Seri melawan Sevilla (0-0) di ajang Liga Champions lalu kalah melawan Inter (2-1) di lanjutan Serie A yang dilanjutkan kemenangan sulit melawan Palermo (1-0), mendatangkan kritik bertubi-tubi bagi Juventus. Tim Nyonya Tua dilihat sedang dalam masalah besar menggapai target memenangkan Liga Champions dan idealnya meraih treble winner.

Massimo Mauro mengkritik Juve hanya bermodal pemain bintang namun belum punya identitas permainan yang jelas. Mantan pemain Juve itu menyebut tim asuhan Massimo Allegri harus menemukan keseimbangan di lini tengah.

Menurutnya, kemenangan melawan Palermo memang membuktikan Juve punya pertahanan kokoh. Mereka juga bisa memenangkan pertandingan ketika dibutuhkan walaupun dengan susah payah. Namun hal itu tak cukup jika bermain di Liga Champions.

Menurut Paulo Rossi, di atas kertas potensi skuad Juventus mengungguli seluruh tim. Namun mereka belum menemukan keseimbangan permainan.  Melawan Sevilla (24/9), Juve membuat banyak peluang namun gagal mengubahnya menjadi gol. Juve kehilangan kecemerlangan, begitu menurut mantan striker Juve dan top skor Piala Dunia 1982 tersebut.

Adriano Bacconi menunjukkan kelemahan besar Juventus saat melawan Inter Milan (18/9). Jurnalis Il Giorco tersebut menyebut De Boer, pelatih Inter, menekan Juve hingga ke lini pertahanannya. Juventus tampak kelabakan menghadapi tim yang ketat menekan mereka. Tiga striker Inter menekan tiga bek Juventus. Joao Mario dan Ever Banega konsisten mengeroyok Pjanic.

Calciomercatore.com mengkritik beberapa keputusan Allegri yang mengakibatkan kekalahan Juve dari Inter. Pertama, tidak memainkan Higuain sejak awal. Higuain adalah pemain bintang berharga mahal yang harusnya diturunkan pada laga-laga besar. Penggantinya, Mandzukic, dikunci mati Joao Miranda. Striker Kroasia itu bermain buruk.

Kedua, menempatkan Pjanic di depan pertahanan di belakang Sami Khedira dan Kwado Asamoah. Pjanic bermain cemerlang sebagai gelandang tengah saat melawan Sassuolo. Gelandang Bosnia tersebut mencetak satu gol dan beberapa peluang.

Diturunkan dalam posisi yang berbeda saat melawan Inter, Pjanic gagal melepaskan diri dari tekanan para gelandang tengah Inter. Mantan gelandang AS Roma tersebut kehilangan 12 dari 78 sentuhan yang dibuatnya pada pertandingan tersebut.

Ketiga, Allegri diduga meremehkan Inter dengan mengubah beberapa taktik. Kekalahan Inter 2-0 di ajang Europa League melawan Hapoel Be’er Sheva tiga hari sebelum melawan Juve, diduga membuat Allegri berpikir, sekalipun mengubah taktik, akan mudah mengalahkan Inter.

Keputusan yang terbukti salah. Selain Pjanic dan Mandzukic yang tercekik dikeroyok para pemain Inter, Paulo Dyabal pun tak berkutik setelah dijaga dengan tak kenal lelah oleh Gary Medel. Frank De Boer telah memilih taktik yang beresiko tinggi dengan cemerlang.

Sekalipun menang tipis 1-0 melawan Palermo (24/9), Allegri mengakui permainan Juve tidak mengesankan. Mantan pelatih AC Milan itu mengakui anak asuhnya membuat beberapa kesalahan teknis seperti salah penempatan posisi. Gol kemenangan berbau keberuntungan sendiri dicetak dari luar kotak penalti oleh Dani Alves.    

Dari rangkaian seri, kekalahan, kemenangan tak meyakinkan dan semua kritik atas penampilan mereka, tepatkan Juventus disebut sedang dalam masalah besar? Membandingkan performa Juve dalam enam pertandingan awal pada tiga musim terakhir dapat menjadi pertimbangan yang wajar untuk menjawabnya.

Penampilan Di Serie A

Guna mengukur performa Juventus dalam enam pertandingan awal musim ini perlu menggali data enam  penampilan awal Juve selama tiga musim terakhir. Baik dari hasil kemenangan, seri dan kalah maupun dari aspek prodiktivitas gol, penguasaan bola, akurasi umpan dan pertahanan. Data diambil sejak musim 2014/2015 karena pada musim tersebut Massimo Allegri mulai melatih Juventus.

Berikut adalah hasil menang, seri dan kalah Juve:

Musim Menang Seri Kalah
2014/2015 6 -
2015/2016 1 2 3
2016/2017 5 - 1

Berdasarkan perbandingan statistik tersebut, start awal Juventus musim ini memang tak secemerlang musim 2014/2015. Enam pertandingan awal musim 2014/2015 mereka selalu menang. Sedangkan 6 pertandingan awal musim ini mereka sudah kalah sekali.

Namun jauh lebih baik dibanding start awal mereka musim lalu. 6 pertandingan awal musim 2015/2016 mereka baru sekali meraih kemenangan. Sedangkan 6 pertandingan awal musim ini mereka menang 5 kali dan hanya kalah sekali.

