Polemik seputar kasus yang menjerat pendeta Happy Family Church (HFC) di Surabaya belum juga menunjukkan titik terang. Hujatan-hujatan yang dialamatkan netizen kepada Ketua Sinode Happy Family Church Surabaya itu masih saja deras di berbagai lini massa. 

Di antaranya yang paling getol menyerang pendeta ini adalah akun IG atas nama @PastorInStyle di instastorynya. Padahal kasusnya sendiri, sampai dengan tulisan ini dibuat, belum juga dilimpahkan polisi kepada pengadilan.

Yang menarik, pengadilan yang dilakukan publik terhadapnya itu kini tidak hanya menyangkut perilaku sang tertuduh. Beberapa di antaranya malah sudah menyasar sekolah anaknya supaya sekolah itu ikut ditutup. Juga komunitas gereja HFC ikut-ikutan diobok-obok pula.

Sebenarnya, kasus ini hanya melibatkan beberapa individu saja ataukah komunitas, sih?

Yang tak kalah menarik adalah tuduhan yang mengatakan bahwa istri sang pendeta yang juga merupakan seorang pendeta di gereja yang sama ikut memegangi pelapor saat pelapor diperkosa. Pelapor seolah sengaja menutup mata terhadap fakta sesungguhnya bahwa sejak kasus ini dibuka pelapor, sang istri bahkan berniat untuk meninggalkan terlapor karena merasa dikhianati. Shocked pastinya.

Sebab, bagaimana mungkin orang yang begitu dicintainya (terlapor) tega bermain api dengan seseorang yang sudah pula dianggapnya bagai anak kandung sendiri (pelapor)? Jadi ya, reaksi yang sangat wajar apabila beliau berniat meninggalkan suaminya. Cerai.

Namun karena dalam berkas laporan pelapor ke polisi ada pernyataan pelapor yang bilang bahwa istri terlapor ikut memegangi pelapor saat diperkosa, istri terlapor pun mengurungkan niatnya meninggalkan suaminya. Beliau mencium gelagat kurang beres pada laporan pelapor. 

Terhadap laporan pelapor yang sudah dianggapnya bagai anak kandung itu, menurutnya, perlu ditunjukkan kebenaran yang sebenar-benarnya. Makanya beliau mengurungkan niat untuk meninggalkan terlapor.

Lalu, dari mana ceritanya bahwa sang istri turut memegangi pelapor saat "diperkosa" terlapor? Janggal, bukan?

Berikutnya, kasus ini makin terasa wah dramatisnya adalah cerita yang dikembangkan sejumlah netizen yang pada intinya bilang bahwa pelapor diajak berdoa dulu sebelum pemerkosaan dilakukan. Ini juga janggal.

Apakah sebagai seorang remaja yang terdidik, dari keluarga terpandang, pelapor sama sekali tak punya rasa aneh yang timbul dalam hati untuk ditanyakan pada kedua orang tua terkasih di rumah terhadap pengalaman tersebut?

Atau, setidaknya dalam pergaulan dengan rekan-rekannya, masa iya pelapor tidak pernah bertanya-tanya ke teman-teman lainnya bagaimana mereka menjalani ritual ibadahnya bersama pendeta masing-masing?

Jangan bilang bahwa pelapor trauma dan tertekan di saat itu! Sebab bila benar trauma dan tertekan, orang tuanya ke mana, kok sampai tidak bisa melihat perilaku aneh pelapor? 

Di mana-mana, orang yang tertekan atau depresi pasti selalu menampakkan perubahan tingkah laku. Faktanya? Jangankan bertingkah aneh, pelapor bahkan akrab ria begitu dengan keluarga terlapor. Tidak itu saja, terlapor bahkan yang memberkati pertunanganan pelapor dengan calonnya.

Trauma berat kok bisa undang terus terlapor dalam berbagai event spesial hidup pelapor? Janggal!

Nah, kejanggalan demi kejanggalan inilah yang kemudian membersitkan dugaan di benak para pemerhati masalah ini secara independen bahwa kasus ini telah dimanipulasi dari fakta yang sebenarnya.

Para pemerhati independen ini mencermati bahwa di balik kisah dramatis ini mungkin saja ada fakta kejadian antara terlapor dan pelapor terjadi hubungan yang tak pantas. Namun apabila sedramatis itu kisahnya, rasanya bertentangan dengan beberapa fakta lain di kehidupan keseharian antara pelapor dengan terlapor. 

Singkat kata, dugaan pun timbul kalau ini adalah sebuah fakta kejadian yang ceritanya dikembang-kembangkan sana-sini demi mencapai tujuan tersembunyi.

Tentang hal seperti ini, Todd Rogers dan koleganya dari Harvard Kennedy School dalam sebuah penelitian menemukan bahwa mempermainkan kebenaran adalah taktik umum yang dipakai dalam menegosiasi sesuatu. Namun apa isi negosiasi atau maksud dari pengembangan berbumbu kisah faktualnya memang masih sangat tersamar.

Ada dugaan bahwa ini ada kaitannya dengan motif persaingan antargereja Kristen Protestan. Ada lagi dugaan bahwa ini terkait posisi terlapor yang merupakan seorang Ketua Sinode dari sebuah denominasi gereja dengan jemaat yang rata-rata orang kaya di Indonesia.

Sebab, bila dicermati dengan teliti, kasus pendeta HFC ini terkesan ada penyelewengan fakta yang rapi disusun.

Mana yang benar dari dugaan-dugaan itu biarlah waktu dan Tuhan saja yang tahu. Yang terpenting adalah bagaimana kasus ini berhasil dikuakkan ke publik sebagai sebuah kebenaran faktual, bukan hasil manipulasi. Sebab, bagaimanapun juga, kasus ini turut menyeret serta perasaan para jemaat yang mengenal dengan baik sosok terlapor.

Bahwa apakah terlapor benar memerkosa pelapor atau itu dilakukan secara suka sama suka, biarlah pengadilan nanti yang menunjukkannya. Pembaca bisa tengok di sini perbedaan pendapat antara kepolisian dan versi terlapor. Publik tidak perlu terkecoh oleh permainan media dan netizen yang bisa saja telah dibayar demi membentuk opini dan memuntahkannya kembali ke publik sebagai pembunuhan karakter terhadap terlapor.

Sebagai bagian dari netizen yang memilih waras dalam menalar kasus ini, saya pun tertarik mengajak pembaca Qureta sekalian untuk ikut mengawal kasus ini secara jujur. Untuk tujuan dimaksud, saya akan terus menulis, mengungkapkan berbagai kejanggalan kasus ini ke depan.

Harapan saya, pembaca Qureta sekalian tidak terjebak permainan manipulasi fakta kejadian yang diembuskan beberapa netizen dan berbagai media di luar sana. Nantikan kelanjutannya!