4 bulan lalu · 529 view · 9 menit baca · Filsafat 95532_12713.jpg
hollywoodreporter.com

Benarkah Pacaran itu Haram?
Ngaji Mantik Bag. 35

Hampir semua uraian tentang definisi—yang merupakan puncak dari bab tashawwurat—sudah kita uraikan dalam beberapa tulisan sebelumnya. Nah, sebagai bagian dari praktek, dalam tulisan ini, dan beberapa tulisan setelahnya, kita akan menguji ketepatan beberapa definisi dari sejumlah istilah yang selama ini kerap menjadi bahan perbincangan. 

Untuk mempermudah, kita akan mulai dengan istilah yang ringan-ringan dulu. Kita akan mulai dengan satu istilah yang cukup populer di kalangan anak muda, tapi juga sering diharam-haramkan oleh para pemuka Agama, yaitu pacaran.  

Sering kita temukan orang-orang yang berpandangan bahwa pacaran itu haram, dosa, dan dapat mengantarkan kita pada perzinahan. Yang halal itu, kata mereka, adalah ta’aruf, bukan pacaran. Tapi kalau ditanya: Apa itu pacaran? Dan apa itu ta’aruf? Mereka sendiri kadang kebingungan. Definisi yang dikemukakan kadang tidak sesuai dengan status hukum yang diberikan.

Misalnya ada orang yang mendefinisikan pacaran sebagai hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang terjalin di luar ikatan pernikahan. Karena ia terjalin di luar nikah, maka disimpulkanlah bahwa pacaran itu haram. Lalu dikutiplah sejumlah dalil untuk mengukuhkan keyakinan bahwa pacaran itu dapat menyebabkan perbuatan zina, seks bebas dan lain sebagainya.

Pertanyaanya: Apakah definisi yang dikemukakan di atas itu sudah tepat? Dan apakah dengan definisi tersebut kita bisa berkesimpulan bahwa pacaran itu haram? Kalau iya, di mana letak keharamannya? Pertanyaan seperti ini penting dijawab. Sebab, kita tidak mungkin bisa menghukumi sesuatu dengan benar kalau gambaran kita mengenai sesuatu yang hendak kita hukumi itu sendiri belum benar.

Dari sinilah pentingnya belajar ilmu mantik. Seperti yang sudah saya tegaskan berkali-kali, bahwa ilmu ini pasti akan selalu dibutuhkan, apalagi oleh ulama yang berkutat dengan dunia fatwa.

Sebelum melahirkan sebuah fatwa, tentu seorang ulama dituntut untuk mempejelas gambaran mengenai permasalahan yang akan mereka fatwakan. Kalau tidak, fatwanya menjadi cacat dan ngawur kemana-mana. Dan itu kerap kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari kita.  

Oke, terlepas dari fenomena itu, sekarang kita kembali lagi ke soal pacaran. Apa itu pacaran? Jawaban pertama sudah kita kemukakan di atas. Pacaran itu ialah hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang terjalin di luar nikah. Apakah definisi ini sudah benar? Menurut saya kurang tepat. Alasannya sebagai berikut:

Kata yang pertama kali disertakan dalam definisi tersebut ialah hubungan. Di satu sisi ini sudah tepat. Karena, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, definisi yang benar itu harus menyertakan jins di bagian awalnya. Karena jins ini berfungsi untuk menjelaskan separuh dari esensi yang didefinisikan.

Dan memang pacaran ini sejenis hubungan. Artinya, kalau mau lebih diperinci lagi, kata hubungan menjadi jins, karena dia lebih universal, dan pacaran menjadi nau’, yang terletak di bawahnya.

Lalu bagaimana dengan kata setelahnya, yakni kata cinta? Hubungan cinta. Pacaran itu adalah hubungan cinta. Kata cinta ini bisa kita posisikan sebagai fashl atau pemisah antara pacaran dengan hubungan-hubungan lain yang tidak berdasarkan rasa cinta. Hubungan Anda dengan musuh Anda, misalnya, tentu tidak didasarkan atas perasaan cinta. Karena itu ia bisa menjadi pemisah.   

Tapi penyertaan kata cinta itu sendiri tentu tidak cukup. Karena kita tahu bahwa hubungan cinta itu sendiri bukan hanya pacaran. Hubungan Anda dengan ibu Anda, atau ayah Anda, misalnya, itu juga hubungan cinta. Dan tidak mungkin hanya dengan frase hubungan cinta itu lantas kita berkesimpulan bahwa pacaran itu haram! Karena itu, harus ada fashl lain untuk memisahkan pacaran dari hubungan-hubungan cinta lainnya.

Selanjutnya, setelah kata cinta, ada frase “antara laki-laki dan perempuan”. Ini bisa juga kita posisikan sebagai fashl yang membedakan pacaran dari hubungan cinta sesama jenis. Seperti kakak beradik, misalnya, atau siapa saja yang menjalin hubungan cinta dan hubungan tersebut melibatkan dua sosok yang jenis kelaminnya sama.

Tapi ingat, frase “hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan” ini sendiri masih umum (kulliy). Karena ketika itu kita belum mampu memisahkan antara pacaran dengan hubungan-hubungan cinta laki-perempuan lainnya. Artinya, kalau definisinya berhenti sampai di sini, maka hubungan saya dengan adik perempuan saya pun bisa disebut sebagai pacaran. Karena itu, kita masih membutuhkan fashl yang lain.

Selanjutnya ada frase  “yang terjalin di luar nikah”. Pertanyaannya: Apakah ini bisa kita jadikan sebagai fashl atau pembeda antara pacaran dengan hubungan cinta yang terajut antara laki-perempuan lainnya? Menurut saya tidak. Karena toh  hubungan cinta antara kita dengan ibu, ayah, paman, bibi, dan anggota keluarga lainnya pun  itu terajut di luar nikah.

Hubungan Anda dengan teman, kakak, adik, guru, dan lain-lainnya, itu juga semuanya dilakukan di luar pernikahan. Artinya, kalau kita merujuk pada definisi di atas—dan dengan definisi tersebut kita berkesimpulan bahwa pacaran itu haram—maka konsekuensinya kita juga harus mengharamkan semua hubungan cinta antara laki-perempuan yang terjalin di luar pernikahan.

Di dalamnya ada hubungan antara anak laki-laki dengan ibunya, anak perempuan dengan ayahnya, adik perempuan dengan kakak laki-lakinya, dan apapun bentuknya, selama hubungan tersebut didasarkan pada rasa cinta, melibatkan laki-laki dan perempuan, dan terajut di luar nikah, maka hubungan itu haram. Bisakah Anda menerima kesimpulan ini? Rasanya sulit.   

Dengan demikian, ta’rif ini masih cacat karena belum bisa memberikan kejelasan antara pacaran dengan hubungan-hubungan lainnya. Kita belum bisa menemukan satu mafhum yang bisa membedakan pacaran dengan hubungan-hubungan lainnya. Satu definisi kita tolak.   

Ada lagi definisi lain yang mengartikan pacaran sebagai perbuatan yang dilarang Agama. Ini tidak kalah ngawur dari yang pertama. Kengawurannya bisa dilihat dari tiga aspek:

Pertama, definisi ini menjadikan kata perbuatan sebagai jins dari pacaran. Padahal semua anak muda tahu kalau pacaran itu tidak hanya sebatas perbuatan, tapi di sana juga ada ucapan, perasaan dan lain sebagainya.

Kedua, definisi ini masih bersifat umum, karena kita semua juga tahu bahwa perbuatan yang dilarang Agama itu bukan hanya pacaran. Mencuri, membunuh, memfitnah, berzina, mabuk-mabukkan, itu juga perbuatan yang dilarang Agama.

Padahal, ta’rif itu—seperti yang pernah kita bahas—harus mani’an; harus mampu mencegah masuknya segala sesuatu selain yang didefinisikan. Sementara ta’rif ini tidak demikian.

