Kira-kira setahun yang lalu saya sempat mengalami gatal-gatal karena alergi makanan. Karena sudah beberapa hari dan sering saya garuk, maka di area seputar tangan timbul luka bekas garukan. 

Saat akhirnya saya ke dokter untuk periksa, kalimat pertama dokter itu adalah: "Kok mirip gudig ya, Mbak? Mbaknya tinggal di pondok pesantren?"

Hmm, ada dua hal yang membuat saya berpikir saat itu. Satu, itu luka karena saya garuk, kenapa dibilang kudis atau gudig? Dua, bagaimana bisa gudig dikait-kaitkan sama pondok pesantren?

Pertanyaan kesatu sudah terjawab, saya tidak gudigan. Saya memang alergi protein hewani dan tangan saya memang tidak bisa diam. Setiap terasa gatal pasti langsung saya garuk yang akhirnya jadi luka. Pertanyaan kedua masih menjadi tanda tanya besar bagi saya sampai saat ini.

Sebentar, sebelum saya bicara lebih banyak, kalian tahu kan ya apa iyu gudig atau kudis? 

Menurut Alodokter, definisi kudis adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya rasa sangat gatal di kulit, terutama pada malam hari, disertai dengan timbulnya ruam bintik-bintik menyerupai jerawat atau lepuhan kecil bersisik. Kondisi ini merupakan dampak dari adanya tungau bernama Sarcoptes Scabiei yang hidup dan bersarang di kulit. 

Jumlah tungau yang terdapat di kulit penderita kudis berkisar sepuluh sampai lima belas ekor, dan dapat berkembang biak hingga berjumlah jutaan, dan menyebar ke bagian tubuh lain, jika tidak mendapatkan penanganan tepat. Jadi tungau ini memang cepat sekali penyebarannya, termasuk menular ke orang lain. Bisa lewat kontak fisik maupun baju, sprei atau handuk yang dipakai bersama.

Sudah paham, ya? Lanjut!

Saat kelas dua SMA, sekolah saya mengadakan pesantren kilat di bulan Ramadan. Dilaksanakan di pondok pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Saya dan teman-teman tinggal di sana kurang lebih satu minggu. 

Yang saya lihat adalah lingkungan yang bersih, asri dan karena memang jauh dari ingar bingar kota tentu saja udaranya masih segar. Air yang saya dan teman-teman gunakan untuk mandi pun bersih, kamar mandi yang tidak jorok juga kamar-kamar asrama yang kasur dan bantalnya tidak bau.

Saya juga pernah mengunjungi sepupu saya yang mondok di salah satu pondok pesantren daerah Malang. Sama seperti yang saya temukan di Peterongan, lingkungannya amat sangat menyenangkan. 

Saya juga dengar dari sepupu saya bahwa pakaian mereka, termasuk sprei dan sarung bantal bisa diikutkan ke laundry yang dikelola oleh pondok. Jadi ya tentu saja lebih terjamin kebersihannya. Sepupu saya juga tidak pernah kena gudig atau kudis tuh.

Lalu dari mana ya pemikiran itu berasal? Saya coba menanyakan hal ini ke seorang teman yang sejak kecil mondok di Lamongan.

"Mas, kenapa ya gudig itu identik sama anak pondokan?"

"Lha ya emang gitu, di pondok sering banget pada kena gudig."

"Masa? Yang aku lihat pondok-pondok itu bersih kok."

"Kamu lihatnya yang di mana? Coba cek pondok yang di kampung-kampung itu lho!"

"Beda, ya?"

"Ya iyalah. Sampai ada istilah 'Belum jadi santri kalau belum pernah gudigan' itu menurutmu dari mana?"

"Weh."

Dan saya pun mulai mengamati beberapa pondok pesantren yang letaknya tak jauh dari rumah. Ya, rumah saya memang masih termasuk wilayah perkampungan. Sidoarjo coret. Jadi ada beberapa pondok pesantren di dekat sini. Sampai akhirnya saya bisa mengambil beberapa kesimpulan tentang mengapa gudig bisa jadi identik dengan kehidupan pondok pesantren.

Pertama, pondok pesantren di kampung memang kurang memperhatikan masalah detil kebersihan. Entah karena kurang peduli atau disebabkan terbatasnya tenaga perorangan untuk membantu menjaga aspek ini. 

Anak-anak pondok dibiarkan mencuci sendiri baju dan perlengkapan mereka dengan dalih untuk mengajarkan kemandirian, padahal yang mereka cuci itu belum tentu jadinya bersih. 

Terkadang mungkin karena malas jadinya dicuci dengan asal-asalan saja, dan tentunya masih banyak kuman yang tertinggal. Belum lagi saat proses menjemur juga setelahnya, baju yang asal kering, tidak disetrika juga dilipat dan diletakkan asal-asalan juga bisa memacu hadirnya tungau atau jamur.

Kedua, bukan hanya kebersihan para santri yang kurang diperhatikan tapi juga kebersihan sarana dan prasarana yang ada di pondok pesantren. Mulai dari bantal atau kasur yang umurnya sudah tahunan tanpa pernah dijemur atau diganti, kondisi kamar yang lembab, sprei dan sarung bantal yang tidak rutin diganti setiap minggunya, sampai ke kamar mandi dan saluran air. Padahal kita tahu yang namanya tungau kudis atau gudig itu gampang menular dan menyebar.

Ketiga, kurangnya pemeriksaan medis pada para santri yang harusnya dijadwalkan oleh pengelola pondok pesantren. Juga masih abu-abu ya alasannya. Entah memang tidak dijadwalkan karena kurang peduli atau karena kurangnya budget untuk mengadakan pelayanan ini. 

Sehingga bila ada satu santri pondok yang terkena gudig maka besar kemungkinan akan langsung menulari dengan cepat ke teman-teman santrinya karena tidak segera diobati dan ditangani dengan baik.

Inti dari semuanya mungkin kembali lagi ke masalah finansial pondok pesantren di daerah kampung yang masih sangat minim. Tidak seperti pondok pesantren di kota besar yang memang bernaung di sebuah yayasan besar dan punya donatur tetap, pondok pesantren di kampung kebanyakan hanya mengandalkan donasi yang seadanya dari para penyumbang dana. 

Mau minta dana tambahan dari para santri? Jelas tidak mungkin dengan kondisi perekonomian masyarakat kampung yang juga tidak merata. Jadi jangan harap ada layanan laundry, ada tenaga kebersihan yang memadai apalagi tenaga medis khusus.

Reality bites.

Miris, tapi ya itulah realitas. Saya mencoba bertanya lagi pada sahabatnya saya itu,

"Mas, para santri itu betah juga ya kena gudig begitu?"

"Lho, bagi para santri terkena gudig tu termasuk salah satu cara untuk menguji kesabaran. Sekuat apa mereka bertahan dalam kondisi gatal, sakit, tapi jauh dari keluarga. Bagaimana tegarnya mereka mengatasi masalah sendiri tanpa bantuan orang lain."

"Tapi kan kalau menulari ke orang lain bisa runyam."

"Ya itu cobaan juga, cobaan berjamaah."

"Dengkulmu!"

Semoga apa yang dibilang sahabat saya itu cuma bercandaan ya, karena masalah kesehatan seperti ini seharusnya kan memang ditangani lebih serius. Agar tak ada lagi slogan 'Belum jadi santri kalau belum gudigan'.