Papua, pulau paling timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini ini memiliki berbagai daya tarik untuk dibahas atau dikunjungi. Ketika orang luar Papua mengunjunginya entah melalui jalur udara atau darat dan air tentu akan mendarat di daerah pusat pemerintahan atau perekonomian Papua seperti Jayapura, Manokwari, Sorong dan Wamena di daerah tersebut tentunya ramai tidak beda dengan kota- kota lain.

Suasana akan terasa berbeda ketika beralih mengunjungi pedalamannya. Sebelum lanjut ke daerah pedalaman Papua, mari kita bahas kata pedalaman agar tidak salah paham. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pedalaman ada dua arti, pertama: daerah yang terletak jauh dari Pantai, dan yang kedua: daerah terpencil yang terletak jauh dari kota dan kurang berhubungan dengan dunia luar. Kita menggunakan kata pedalaman dengan arti yang kedua untuk membahas topik ini.

Secara umum daerah pedalaman sulit dijangkau dengan jalur darat, seperti kita ketahui kalau Papua belum terhubung semua dengan jalur darat. Untuk mengunjungi pedalaman Papua ada yang bisa ditempuh dengan jalur darat melalui trans Papua tentu dengan jalur yang tidak mulus dan tidak semua kendaraan bisa melewati.

Ada juga daerah yang hanya bisa ditempuh dengan pesawat, pesawat yang digunakan berukuran kecil dengan kapasitas sembilan sampai dua belas orang (penumpang dan pilot) tergantung dari jenis pesawat. Pesawat dengan tarif reguler dan non reguler ( full flight atau carter), reguler berlaku jika memang pesawat sudah terjadwal rutin ke tujuan dengan biaya sekitar Rp 800.000,00 sampai Rp 2.000.000,00

Penerbangan full flight ini ketika tidak ada jadwal rutin ke lokasi, sehingga harus membayar penuh sejumlah kapasitas pesawat meskipun hanya dua orang, biayanya sekitar belasan juta sampai dua puluhan juta. Sistem carter, sistem ini sama seperti carter mobil bedanya tidak bisa lepas kunci dengan biaya sekitar dua puluhan juta sampai tiga puluhan juta.

Kendaraan selanjutnya untuk ke pedalaman Papua menggunakan perahu motor yang terbuat dari kayu besar dilubangi atau dicekungkan, perahu ini biasa disebut jonson biasanya berkapasitas satu ton biayanya sekitar belasan juta. Jika melalui sungai bisa membuat merinding, karena ada beberapa sungai yang ada buayanya.

Hampir setiap distrik pedalaman Papua mempunyai lebih dari satu landasan pesawat, jangan dibayangkan landasan aspal mulus. Landasan pesawat dipadatkan dengan cara ditaburi batu kali/sungai, ada sebagian kecil yang sudah diaspal.

Untuk koordinasi penerbangan pesawat menggunakan radio rig, koordinasi kedatangan serta ada tidaknya calon penumpang. Radio rig ini juga digunakan untuk komunikasi dengan daerah lain sampai luar kabupaten, sehingga semua yang mengaktifkan radio rig pada saluran yang sama akan mendengar semua isi percakapan.

Radio rig menjadi andalan alat komunikasi secara luas, maklum sebagian besar belum ada sinyal telepon seluler. Selain radio rig ada juga telepon satelit, nah biasanya ini disewakan dengan biaya Rp 50.000,00 sampai Rp 100.000,00 per menit, kalau menggunakan ini bisa berkomunikasi secara pribadi.

Listrik yang digunakan untuk radio berasal dari solar cell, inilah sumber utama listrik daerah pedalaman Papua. Jadi setiap rumah biasanya memiliki solar cell yang bisa digunakan untuk menyalakan lampu pada malam hari. Kampung yang beruntung mendapat bantuan solar cell yang bisa mencukupi kebutuhan listrik 24 jam nonstop. Ada juga kampung yang belum ada listrik sama sekali, sepi banget saat malam sehingga tidur malam lebih awal.