Ketiga, ta’rif ini mengandung unsur penghukuman. Dalam tulisan sebelumnya sudah kita jelaskan bahwa sebuah definisi yang tepat itu tidak boleh menyertakan penghukuman.

Mengapa? Karena penghukuman ini tidak mencerminkan esensi. Apalagi kalau kita sedang berdiskusi tentang hukum pacaran. Ini namanya, dalam bahasa ilmu logika, mushadarah ‘alal mathlub. Artinya kita menarik kesimpulan kedalam premis, padahal premis itulah yang seharusnya menghasilkan suatu kesimpulan.

Kita ingin berdiskusi tentang hukum pacaran, misalnya, lalu belum apa-apa Anda sudah bilang bahwa pacaran itu dilarang Agama. Nah ini jelas keliru. Harusnya kata “dilarang” itu dihilangkan. Karena dia sudah menyertakan konklusi di awal diskusi. Singkatnya, definisi kedua ini juga kita tolak.

Di luar sana saya yakin masih banyak definisi-definisi lain yang belum disebutkan. Terakhir, saya melihat wikipedia mendefisinikan pacaran sebagai: “Proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan.”

Jika definisi ini diterima, maka apa yang disebut pacaran itu tidak ada bedanya dengan ta’aruf, yang dianjurkan dalam Agama itu. Artinya, kalau Anda menerima definisi ini, pacaran itu tidak haram, tetapi halal, bahkan dianjurkan. Itulah konsekuensi dari kekeliruan dalam merangkai sebuah definisi. Dengan definisi yang berbeda, maka akan lahir pula hukum yang berbeda.

Namun, apapun bunyi definisinya, poin penting yang harus kita catat ialah: Sebelum kita melekatkan suatu hukum tertentu kepada sesuatu, kita harus jelaskan terlebih dahulu definisi yang jelas dari sesuatu yang akan kita hukum itu.

Lalu apa definisi yang tepat bagi pacaran ini? Saya ingin mengajukan definisi sebagai berikut:

Pacaran itu ialah “hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram yang diekspresikan melalui komunikasi dan kontak fisik antar keduanya.” Apakah definisi ini sudah tepat? Mari kita uji dengan kaidah yang sudah kita pelajari. 

Mafhum yang kita tangkap dari frase “hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan bisa diposisikan sebagai jins”. Mengapa? Karena dia mafhum yang bersifat universal yang berlaku bagi banyak individu yang hakikatnya berbeda-beda (lihat kembali uraian mengenai jins)

Dengan mafhum tersebut, pacaran menyatu dengan pernikahan dan apa saja yang tercakup oleh mafhum “hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan”. Saya lebih suka menggunakan kata asmara ketimbang cinta. Karena, bagi saya, pacaran itu dasarnya bukan rasa cinta, melainkan hawa nafsu. Ya, hawa nafsu.

Kalaupun ada yang dianggap sebagai rasa cinta itu hanya cinta semu dan palsu. Cinta yang sesungguhnya lebih sakral ketimbang yang dirasakan oleh para remaja itu. Mungkin kata asmara lebih tepat untuk menerjemahkan perasaan itu, ketimbang kata cinta.

Kemudian ada frase “yang bukan mahram”. Mengapa kita harus menyertakan kata ini? Jawabannya karena dia berfungsi untuk membedakan antara pacaran dengan hubungan asmara laki-perempuan lainnya yang terajut dalam ikatan pernikahan atau ikatan persaudaraan. Artinya dia bisa kita posisikan sebagai fashl.

Tapi apakah definisinya hanya berhenti sampai di situ? Kalau Anda berkata iya, maka pacaran belum bisa diharamkan. Mengapa? Karena di sana tidak ada unsur keharamannya.

Sekarang coba Anda perhatikan definisi tersebut secara seksama. Pacaran itu adalah hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Titik. Apakah bisa saya mengharamkan hubungan itu? Kalau Anda berkata iya, di mana unsur keharamannya? Tidak ada. 

