Meminta maaf bukan sebuah proses Menghalalkan suatu perbuatan haram (selanjutnya disingkat PH) yang kita lakukan kepada orang lain di masa lalu. Yang haram tetaplah haram, yang halal tetaplah halal (Alhalalu bayyinun, wal Haramu Bayyinun). Perbuatan kita sudah dicatat oleh Malaikat Rokib dan Atid, dan itu tetap akan dipertanggung jawabkan di hari akhir nanti.

PH yang saya maksud adalah kedzaliman, kekejian, kemunkaran, kedurhakaan, kefasiqan, kekufuran, kemurtadan, kenistaan, kemunafikan dlsb.  Mengingat semua istilah tersebut berbeda pengertian, maksud, sebab dan tujuannya. Perlu sebuah diskursus untuk membahas itu semua. Pent..

Wudhu akan menghapuskan dosa kecil, taubat nashuha akan menghapuskan dosa yang besar. Namun dua instrumen itu tidak lantas merubah asal status buruk menjadi baik, syar'an au 'adatan.

PH  yang kita lakukan otomatis akan menghasilkan dosa. Dan hanya dosa lah yang bisa diampuni. Artinya PH itu tetap akan dipertanggung jawabkan, sementata dosa akan terampuni atau bahkan terhapuskan. Sebesar dan seberat apapun itu (syarat dan ketentuan berlaku, bila dosa berlanjut hubungi panitia pahala).

Ketika kita meminta maaf, apakah dosa kita terampuni atau tidak? Tergantung. Jika kita berhenti dari kesalahan dan kekhilafan, maka itu tanda bahwa dosa kita terampuni. Namun jika masih melakukan kesalahan, atau bahkan menyengaja untuk berbuat salah, artinya dosa kita belum terampuni. Jadi, ketika kita meminta maaf, apakah kita ingin menghapuskan dosa, ataukah hanga sekedar melakukan adat kebiasaan bertahniah (sebuah ucapan selamat dan permohonan maaf di hari raya) dan hanya sebatas melakukan ritual tahunan di hari raya? (jawaban ada di hati masing-masing).

Setelah kita meminta maaf atas kesalahan kita,  kita gantian untuk memaafkan kesalahan orang lain. Apakah saat itu perbuatan PH yang dilakukan orang lain kepada kita lantas akan mengubah keburukan menjadi kebaikan?

Tentu tidak, pada dasarnya saat kita mengenal orang lain. Kita memerlukan sebuah  Trust atau kepercayaan, terbentuknya sebuah mental persahabatan, dan terbangunnya hubungan emosional antar sosial. Dalam islam, hal ini disebut sebagai Ukhuwah atau bisa juga disebut Silaturrahmi. dua istilah inipun perlu diskursus untuk pembahasan secara ilmiah. Namun disederhanakan saja bahwa Ukhuwah adalah hubungan emosional, dan silaturahmi adalah suatu bentuk mental persaudaraan.

Saat kita memercayai orang lain, lalu kita dikecewakan, apa yang akan terjadi? Tentunya sikap kekecewaan itu akan mengikis bahkan menghancurkan sebuah Trust pada orang lain. Sehingga merusak ukhuwah dan silaturahmi.

Apa yang terjadi jika dua bangunan ini rusak dalam pergaulan atau sosial manusia? Tentunya akan merusak entitas Antropologi lebih jauhnya, bisa menciptakan Individualisme, intropert, diskriminatif hingga pengucilan. Dari dimensi ini akan lahir sebuah sikap firaq anil jama'ah atau dalam istilah nahwu bisa menimbulkan "Syadz". Singkatnya kita akan bercerai berai, dan itu adalah dosa Kolektif kolegial atau dosa besar yang dilakukan bersama,  (Madzanib). Maka untuk menghapuskan dosanyapun bukan dengan taubat, tapi dengan Inabah atau bahkan Awwabah.

Dosa individual akan lebih mudah untuk memperbaikinya. Jika dosa kecil, cukup dengan wudhu dan perbuatan baik yang berdasar taqwa. Jika dosa besar besar, cukup dengan melakukan syarat taubat yang lima/taubat nashuha.


Sementara dosa kolektif, untuk menghapus dosa kolektif yang tergolong kecil tidak cukup hanya dengan hal tersebut. Kita memerlukan sebuah upaya untuk merubah peradaban, atau setidaknya merubah atau memantau kebijakan ulil amri dalam rangka mengingatkan mereka untuk lebih memerhatikan etika umum atau bahkan merubah kemunkaran, dan hukumnya adalah Fardhu kifayah.

Dosa kolektif yang terkategorikan dosa besar, maka untuk menghapusnya tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Allah swt Turun tangan untuk menghapus dosa ini, Ia mengutus seorang Nabi dan Rasul kedunia untuk menyampaikan peringatan dan kabar gembira, disampaikan melalui Jibril sebagai perantara, dengan kata lain bisa disebut wahyu.

Dan sekarang, masa kerasulan dan kenabian telah di pungkas dengan Turunnya Nabi Muhammad Saw. Sehingga jika dosa besar yang bersifat kolektif ini terselenggara, maka tidak akan ada yang menghapusnya, kecuali tanda-tanda kiyamat. Yaitu munculnya Imam Mahdi dan Nabi Isa As atau orang kristen menyebutnta Yesus.

Disinilah pentingnya meminta maaf, wudhu, dan taubat nashuha. Meski tidak akan memperlambat terselenggaranya acara kiamat, setidaknya akan memperbaiki ukhuwah dan Merekonstruksi silaturahmi kembali.

Bagaimana dengan memaafkan? Mungkin kesalahan kecil dengan bangga bahkan secara cuma-cuma akan kita maafkan. Pernahkah kita didzalimi secara maksimal bahkan kita merasakan kecewa tingkat dewa hingga timbul masterplan untuk mengadakan program balas dendam? Pasti pernah, itu manusiawi. Dan bahkan di dalam fiqih-pun difasilitasi dengan aturan Qisash. Sah-sah saja, dan itu adalah opsi untuk menebus dosa di dunia dengan kontan.


Bagi orang yang di dalam hatinya lebih besar rasa Ghadhab-Nya (kemarahan Tuhan), daripada rasa 'Afwu-Nya (sifat Tuhan yang Pemaaf), maka ia akan memaafkan jika dosa tersebut di bayar impas dengan dendam. Itu manusiawi. Namun jika diserahkan dan dikembalikan kepada hukum Qishosh, itu adalah bukti 'keadilan Islam.'

Bagi orang yang di dalam hatinya seimbang antara rasa Ghadab dan Afwu-Nya sehingga sebuah dosa sebesar apapun akan diampuni setelah si pendosa meminta maaf, itu adalah tanda 'kemuliaan islam.'

Jika di dalam hatinya lebih besar 'Afwu daripada Ghadab-Nya, sehingga ia telah memaafkan dosa sebelum sipendosa meminta maaf, itu adalah tanda 'kemuliaan Iman.'

Namun jika di dalam hatinya didominasi oleh 'Afwu dan sama sekali tidak ada Rasa Ghadab-Nya, sehingga ketika ada yang berbuat dosa justru ia membalas dengan kebaikan kepada si pendosa, itulah yang disebut dengan 'Ihsan.' واالله يحب المحسنين


Selamat Hari raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Cipasung 13 Mei 2021