Mahasiswa
2 bulan lalu · 150 view · 5 min baca menit baca · Ekonomi 61871_40274.jpg
Foto: alinea.id

Benarkah Industri Kertas tidak Ramah Lingkungan?

Kertas memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Jika pada awalnya penyampaian gagasan dan informasi antar manusia hanya secara lisan, penemuan kertas merubah gaya penyebaran informasi menjadi bentuk tulis. Selain itu, penempuan mesin cetak memperbesar kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi dan membuat kertas menjadi media informasi utama. 

Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan kertas bertambah dan berubah mengikuti perkembangan zaman. Kertas mulai dikreasikan menjadi berbagai macam jenis dan digunakan untuk segala aspek kebutuhan masyarakat. Misalnya, kertas karton (corugated) yang biasa digunakan untuk bahan kardus mie instan, kertas concord yang dipakai untuk kop surat dan sertifikat, dan kertas samson kraft yang merupakan hasil daur ulang yang dibuat menjadi kemasan makanan food grade.

Besarnya kebutuhan kertas membuat pertumbuhan industri bubur kertas (pulp) dan kertas semakin bertumbuh dengan pesat. Berdasarkan data Poyry (konsultan global yang berfokus di sektor energi industri kehutanan dan infrastruktur, serta lingkungan), permintaan pulp di Asia meningkat 1.8% per tahun dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 5.7 juta MT pada tahun 2025. 

Di Indonesia, industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memberikan kontribusi yang signifikan dalam laju perkekonomian nasional. Menurut data FAO pada tahun 2013, total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2011 untuk produk pulp sebesar 1,554 juta dolar, sedangkan untuk produk kertas sebesar 3,544 juta dolar. 

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Aryan mengatakan bahwa industri pulp dan kertas Indonesia diproyeksi tumbuh 3-4% per tahun seiring peningkatan kegiatan ekspor. Aryan juga menambahkan adanya peluang industri pulp dan kertas Indonesia untuk menduduki peringkat kelima di dunia dilihat dari keunggulan kompetitif seperti letak geografis, kecepatan tumbuh pohon sebagai sumber bahan baku yang terbarukan, dan peningkatan permintaan pasar pulp dan kertas dunia.


Walaupun pertumbuhan industri memperlihatkan dampak positif dalam memberikan kontribusi terhadap devisa negara, industri pulp dan kertas justru harus menghadapi persoalan isu-isu kerusakan lingkungan di Indonesia belakangan ini. Menurut Kurniawan Sabar, Manager Kampanye Industri Ekstratif mengatakan bahwa keberadaan sektor industri pulp dan kertas berkontribusi besar dalam merusak lingkungan. 

Kurniawan memperjelas bahwa industri pulp dan kertas menyebabkan kerusakaan hutan, pencemaran udara, dan timbulnya pencemaran air sungai. Contohnya sungai Ciujung di Banten yang semula merupakan harta sosial dan budaya Indonesia, perlahan-lahan beralih menjadi pembuangan limbah sungai. Isu-isu kerusakaan lingkungan terus menerpa dan menimbulkan sebuah pertanyaan besar, benarkah industri pulp dan kertas merusak lingkungan?

Selama ini banyak orang yang beranggapan bahwa industri pulp dan kertas adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia yang berasal dari penebangan kayu di hutan alam atau Hutan Tanaman Industri (HTI). Namun, hasil penelitian sebuah lembaga nirlaba IVL, Institut Kajian Lingkungan Hidup Swedia, justru menemukan fakta sebaliknya. 

Dalam diskusi paparan hasil riset IVL tentang jejak karbon, Elin Eriksson, Director of Suistainable Organization, Product and Processes IVL memaparkan bahwa penyerapan karbon yang dihasilkan dari penanaman kembali pepohonan sebagai sumber bahan baku kertas jauh lebih besar dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca yang hilang saat penebangan hutan. 

IVL melakukan riset di lingkungan PT RAPP di Pekanbaru dengan elemen yang diuji diukur berdasarkan unsur-unsur yang diakui oleh CEPI (Asosiasi Perusahaan Pulp dan Kertas Eropa) selama empat tahun. Hasil riset memperlihatkan angka emisi yang dihasilkan untuk satu ton kertas mencapai 850 kilogram karbondioksida ekuivalen. Sumbangan emisi terbesar berasal dari penggunaan bahan bakar batu bara untuk ketel membuat pulp sebesar 690 kgCo2e. 

Jika dihitung sampai akhir (grave), maka angka emisi yang dihasilkan mencapai 1.800 kgCo2e. Bisa disimpulkan bahwa angka penyerapan karbon biogenik yang dihasilkan dari proses penanaman kembali hutan yang gundul akibat penebangan sebesar 5.700 kgCo2e jauh lebih besar (lebih dari tiga kali lipat) dibandingkan emisi yang terbuang.


Penanganan limbah juga merupakan salah satu isu kerusakan lingkungan yang harus dihadapi oleh industri pulp dan kertas. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemeperin, Ngakan Timur Antara mengatakan bahwa sejauh ini, sebagian industri pulp dan kertas di Indonesia telah mampu menghemat penggunaan energi fosil dengan memanfaatkan lignin kayu dari limbah produksi. 

Lignin adalah zat yang bersama-sama dengan selulosa untuk mengikat sel-sel lain dalam satu kesatuan sehingga bisa menambah kekuatan kayu untuk berdiri tegak dan kokoh. Lignin kayu yang menjadi lindi hitam mampu mensubstitusi penggunaan bahan bakar fosil dalam proses produksi pulp dan kertas sampai 87 persen. Penggunaan lindi hitam dapat menekan biaya produksi di tengah melambungnya harga minyak dan batubara tetapi juga dapat menghasilkan energi listrik yang dapat dinikmati masyarakat di sekitar kawasan industri pulp dan kertas. 

Selain itu, penggunaan lignin sebagai energi alternatif  juga membuat industri beroperasi lebih hijau dan ramah lingkungan karena energi tersebut dapat diperbaharui untuk menghasilkan energi sehingga tidak ada lagi limbah yang tersisa dan emisi karbon yang dihasilkan jauh lebih kecil daripada penggunaan minyak dan batubara.

Mengutip dari pernyataan Elin bahwa tidak ada kerusakan lingkungan akibat emisi. Tapi, perlu dicatat bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berasal dari emisi, tetapi juga berasal dari biodiversivitas dan persoalan sosial. Industri pulp dan kertas tidak sepenuhnya merusak lingkungan. 

Beberapa faktor memperlihatkan industri pulp dan kertas justru termasuk industri yang ramah lingkungan seperti faktor emisi dan limbah yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, industri pulp dan kertas, mulai dari hulu hingga hilir, adalah industri yang diakui dapat renewable dan recyclable karena bahan baku kayu merupakan sumber daya alam yang terbarukan, lahan hutan tanaman industri (HTI) yang  digunakan dapat terus dimanfaatkan berkelanjutan, dan sebagian limbah produksi kertas dapat didaur ulang hingga beberapa kali sesuai ketahanan serat kayu. 


Walaupun demikian, upaya untuk terus mengembangkan industri pulp dan kertas semakin hijau dan pro-lingkungan harus terus dijalankan. Dalam acara Simposium Internasional ke-3 tentang Efisiensi Sumber Daya dalam Teknologi Pulp dan Kertas (3rd REPTech), Ngakan mengatakan bahwa pemerintah akan terus mendukung dan mendorong pengembangan teknologi berwawasan lingkungan dalam pengelolaan industri pulp dan kertas. 

“Proses produksi di industri mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucap Ngakan.

Daftar Pustaka:

Artikel Terkait