...Science never sleep. Your heart maybe, but science will never.

Saya sengaja menyertakan penggalan dialog pada salah satu scane film di atas. Tidak ada korelasi yang berarti dalam tulisan ini. Film itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang sangat menggilai perkembangan sains dalam semangat untuk menyelamatkan umat manusia dari kebodohan. 

Mereka memiliki semangat yang sama dalam upaya mencerdaskan kehidupan umat manusia. Hubungan mereka tumbuh di antara itu, subur dalam upaya filantropis.

Cukup mendambakan, memiliki pasangan yang secara emosional ikut tertarik pada hal-hal yang kita gemari. Kita bisa menghabiskan waktu bersama membahas dan mempersiapkan segalanya secara sederhana. Toh kegemaran kita identik, tanpa penjelasan panjang-lebar, cukup bermain semiotik, kita sudah mengerti banyak hal satu sama lain. 

Kita akan merasakan banyak hal dengan bercerita tentang segala hal di luar kita, yang “bukan tentang kita” kata Payung Teduh. Hakikat kebersamaan, jika boleh memberi istilah.

Dalam sebuah analisis sederhana, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi (1934), memberi penjelasan bahwa sifat lahiriah manusia (insan) untuk mencari dan berkumpul dengan insan lain yang serupa. 

Bukan mengeliminasi kemampuan adaptasi manusia, tetapi lebih lanjut, M.T. Mishbah Yazdi memberikan penjelasan, proses pencarian dan sampai pada kesimpulan untuk berkumpul dengan yang serupa adalah kemampuan insan yang mendahului sifat adaptasinya. Begitu menarik segala hal yang membahas makhluk fana yang satu ini.

~~~

Meski saya belum termasuk kategori seorang pemakan buku, mengoleksi buku-buku sampai bertumpuk-tumpuk adalah salah satu kegemaranku. 

Dalam sebuah tulisan, saya menjelaskan bahwa kegemaran itulah yang menjadi obat mujarab penyakit insomnia yang saya derita di masa menjadi mahasiswa dulu (Obat Tidur Itu Bernama Buku).

Itu mengapa hal sederhana yang menjadi kriteria saya dalam mencari pasangan adalah kecintaannya terhadap buku, melebihi kecintaannya pada hubungan kami. Sederhana.

Akan menjadi kebahagiaan tersendiri jika dalam romansa diselingi dengan intrik bertengkaran yang berbobot. Perihal jenis buku apa yang harus didahulukan untuk dibeli atau dibaca. 

Mendiskusikan proyeksi masa depan berbekal analisis matang para filsuf dan diskusi tentang konten buku yang baru selesai dilahap. Menghabiskan waktu bersama tidak seperti pasangan pada umumnya.

Tulisan manja ini dilatarbelakangi kenangan masa lalu. Tentang seseorang ‘di luar’ saya yang memiliki kegemaran mirip denganku; membaca, diskusi, dan mengoleksi buku. 

Dia pecandu sang sastrawan, Si Binatang Jalang Chairil Anwar. Dalam beberapa kesempatan, kami banyak mendiskusikan tentang sang panyair di sela diskusi berat tentang para tokoh filsuf Yunani kuno.

Sepanjang masa, kami selalu memiliki orang ketiga, kalau bukan Plato, Rene Descartes, diselingi Immanuel Kant atau kadang menyusup tokoh Islam sekelas Ayatullah Murtadha Muthahhari sampai Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr. Begitu jauh dan berat pembahasan.

Kadang-kadang, dalam pembahasan yang begitu jauh dan cukup berat itu, Chairil Anwar selalu kembali mencairkan suasana dengan penggalan frase mesranya “sekali berarti, sesudah itu mati”. Kalimat ini kami retas dalam metafor rasa, bahwa menyayangi sekali (sangat menyayangi), sesudah itu mati.

Kami memiliki semangat belajar yang menggebu, semangatnya tidak terlalu berbeda dengan sepasang kekasih dalam film yang diilustrasikan pada paragraf pertama di atas. 

Meski kualitasnya masih belum menyentuh tataran semangat filantropis, tetapi masing-masing dari kami berusaha berguna untuk orang lain, seminimalnya untuk satu sama lain di antara kami.

Tentu sangat wajar jika terbesit dalam pikiran untuk berlaku seperti pasangan normal dalam beberapa bagian, ‘sayangnya’ selalu saja mengalami patahan karena godaan orang ketiga. 

Para filsuf tidak memberi kami jeda untuk membuang waktu yang begitu berarti. Daripada bermalam mingguan berdua, kami lebih memilih untuk keluar mengisi diskusi atau kajian yang diadakan di tempat yang berbeda.

Berkunjung ke tempat-tempat mainstream seperti pasangan lain, bagi kami, hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Aktivitas tidak produktif itu kami ganti dengan berhadap-hadapan saling berusaha memusatkan tatapan di sela-sela teori Sigmund Freud atau kerangka logika para pengusung feminisme.

Hanya saja, jangan berpikir bahwa hubungan ini bebas dari persoalan, terlalu berlebihan dan sempurna suatu hubungan tanpa percekcokan yang wajar. 

Untuk berdamai pada pertengkaran kecil, Adam Smith menjembatani kami dengan konsep invisible hand-nya. Pertanda-pertanda sederhana yang bisa menyatukan kembali frekuensi tanpa perdebatan yang panjang. Tangan-tangan tak terlihat merangkul kami untuk kembali duduk bersila meretas persoalan.

Kami percaya, selain rasa sayang, ada hal-hal prinsip yang perlu dibangun dalam sebuah hubungan. Setidaknya, yang bisa menjadi legitimasi kuat bagi kami untuk menemukan alasan sampai berani mengurusi hidup anak orang. 

Menurutnya, hal prinsipil ini yang mengikat hubungan, menghalau rasa bosan yang datang cepat, tepat dan mematikan.

Pada bagian ini, para tokoh itu gagal mendamaikan kami. Kami yang akhirnya mnyerah pada kehadiran para orang ketiga sebagai pendamai. Frekuensi Si Binatang Jalang hilang entah kemana.

Akhirnya, dalam bagian lain buku Jagat Diri milik M.T. Mishba Yazdi tersebut, juga menjelaskan tentang sifat lahiriah manusia yang terus mengalami perubahan. 

Bahwa manusia terus melakukan upaya untuk mengevaluasi gerakan substansialnya sebagai upaya mengikuti perkembangan dimensi kehidupan. Memiliki kebiasaan dan hobi yang baru, mengganti atau mengevaluasi kegemaran yang lama sebagai bagian dari sifat adaptifnya.

Kini kami memiliki kegemaran yang berbeda, entah Chairil Anwar akan kembali hidup menjadi pendamai dan merevisi frasa dalam puisinya, atau Adam Smith kembali melakukan intervensi lewat tangan-tangan tak terlihatnya. Hanya para pecinta buku baru yang tahu.