Sebagian besar masyarakatnya bertani yang hasilnya digunakan sendiri, dijual atau dibarter dengan barang lain. Hasil pertanian daerah pegunungan cenderung lebih bervariatif dibandingkan dataran rendah terutama sayuran. Kios atau toko tidak semua distrik ada sehingga barter masih berlaku.

Masyarakat kadang juga berburu ke hutan dengan senjata panah dan parang disertai dengan anjing pemburu. Sasaran utama babi, perburuan dilakukan siang maupun malam, kalau malam mengandalkan cahaya bulan maupun senter. Ketika mendapat babi, babi akan digendong di punggung sampai perkampungan.

Malaria belum bisa lepas dari Papua terlebih pedalaman yang masih rimbun hutannya. Dataran rendah rawan malaria, sedangkan daerah pegunungan hampir tidak ada karena dingin nyamuk tidak cocok. Sehingga kalau berkunjung harap membawa anti nyamuk.

Makanan khas Papua berupa papeda karena disini terhampar pohon sagu yang sulit dihitung jumlahnya. Meskipun banyak sagu tetapi tidak setiap hari memakannya, biasanya diselingi dengan nasi, singkong atau ubi jalar. Singkong atau ubi biasanya diolah secara khas, yaitu dikubur dengan abu yang masih panas (khusus singkong dikupas dulu).

Di pedalaman Papua jangan heran kalau menemui kampung yang tidak ada RT/RW dan jangan pula mencari warung karena hampir tidak ada. Jadi kalau berkunjung harus membawa bahan makanan sendiri terutama makanan instan serta bumbu, makanan ini bisa digunakan untuk barter maupun berbagi. Bumbu hampir tidak ada, disana bumbu utama bahkan bisa satu- satunya yaitu garam, bisa dibayangkan rasa masakannya.

Masyarakat Papua ramah terhadap pendatang, jangan takut atau ragu untuk berkunjung. Di pedalaman tidak ada penginapan, jika berkunjung bisa menginap di rumah warga tetapi kunjungi dulu kepala sukunya untuk izin dan kenalan.

Rumah adatnya honai, sekarang sudah banyak yang menggunakan rumah panggung terbuat dari kayu. Di bawah rumah panggung kadang digunakan tempat bermain babi dengan suaranya yang khas (ngrog- ngrog), babi peliharaan berkeliaran bebas (ada juga yang di kandang).

Setiap distrik paling tidak ada satu sekolah dasar, untuk SMP/ sederajat dan SMA/ sederajat belum tentu ada. Jika tidak ada SMP/ sederajat dan SMA/ sederajat maka setelah lulus SD pilihannya berhenti sekolah atau ke daerah lain ikut dengan orang tua asuh. Perjuangan banget jika ingin terus sekolah.

Jarak antar kampung jauh, kalau jalan bisa ditempuh dengan waktu satu hingga lima jam, itu masih satu distrik. Asal tahu saja kecepatan jalannya seperti lomba jalan cepat, kalau untuk pendatang bisa memakan waktu dua kali lipat dan kondisi jalannya setapak seperti jalanan mendaki gunung. Antar distrik menggunakan Pesawat, jangan heran tidak menemui kendaraan kecuali pesawat.

Jangan membayangkan kalau masyarakat pedalaman Papua kesehariannya menggunakan koteka atau rumbai- rumbai, sudah jarang banget yang memakai. Pakaian adat tersebut biasanya masih dipakai oleh kelompok tua dan digunakan ketika ada acara adat.

Jika berkunjung ke Papua hanya di daerah kota atau perkotaan saja anda belum merasakan bagaimana kehidupan masyarakat Papua kebanyakan, berkunjunglah ke pedalaman juga. Perkampungan tengah hutan, masalah pendidikan, kemiskinan, kesehatan dan fasilitas umum akan terlihat jelas di sana. Ketika berkunjung ke pedalaman Papua, orang Papua akan berkata, “Anda sudah benar- benar ke Papua.”