Sebulan yang lalu, tepat hari ini, 13 Januari 2020, aku mengikuti Short Course, Sekolah Maarif (SKK-ASM) periode III, 13 sampai dengan 19 Desember 2019. 

Maarif Institute telah berkomitmen menyelenggarakan pelatihan ini tiap tahunnya. Salah satu tujuannya adalah kaderisasi intelektual dan menyosialisasikan buya Ahmad Syafii Maarif (ASM) tentang isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. 

Ketika aku mengikuti seleksi ini kemarin, November 2019, aku melewati seleksi beberapa tahap. Pertama, pendaftaran online mulai 10 Oktober sampai 10 November. Kemudian, seleksi makalah selama November.

Aku lolos tahap pertama, yaitu seleksi makalah. Makalah pertama adalah makalah wajib, yaitu menulis tentang pemikiran Buya Syafii, dan makalah pilihan, yaitu menulis sesuai tema yang telah ditetapkan seperti hak-hak perempuan, HAM, budaya, Islam, Pancasila, dan lain sebagainya. Tahap kedua adalah wawancara dan presentasi makalah.

Rasanya, pelatihan ini seperti "mantan" terbaik yang tidak bisa hilang, berlalu dari pikiran dan perasaan begitu saja. Aku masih rindu plus kangen. Aku belum bisa move on dari segala sesuatu yang berhubungan dengan ini, MAARIF. Mulai dari media sosial (medsos), buku-buku, sampai gaya hidup. 

Dari Media Sosial, Buku-buku, sampai Gaya Hidup, yang Maarif Bgt.

Dari medsos, WhatsApp (WA), grup Alumni SKK-ASM III 2019, masih ramai. Grup ini tidak berhenti "berbunyi" semenjak grup ini bernama; Calon Peserta SKK-ASM III, Peserta SKK-ASM III, sampai pada Alumni SKK-ASM III.

Aku ditambahkan di grup oleh bapak Shofan, ketua riset di Maarif Institute. Beliau merupakan koordinator kegiatan SKK-ASM yang bagi kami adalah kepala sekolah kami di sekolah Maarif. 

Di grup, ketika kami terpilih sebanyak 25 orang, berkoordinasi sebelum pelatihan begitu ramai. Mulai dari perkenalan singkat; nama, asal kampus, dan asal daerah. Kemudian kami yang lolos seleksi makalah, diundang tes wawancara, dan presentasi makalah yang harinya berdekatan dengan jadwal kursus ini. 

Kami lagi-lagi mengonfirmasi kedatangan. Kebayang, kan? Menyatukan 25 orang peserta perwakilan hampir dari seluruh Indonesia. Ada yang dari Papua, Bima, Makassar, Manado, Mamuju, Samarinda, Jogja, Salatiga, Pati, Jakarta, Garut, Banten, Padang, Lampung, Purwokerto, Ngawi, Sragen, sampai Madura. Kami membicarakan masalah transportasi tiket pesawat, dan kereta api yang meramaikan grup. 

Terus, kami juga diminta memberikan ukuran baju; S, M, L, XL, XXL. Rupanya yang lolos tahap seleksi wawancara akan diberikan kaos atau t-shirt. 

Bukan cuma itu, salah seorang panitia urusan persuratan, kang Supriadi, yang mengurus "kertas-kertas elektronik" menyediakan soft file, surat ijin, surat tugas bagi peserta yang menginginkannya. Selain itu, rundown, dan TOR pelatihan tersedia dan sudah terbentuk dengan "matang". 

Ketika kami akhirnya ke Jakarta, grup WA Maarif semakin heboh tentang kedatangan teman-teman yang terbagi dua kelompok grup wawancara, hari pertama dan kedua. Mbak Henny yang bendahara mengurus masalah penginapan kami, akomodasi di hotel di dekat kantor Maarif Institute selama beberapa hari sebelum kami yang akan diterima akan dikarantina di Depok.

Dan ketika kami terpilih, grup ramai oleh file materi-materi dari pemateri keren yang mengisi, memberikan ilmunya di pelatihan ini. Materi tersebut berasal dari; Prof. Amin Abdullah, Prof. Musdah Mulia, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Sukron Kamil, Dr. Ruhaini Dzuhayatin, Budhy Munawar Rachman, Romo Haryatmoko, dan lain sebagainya. 

File-file buku Buya ASM, SKK ASM periode I dan II, dibagikan di sini. Buku yang lain juga ada dan dibagikan di grup ini.

Beberapa teman yang menyukai dan berkiprah di dunia penulisan, mengirimkan tulisan-tulisan mereka ke grup dari berbagai platform yang berbeda. Baik dari tingkat lokal maupun nasional. Semuanya berbicara tentang kegiatan Maarif, pemikiran Buya Maarif dan beberapa kolaborasi pemikiran Buya itu sendiri dan pemateri-pemateri yang telah mengisi pelatihan di sekolah Maarif. 

Dan yang paling ramai di grup adalah posting foto-foto kegiatan selama kami "bermaarif". Kami juga selalu saling mengomentari postingan mulai dari yang mencari sandalnya sampai ketika kelas di mulai atau waktu makan telah tiba pada panggil-memanggil. 

Sampai saat ini, setelah menjadi alumni sekolah Maarif, grup masih ramai. Sekolah Maarif masih terasa hangatnya. Teman-teman masih suka saling mengirim kabar berita, informasi, tulisan-tulisan mereka di berbagai tempat penulisan. 

Aku pun mulai punya banyak sahabat, sahabat baru, namun seperti sudah lama saling mengenal. Teman-teman alumni mbak dan mas, yang cantik dan ganteng, yang pintar dan keren. Kami saling menyapa di WA, menyimpan nomor masing-masing, saling mengikuti di Facebook (FB), dan Instagram (IG). 

Posting diriku dan sebagian dari mereka di status WA biasanya adalah kata-kata Buya Maarif yang telah dibagikan di grup. Kata-kata yang memberikan pencerahan bagi kehidupan. Atau juga kegiatan yang akan diselenggarakan Maarif Institute, Maarif Award. 

Dari status-status mereka yang lain, kami saling mengetahui kegiatan mereka masing-masing di tempat asal. Ada yang lagi; menyusun proposal penyelesaian S2, dan S3. Ada yang lagi membuat jurnal. Ada yang lagi mengajar. Ada yang lagi roadshow menjadi pembicara. Ada yang lagi tenang melukis. Ada yang lagi dan sudah membuat buku. Ada yang sibuk buat pelatihan. Ada yang turun ke desa. Sampai yang reunian di Jogja, dan lain sebagainya.

Beberapa dari kami juga masih sibuk berburu buku-buku Buya ASM untuk menunjang makalah kami tentang pemikiran Buya ASM. Juga buku-buku lain untuk makalah pilihan kami. Aku dan beberapa teman masih selalu berdiskusi lewat chat pribadi, japri. Kami membicarakan tentang makalah kami yang akan deadline Februari, 2020.

Namun, yang paling penting, kami telah "bergaya hidup" Maarif. Bukan karena kami mencantumkan jika identitas kami sebagai alumni Maarif III yang bukanlah sebagai sesuatu yang harus disombongkan namun "dibanggakan" dalam arti menghargai diri pribadi yang telah belajar dari "Maarif".

Ada "beban moral", beban yang harusnya selalu terbawa ketika telah mengetahui sedikit pemikiran Buya Syafii yang egaliter, non-diskriminatif, toleran, dan inklusif seperti prinsip Maarif Insitute. 

Berkah Maarif

Kata bapak Shofan, semua akan mendapat berkah dari Maarif. Benar, pulang dari sekolah Maarif, kami mendapat materi dan non-materi. Barang bawaan kami bertambah, dengan berbagai materi. Kami mendapat tas, baju kaos, buku-buku, dan uang saku. 

Non-materinya yang paling penting adalah persahabatan dengan teman-teman alumni sekolah Maarif (SKK-ASM) III, dan kenangan selama bermaarif. Dan yang paling tidak terukur adalah ilmu dari sekolah Maarif itu sendiri, baik dari pemateri, dan Buya ASM secara tidak langsung melalui buku-bukunya. 

Sehingga, beberapa dari kami yang belum pernah bertemu Buya Syafii ingin janjian di Jogja untuk bertemu Buya ASM secara langsung. Setelah makalah selesai. Semoga, itu bisa terjadi nanti. Amin.