Berikut adalah data produktivitas gol Juve:

Musim Gol memasukkan Peluang Akurasi tembakan
2014/2015 13 87 45%
2015/2016 6 94 31%
2016/2017 12 74 50%

Berdasarkan data tersebut, Juventus musim ini paling efisien dibanding dua musim sebelumnya. Mereka mencetak 12 gol dari 74 peluang. Akurasi tembakannya pun paling tinggi, 50%. Bandingkan dengan musim 2014/2015. Walaupun mereka mencetak 6 kemenangan berturut-turut, Juve musim itu lebih boros peluang. Dari 87 peluang mereka hanya mencetak 13 gol. Akurasi tembakannya pun 5% lebih rendah dari musim ini.

Enam pertandingan awal musim 2015/2016 memang layak disebut masa krisis. Di luar hanya sekali menang, konversi peluang dan akurasi tembakan Juve musim itu pun paling rendah. Kala itu mereka mencetak  peluang paling banyak selama tiga musim, 94.

Namun 94 peluang itu hanya mampu diubah menjadi 6 gol. Akurasi tembakan mereka pun paling rendah selama tiga musim terakhir, hanya 31%. Bandingkan dengan musim ini (50%) dan musim 2014/2015 (45

Berikut adalah data akurasi umpan dan penguasaan bola Juve:

Musim Penguasaan bola Akurasi umpan
2014/2015 56% 86%
2015/2016 54% 85%
2016/2017 53% 86%

Dari sisi akurasi umpan dan penguasaan bola tidak ada penurunan drastis. Dari musim ke musim akurasi umpan Juve cukup sempurna dan penguasaan bola relatif dominan. Rerata akurasi umpan di atas 85% dan penguasaan bola di atas 52%.

Namun jika membandingkan penguasaan bola (53%), rerata akurasi umpan (86%) dengan jumlah gol yang dibuat (12), terlihat Juventus musim ini lebih langsung dan paling efisien dibanding musim-musim sebelumnya. Tanpa terlalu banyak menguasai bola, mereka mampu mengumpan dengan tepat dan mencetak banyak gol.

Berikut adalah data pertahanan Juve selama tiga musim terakhir dalam enam pertandingan awal Serie A:

Musim Gol Kemasukkan Rerata Aksi Bertahan Rerata Memenangkan Duel
2014/2015 2 36 50%
2015/2016 7 38 49%
2016/2017 4 32 49%

Pertahanan Juventus musim ini sudah lebih baik dibanding musim lalu. Melihat jumlah kebobolan terbanyak selama tiga musim terakhir, pantas jika awal musim lalu disebut bencana bagi Juve. Namun Juve sudah kebobolan dua kali lipat musim ini (4) dibanding musim 2014/2015 (2). Kelemahan yang harus segera diperbaiki Allegri dan para pemain.

Ajang Liga Champions

Di kompetisi Eropa musim ini Juventus mengumpulkan sekali seri dan sekali menang dari dua pertandingan awal. Seri melawan juara Liga Europa musim lalu, Sevilla dan membantai Dinamo Zagreb 4-0 tengah pekan lalu. Hasil yang tidak lebih baik dari musim lalu. Musim 2015/2016 lalu, Juve langsung tancap gas dengan mengalahkan Manchester City (2-1) dan Sevilla (2-0).  

Namun start musim ini tak dapat dibilang buruk juga. Musim 2014/2015, Juve memenangkan pertandingan pertama lawan Malmo (2-0) lalu kalah melawan Atletico Madrid (1-0) pada pertandingan kedua.

Di akhir musim 2014/2015 mereka mencapai final Liga Champions. Walaupun akhirnya kalah oleh Barcelona (3-1). Bandingkan dengan musim 2015/2016 lalu. Mereka memang meraih dua kemenangan pada laga awal fase grup namun tersingkir di fase 16 besar oleh Bayern Munich.

Jadi hasil seri melawan Sevilla pada pertandingan pertama belum bisa jadi tanda masalah besar buat kampanye Juventus di Liga Champions musim ini. Terlebih mereka mampu menang telak di markas Dinamo Zagreb pada pertandingan kedua.

Bukan Bencana Besar

Seri melawan Sevilla, kalah melawan Inter dan menang susah payah melawan Palermo memang menunjukkan Juve sedang turun penampilannya. Tapi tidak tepat jika disebut sedang dalam masalah besar. Kemenangan meyakinkan melawan Dinamo Zagreb tengah pekan lalu bisa jadi momentum bangkitnya permainan tim di lapangan.

Beberapa masalah teknis memang masih perlu dibereskan. Contoh, Higuain yang ingin Dybala bermain lebih dekat dengannya. Masalah lain adalah lini pertahanan. Kebobolan empat gol yang kesemuanya berasal dari dalam kontak penalti Juve menandakan ada celah besar di lini pertahanan. Celah itu harus ditutup dengan rapat dan rapi jika tak ingin kalah akibat kebobolan banyak gol.

Sebagai juara bertahan Serie A lima musim berturut-turut dan memenangkan gelar ganda Serie A dan Copa Italia dua musim berturut-turut plus skuat mewah Juve musim ini, masuk akal jika mereka diharapkan bermain cemerlang terus menerus sampai akhir musim.

Sekali kalah, beberapa kali seri dan sekali menang dengan permainan buruk tentu segera menimbulkan kritik tajam. Kritik yang kadang berlebihan. Tekanan dalam bentuk ekspektasi  tersebut harus dikelola dengan baik oleh pelatih Massimo Allegri dan para pemain. Jika mereka tertekan dan kehilangan konsentrasi, target akhir musim bisa melayang.

Sumber: http://www.calciomercato.com/en http://www.football-italia.net/ , www.squawka.com