Guru
3 tahun lalu · 424 view · 4 min baca · Budaya benar_itu_salah.jpg
Sumber foto: www.google.co.id/search

Benar itu Salah

Perjalanan kehidupan di era modernisasi saat ini menjadikan pola berpikir manusia akan terus mengalami perubahan, hal ini sejalan dengan dengan terus berkembangnya ilmu pengetahuan yang kemudian didukung oleh berbagai kajian dan temuan ilmiah akan kompleksnya fenomena sosial yang terjadi di lingkungan kehidupan sehari-hari.

Seorang Filsuf  Yunani kuno yaitu Heraclitus, dalam teori filsafatnya menyebutkan Nothing endures but changes (tidak ada sesuatu yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri). Meskipun pemikiran Heraclitus yang dikenal sebagai pemikir filsafat yang focus pada teori perubahan terhadap alam semesta, namun jika pandangannya dihubungkan dengan perkembangan pola berfikir dan fenomena sosial pada abad ke 21 ini tentu sangatlah memungkinkan untuk dipahami secara rasional.

Artinya, manusia yang dianugerahkan akal untuk berpikir, pasti akan selalu mengalami perubahan pola berpikir terhadap sesuatu. Perubahan pola pikir ini akan terus terjadi seiring dengan semakin didorong oleh keinginan untuk memperoleh “nilai” yang juga menjadi salah satu parameter dalam mencari kepuasan berpikir pada diri manusia.

Perubahan konsep berpikir yang kemudian diaplikasikan dengan aksi nyata pada diri manusia pada hakikatnya tidak terlepas dari konsep nilai. Nilai yang dimaknai sebagai sesuatu yang abstrak namun berharga akan menjadi daya dorong atau motivasi bagi manusia untuk melakukan sesuatu.

Untuk memahami secara sederhana, dalam teori filsafat pemahaman tentang konsep nilai dibedakan dalam tiga kelompok di antaranya yaitu, nilai Logika adalah nilai benar salah, nilai Estetika adalah nilai indah tidak indah dan nilai Etika/Moral adalah nilai baik buruk.

Terlepas dari subjektivitas manusia dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu, kenyataannya, terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi terhadap konsekuensi atas telaah dan penilaian manusia terhadap sesuatu. Apakah suatu nilai itu akan terus diakui dan dilestarikan sehingga menjadi sebuah peradaban, atau sebaliknya suatu nilai akan ditinggalkan dari kehidupan manusia dan hanya akan menjadi sejarah yang terlupakan. Kemungkinan-kemungkinan ini juga sangat ditentukan oleh keberadaan kelompok mayoritas.

Sampai di sini, ada hal yang menarik sekaligus menjadi problematika yang cukup memprihatinkan telah terjadi dalam kehidupan nyata kita. Betapa tidaknya ada kecenderungan berpikir diantara kita yang terlalu mudah untuk “menerima atau menolak” terhadap sesuatu baik itu pernyataan, informasi maupun keadaan yang pada dasarnya belum kita ketahui keadaan yang sebenarnya.

Sikap dan cara berfikir seperti ini adalah suatu hal yang sangat rentan dan berpeluang menyebabkan terjadinya perubahan tatanan nilai-nilai kehidupan. Sangat memungkinkan menjadikan nilai yang tertukar, karena sesuatu yang benar akan dianggap salah, sebaliknya sesuatu yang salah akan dianggap benar.

Sederhananya saya akan mencontohkan dengan ilustrasi sebagai berikut: Suatu hari ada dua orang anak muda yang sedang menunggu kehadiran tiga temannya yang masih berada diperjalanan. Mereka asyik berbicara santai sembari menikmati kopi hitam disudut meja sebuah cafe.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari kajauhan (uji coba pesawat tempur), sehingga membuat suasana sejenak menjadi hening. Satu diantara mereka (A) bertanya, “suara apakah itu?”. Dengan santai pemuda lain yang kebetulan anak dari seorang perwira TNI (B) menjawab, “itu suara uji coba pesawat tempur yang telah dijadwalkan latihan pada hari ini”.

Beberapa menit kemudian datang tiga orang temannya dan langsung menghampiri dimana posisi meja mereka menunggu. Karena merasa belum puas atas jawaban temannya (B) tersebut, kemudian anak muda tersebut (A) kembali bertanya kepada tiga orang temannya yang baru tiba, “suara apakah yang terjadi beberapa menit yang lalu?”.

Lantas semua teman-temannya yang baru saja hadir menjawab “mungkin” itu adalah suara gempa bumi. Tanpa berfikir panjang dan menganggap jawaban dari tiga temannya ini lebih meyakinkan, pemuda tersebut (A) langsung menginformasikan hal tersebut melalui media sosial maupun group pertemanan lainnya, bahwa beberapa saat yang lalu telah terjadi gempa bumi. Akibatnya informasi yang salah dengan cepat telahpun tersebar.

Melalui ilustrasi sederhana diatas, dapat kita pahami bahwa faktanya saat ini adalah segala sesuatu akan dianggap benar dan mudah diterima apabila disampaikan dan kemudian diperkuat dengan dukungan oleh kelompok mayoritas. Begitu juga sebaliknya, sesuatu yang salah akan dianggap hal yang benar ketika mendapat tempat dan dukungan oleh kelompok mayoritas.

Jika tidak segera menyikapi pola berfikir masyarakat kita yang demikian adanya, maka bukan sesuatu hal yang mustahil suatu saat nanti akan terjadi bahwa peradaban manusia yang kaya dengan nilai-nilai kebenaran akan bergeser menjadi peradaban yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Orang yang berjalan dengan berpakaian lengkap akan dianggap aneh bahkan salah, ketika berada diantara mereka yang berjalan tanpa busana alias telanjang bulat, anak muda akan di sibukkan dengan berfoto selfie, saat kebakaran hebat sedang terjadi.

Selanjutnya orang yang senang menikmati berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional akan dianggap sebagai sosok “kampungan”. Akibatnya adalah mereka harus berpura-pura “tolol” karena hidup diantara mereka yang berpura-pura “gila”, sedangkan “kewarasan” akan terus menjadi bahan “cemoohan”. Nilai kebenaran yang sesungguhnya telah sirna bahkan secara perlahan akan ditinggalkan menjadi sejarah yang terlupakan.

Untuk itu cara mencegah dan meminimalisir kekhawatiran terjadinya fenomena kehidupan seperti ini adalah dengan selalu berfikir rasional dan selalu mengedepankan ilmu pengetahuan sebagai bahan pertimbangan sebelum menerima atau menolak sesuatu. Ajarkan sikap kritis pada generasi kita terhadap suatu hal yang baru, terlebih apabila menyangkut dengan doktrin pemahaman.

Selanjutnya, manfaatkan kebebasan berserikat atau berkumpul yang telah dijamin oleh negara sebagai sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan memperkuat nilai-nilai kebenaran yang sesungguhnya.

Dengan demikian semoga secara objektif sesuatu yang benar diharapkan akan tetap dipandang sebagai suatu kebenaran dan diberikan tempat untuk terus berkembang menjadi sebuah peradaban, sedangkan sesuatu yang salah akan tetap dipandang sebagai hal yang  salah dan sebisa mungkin dapat di eliminasi dalam peradaban kemanusaiaan. Sehingga pada akhirnya manusia akan tetap berada pada posisinya di muka bumi sebagaimana qodratnya dan semakin percaya diri untuk  menyatakan bahwa “benar itu salah” adalah salah.

#LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait