Researcher
3 tahun lalu · 608 view · 2 min baca menit baca · Politik demo.jpg
Mahasiswa Melakukan Aksi Turun Kejalan (Google)

Benarkah Kampus Menjadi Basis Radikalisasi?

Beberapa waktu yang lalu peneliti dari lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anas Saidi mengatakan pasca reformasi gerakan kemahasiswaan telah mengalami perubahan menjadi gerakan ideologi yang menanamkan benih radikalisasi di kalangan mahasiswa, sehingga berpotensi memecah belah bangsa. Hal ini disampaikan pada diskusi di Gedung LIPI Jakarta dengan mengambil tema “ Membedah Pola Gerakan Radikal”.

Sewaktu mahasiswa dan berkecimpung dengan dunia gerakan kemahasiswaan lewat organisasi mahasiswa, menggunakan istilah “Radikal” dimaknai dengan kebebasan berpikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya. Namun persepsi masyarakat kian terdistorsi akibat beberapa wacana dan isu.  “Radikal” dimaknai dengan gerakan pro kekerasan dan Intoleransi

Menurut saya, stigma ini melekat tidak terlepas dari isu “ Terorisme” yang umumnya melakukan gerakan-gerakan ekstrem yang mengatasnamakan agama dan bersikap intoleran tidak hanya pada penganut di luar agamanya namun pada mereka yang berasal dari agamanya sendiri karena perbedaan kelompok, maupun mahzab yang berkembang di masyarakat.

Selain itu, kampus sebagai basis intelektual membuka ruang yang lebih luas kepada mahasiswa untuk mencari jati dirinya dalam membangun pola pikir, dengan bergabung dalam berbagai organisasi mahasiswa, baik itu sifatnya umum maupun agama.

Ruang-ruang diskusi yang membahas berbagai hal juga dilakukan lewat dakwah-dakwah di mesjid atau mushola kampus, sehingga dapat dikatakan mesjid atau kampus sudah menjadi basis pergerakan radikalisasi tanpa ada kontrol yang ketat. Walaupun tidak semua hal ini dijumpai di setiap mesjid/mushola yang ada di kampus.

Isu Agama, Awal Mula Ketertarikan. Diskusi kegamaan dalam ruang lingkup organisasi kemahasiswaan memang punya daya tarik tersendiri. Agama menjadi pembahasan yang substansial di mahasiswa karena pada dasarnya, keimanan sudah tertanam dalam diri manusia sejak diciptakan atau dalam istilah agama disebut sebagai “Fitrah” dan melekat pada kehidupan sosial.

Isu agama yang pada awalnya menambah pengetahuan dan ibadah bagi individu mahasiswa kian mengubah pola gerakannya menjadi gerakan yang terbungkus dalam satu organisasi yang berbasiskan pada satu kelompok atau mahzab tertentu.

Mereka memperluas pengikutnya dengan menanamkan ideologi dan doktrin-doktrin tertentu yang memilki kecenderungan menolak azas pancasila, menganggap kelompoknya paling benar yang lain salah. Mereka juga membangun kebencian dil uar agama maupun di luar organisasinya, enggan bergaul di luar kelompoknya, menolak keberagaman dan pluralisme bangsa dan mudah mengkafirkan orang lain.

Dengan kata lain, organisasi kemahasiswaan yang berazaskan nasional kurang mendapatkan tempat lagi di kehidupan mahasiswa kampus. Jika pun ada, mahasiswa akan lebih suka masuk dalam organisasi yang merupakan organisasi sayap dari Ormas kepemudaan yang stigmanya juga menimbulkan banyak interpretasi

Membangun Ruang Dialogis. Sebagai mahasiswa, tentunya radikalisasi yang tumbuh di kampus mestinya tidak mendapatkan tempat, jika gerakan yang dibangun mengarah pada bentuk-bentuk perpecahan kesatuan bangsa. Namun demikian, organisasi yang mengarah pada basis radikalisasi kian masif dan terkadang menganggu kestabilan dalam menyikapi perubahan sosial dan politik yang ada di Indonesia.

Seyogyanya, diskusi tentang keagamaan mendapatkan kedudukan sebagai yang tertinggi dan tidak masuk dalam ruang penghakiman kepada yang lain. Dalam kajian sosiologi agama sebenarnya terdapat dua aliran dalam menempatkan agama

Yang pertama, agama sebagai institusi yang menghantar pada proses perubahan sosial, seperti contohnya dengan keberadaan kelompok terorisme “ISIS”, dan yang kedua memandang agama sebagai faktor mempercepat pertumbuhan sosial.

Maka dari itu, civitas akademika termasuk juga lintas organisasi kemahasiswaan, baik itu pada basis nasionalis mapun agama perlu menempatkan ruang dialogis dan silatuhami untuk membangun kesepahamaan dalam menerapkan butir-butir sila Pancasila dalam kehidupan kampus maupun masyarakat.

Hal ini tentunya akan lebih harmonis dalam menyikapi isu keberagaman dengan berbagai macam latar belakang organisasi kemahasiswaan.

Artikel Terkait