Artinya begini. Kalau suatu saat nanti saya menyatakan rasa suka saya kepada Nissa Sabyan, kemudian Nissa Sabyan mengutarakan perasaan yang sama, lalu terjalinlah hubungan asmara di antara kita. Saya di Kairo, Nissa Sabyan di Indonesia. Tidak pernah ada komunikasi, tidak pernah ada perjumpaan fisik, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Pertanyaannya: Apakah bisa hubungan tersebut dikategorikan sebagai pacaran? Dan apakah bisa hubungan saya dengan Nissa Sabyan itu dikategorikan sebagai hubungan yang haram? Tentu saja tidak. Kalau iya, di mana letak keharamannya? Tidak ada. Kalaupun itu dikatakan sebagai pacaran, itu pacaran yang halal. Dan hampir tidak ada bedanya dengan istilah ta’aruf itu.

Nah, karena itu, kita masih membutuhkan fashl lain untuk lebih memperjelas lagi esensi dari pacaran ini. Rangkaian kalimat selanjutnya menjelaskan hal itu. Bahwa pacaran itu tidak hanya sekedar hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tapi hubungan tersebut juga diekspresikan melalui komunikasi dan kontak fisik.

Artinya, komunikasi dan kontak fisik ini menjadi fashl kedua—atau sebagian logikawan menyebutnya dengan istilah qaid, ketika dalam satu definisi ditemukan lebih dari satu pembeda—yang membedakan pacaran dengan hubungan asmara laki-perempuan bukan mahram yang tidak disertai komunikasi dan kontak fisik.

Dengan menyertakan fashl kedua ini, maka hubungan asmara antara laki-perempuan di luar nikah yang tak disertai dengan komunikasi dan kontak fisik, tidak bisa disebut sebagai pacaran. Dan ketika itu hukum yang diberlakukan pun menjadi berbeda.

Tentu Anda boleh setuju atau tidak dengan definisi ini. Kalau Anda belum setuju dengan definisi ini, maka sebaiknya kita tidak berdebat tentang hukum pacaran terlebih dahulu.

Karena bagaimana mungkin kita akan melekatkan suatu hukum tertentu bagi sesuatu sementara kita sendiri belum bersepakat tentang definisi dari sesuatu yang hendak kita hukum itu.

Perdebatan yang terarah itu harusnya seperti itu. Kita persamakan dulu tafsiran kita tentang definisi dari istilah yang akan perdebatkan, setelah itu baru kita beralih ke persoalan lain.

Dengan definisi seperti tadi, kita bisa saja berpandangan bahwa pacaran itu haram. Karena jelas di sana ada unsur yang terlarang dalam Agama. Meskipun dosa pacaran itu tak bisa dipersis-samakan dengan dosa perzinahan yang sesungguhnya. 

Tapi bagaimana kalau ada orang yang mengukumi pacaran dengan hukum yang berbeda, dengan merujuk pada definisi yang berbeda pula? Itu terserah yang bersangkutan. Asalkan definisi itu didasarkan pada kaidah yang benar. Dan dari definisi yang berbeda tentu akan lahir suatu hukum dan kesimpulan yang juga berbeda.

Jadi, kalau ada pertanyaan: Benarkah pacaran itu haram? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tergantung pada definisi pacaran yang mana yang kita jadikan sebagai rujukan. Di situlah pentingnya belajar ilmu mantik. Ini hanya sebagai contoh sederhana untuk membuktikan bahwa pembelajaran tentang definisi ini sangat penting dan akan selalu dibutuhkan dalam berbagai disiplin ilmu.

Semakin lama, kalau kita renungkan, kita akan semakin sadar bahwa apa yang disampaikan oleh al-Ghazali itu sungguh benar. Bahwa orang yang tidak memiliki wawasan tentang ilmu mantik kredebilitas keilmuannya sangat layak untuk dipertanyakan. Sekian, wallahu ‘alam.