dari Sumenep sewaktu masih kuliah dulu.

Setelah membaca kalimat pembuka tadi, saya yakin Anda pasti akan mencoba mengukur lingkar perut sendiri atau melirik perut orang-orang di sekeliling Anda sekaligus membandingkannya dengan ujung sumbu hidung mereka.

Demikian pula yang sebenarnya saya alami. Saat menerima kelakar dari teman saya itu, kontan sambil tertawa saya mengamati keadaan badan tambun teman saya ini yang sepertinya sudah sangat pantas untuk masuk kriteria yang diucapkannya itu.

Dan keadaannya ini tentu berbalik 180 derajat dengan kondisi saya yang memiliki tubuh biasa--untuk tidak dikatakan kurus--yang sangat jauh untuk dapat dikatakan gendut.

"Tengoklah, bos-bos itu. Rata-rata badan mereka gemuk-gemuk semua kan?" teman saya menambahi dengan pertanyaan.

Saya mencerna ucapan kawan saya tadi sekaligus mengamati keadaannya yang akhir-akhir memang sedang banyak penghasilan gara-gara usaha rental mobilnya banyak pesanan. Meski di satu sisi ada hal lain yang ia korbankan, yakni waktu pengerjaan skripsinya menjadi molor gara-gara ia gagal fokus.

Namun, dengan segala idealisme yang saya miliki waktu itu yakni untuk memburu kuliah tepat waktu, akhirnya bisa juga saya tinggalkan rayuan berbisnis darinya yang melambai-lambai menggoda itu.

Sebenarnya rayuan berbisnis ini sangatlah kuat untuk memikat saya. Apalagi hampir setiap waktu saya selalu digentayangi oleh sebuah lagu karya Om Iwan Fals yang bertajuk Sarjana Muda.

Membayangkan gambaran seorang pemuda-sarjana yang telah lulus kuliah yang kemudian ternyata masih lontang-lantung karena bingung mencari kerja rasanya seperti menjadi momok tersendiri bagi saya.

Syukurlah, di tengah bayangan masa depan yang begitu menghantui ini saya mendapat sebuah wejangan berharga dari almarhum kyai saya yang bernama KH Maksum Oemar asal Sidoarjo pada saat saya menghelat tasyakuran wisuda secara patungan bersama kawan-kawan yang lain. Diantara pesan yang sangat saya ingat dari beliau waktu itu adalah mengenai momentum wisuda itu sendiri.

Menurut beliau, orang yang diwisuda itu laksana orang yang menjadi pengantin baru. Awal-awalnya saja merasa senang namun beberapa saat kemudian mulai tampaklah kebingungan-kebingungan pada diri mereka atas gelar sarjana yang disandang.

Besok harus bagaimana? Kerja dimana? Menikah dengan siapa? Dan serangkaian pertanyaan lain yang datang menghinggapi.

Dan untunglah, sejak disampaikannya pesan peringatan dari beliau atas berondongan pertanyaan semacam ini saya menjadi tidak terlalu larut dalam fobia sarjana dan bahkan justru dapat mengakrabi pertanyaan-pertanyaan demikian.

Beberapa tahun setelah lulus kuliah dan sudah bekerja, saya bertemu dengan mantan bos dari kakak saya yang kebetulan juga merupakan tetangga saya sendiri. Dalam perjumpaan itu, saya menyapa sekaligus menghampirinya yang tengah beraktivitas di kebun belakang rumah.

Ia menanyai saya seputar keluarga, pekerjaan, dan pertanyaan spontan lainnya yang lazim disampaikan oleh seorang tetangga. Saya menanggapi pertanyaannya itu dengan ringan saja tanpa menyelidik sama sekali apakah ada maksud di baliknya.

Puas menjawab beberapa pertanyaan, sesekali saya berganti melempar tanya padanya tentang usaha yang ia tekuni sekaligus untuk mengusir rasa penasaran dalam diri, apakah pandemi juga berdampak pada usahanya.

Saya begitu senang mendapat cerita-cerita inspiratif darinya tentang ragam bisnis yang telah ia canang sekaligus ia terjuni saat bisnis utamanya sedang kembang kempis akibat pandemi. Saya mencoba memandangi raut wajahnya yang ternyata tak tampak sedikitpun bayangan keluh kesah atas keadaan yang menimpanya.

Beberapa saat kemudian, sebelum saya pamit padanya, ia sempat melempar nasihat pada saya agar lebih menggemukkan badan. Saya memandang lekat-lekat kedua matanya di atas mulutnya yang mengulum senyuman. Tampak sekali fokus perhatiannya pada badan kurus saya yang katanya seperti melayang saat diterpa oleh angin.

Namun, sepertinya nasihat tetangga saya itu tak jauh beda nasibnya dengan rayuan teman kuliah saya yang gemuk tadi. Untuk yang kesekian kali ajakan untuk mengisi bobot badan itu sia-sia belaka.

Sebab sebanyak atau sesedikit apapun saya mengambil makanan, hasilnya akan tetap sama saja bagi saya. Takkan ada perubahan yang berarti pada berat badan ini yang sedari dulu sudah sangat betah nangkring di angka lima puluh tiga.

Dan daripada saya kelebihan makan dan hasilnya sama jua, maka saya pun membiasakan diri makan secukupnya, sekiranya perut ini tak sampai kenyang oleh makanan dan minuman yang merasukinya.

Bagaimana jika anggapan orang pada saya tidak lekas berubah gara-gara pola makan saya yang seperti ini?

Bagi saya itu tidak masalah, sebab tiap orang bebas menyampaikan pendapatnya, sebagaimana kita juga bebas untuk menampung atau merombaknya. Lagi pula, ini adalah hidup kita sendiri.

Tentunya kita lah yang lebih paham dengan keadaan yang melekat di badan sendiri setelah persentuhan dengannya setiap waktu. Dan bukan mereka. Perkara mereka menyumbang nasihat, itu silakan. Sebab setiap celoteh itu sebenarnya merupakan bentuk ekspresi perhatian mereka atas diri kita yang bersumber dari sudut pandang mereka.

Jadi, ya, diterima saja. Anggap saja itu semua merupakan bentuk dari kemesraan diri kita atas segala persentuhan kita dengan tingkah polah mereka.

Dan menurut saya, wasana kata yang paling tepat untuk keadaan ini adalah gendutku makmurku. Eh, maaf, kurusku makmurku. Atau, lebih jelasnya, badanku adalah urusanku sendiri. (*)