"Seluruh hidup Profesor hanya berkisar pada satu ide: perlawanan," demikian Tokyo alias Silena Oliviera dalam film seri berbahasa Soanyol "La Casa de Papel" aka "Money Heist" (2017) menggambarkan pimpinannya.

Kakeknya Profesor adalah anggota militan kontra pemerintah fasis Italia. Ia mati dalam perjuangan. Adapun ayahnya profesor adalah seorang perampok yang mati dalam misinya merampok pabrik percetakan uang.

Karena itu, misi merampok atau lebih tepatnya membajak pabrik uang adalah misi yang sangat personal bagi Profesor alias Sergio Marquina (diperankan Alvaro Morte), melihat masa lalu ayahnya. Juga untuk mengobati pengalaman traumatis dengan otoritas pemerintah, melihat masa lalu kakeknya. 

Nyaris separuh hidup Profesor dihabiskan untuk menyiapkan upaya itu, sampai ke detail terkecil. Ia adalah otak utama bagi aksi yang kemudian disebut sebagai aksi perampokan terbesar sepanjang sejarah.

Tapi bukan hal personal dirinya yang ditanamkan profesor kepada anggota geng lainnya. Ia selalu menekankan kepada anggota gengnya bahkan kepada masyarakat dan media bahwa upaya membajak pabrik uang adalah sebagai bentuk perlawanan, bukan kejahatan belaka.

Meski Tokyo dan anggota geng lainnya tidak naif meyakini tindakan mereka membajak pabrik uang Spanyol lalu mencetak nyaris satu miliar UERO adalah tindakan sama sekali bukan kejahatan, tapi setidaknya mereka memiliki nilai idealis selain mendapatkan uang.

Bahwa mereka tidak merampok uang siapa-siapa, tapi mencetak uang dari pabrik uang yang mereka bajak, yang biasanya kegiatan mencetak uang, menurut Profesor, diperuntukkan untuk biaya kredit perusahaan-perusahaan besar atau untuk menalangi perbankan yang macet demi dalih menyelamatkan krisis moneter, dsb., yang pada intinya uang itu tidak mengalir langsung ke masyarakat. Jadi mereka tidak mengambil uang masyarakat, tapi sebagai upaya perlawanan kepada sistem pemerintah yang korup.

Karena dikondisikan bukan tindakan kejahatan, Profesor selalu menekankan kepada anggotanya untuk jangan sampai ada korban dalam upaya itu. Mereka punya kebutuhan agar media dan masyarakat satu pandangan dengan mereka bahwa tindakan mereka adalah bukan kejahatan, tapi perlawanan.

Dan memang, film seri karya Alex Pina (produser, penulis cerita, dan sutradara) ini berupaya dan berhasil membuat penonton percaya bahwa aksi mereka adalah aksi perlawanan sehingga penonton mantap berpihak pada Profesor, dkk. daripada kepada otoritas pemerintah yang berupaya menggagalkan upaya perampokan, pembajakan pabrik uang, dan penyanderaan itu.

Bukan hanya ide perlawanan pada otoritas korup saja yang membuat penonton berpihak pada aksi perampokan. Juga karena keberhasilan Alex Pina dan para aktris dan aktor membangun karakter-karakter geng rampok. 

Masing-masing karakter dibangun sama kuatnya dengan bagaimana alur cerita dibangun dengan penuh kejutan dan drama yang berhasil memancing emosi penonton untuk tertawa, gemas, deg-degan, melankolis, bahagia hingga menangis.

Nairobi

Misalnya, bagaimana Alex Pina membangun karakter Nairobi, bukan karakter utama.

Nairobi alias Agata Jimenez diceritakan membawa anaknya, Axel (3 tahun), ke taman. Di taman, tangan mungil Axel mendekap boneka teddy bear biru besar pemberian ibunya. Tapi Nairobi tidak benar-benar ingin menyenangkan anaknya dengan berjalan-jalan di taman dan juga dia tidak benar-benar memberikan Axel boneka itu sebagai hadiah untuknya.

Nairobi memanfaatkan anaknya sebagai pengalihan dan boneka itu untuk menyembunyikan ekstasi dan kokain milik bandar narkoba untuk seorang pembeli. Nairobi adalah seorang kurir narkoba dan dia memanfaatkan anaknya untuk melancarkan pekerjaan kotornya.

Misinya digagalkan polisi. Ia pun dipenjara dan hak asuhnya terhadap anak kandungnya dicabut pengadilan. Dia kehilangan anaknya.

Dari semua karakter perampok dalam film seri "La Casa de Papel" atau "Money Heist" part 1 & 2, hanya Nairobi (Alba Flores) yang memiliki penyesalan yang dalam akan masa lalunya dan menjadikan upaya perampokan bersama Profesor, dkk. sebagai jalan untuk memperbaiki masa lalunya.

Dengan uang hasil rampokan, ia akan mengupayakan mengambil Axel dari orang tua asuhnya dan merawatnya sebaik mungkin. Ia ingin menciptakan kesempatan kedua untuk menjadi ibu yang sempurna bagi anaknya.

Tokyo (Úrsula Corberó) --patner perampok Nairobi-- menyebut itu adalah rencana terbaik di antara semua rencana setelah perampokan yang ia dengar dari semua rekan perampoknya. Tapi Tokyo pula yang menghancurkan mimpi itu dalam hitungan detik.

Saat upaya perampokan makin berat dan tekanan makin kuat, Tokyo, yang temperamental, lepas kontrol. Ia mengambil alih kepemimpinan perampokan dari Berlin (Pedro Alonso). Bersama Rio dan Denver, ia mendesak Berlin dengan senjata.

Nairobi meminta Tokyo berhenti bersikap bodoh dan egois yang bisa membahayakan misi dan nyawa semua anggota rampok. Mendengarnya, Tokyo makin lepas kontrol dan menghantam dada Nairobi dengan kata-kata, bahwa rencana Nairobi untuk memperbaiki kesalahannya dengan mengambil Axel dari orang tua asuhnya adalah rencana mustahil dan bodoh.

Axel sudah tidak mengenal siapa dia dan sudah hidup bahagia bersama orang tua asuhnya yang membesarkannya lebih layak daripada ibu kandungnya yang memanfaatkannya untuk membawa narkoba.

Saat suasana tegang mereda, Tokyo meminta maaf atas perkataannya. Nairobi tidak mempermasalahkannya dan ia menganggap perkataan Tokyo adalah pukulan yang menyadarkannya.

Sebagai sesama perempuan di antara 7 laki-laki anggota rampok, Nairobi dan Tokyo memiliki kedekatan tersendiri. Mereka saling menyayangi sebagaimana saudari. Beberapa kali Tokyo lepas kendali, di sana Nairobi hadir untuknya.

Pada Part III, saat Tokyo sangat merasa bersalah saat Rio alias Annibal Cortes (Miguel Herrán) tertangkap dari persembunyiannya dan membuat para anggota geng bersedia menyelamatkannya, Nairobi meyakinkannya bahwa adalah tidak salah keputusan Tokyo untuk meninggalkan Rio dari pulau persembunyiannya untuk berpesta dan menikmati kehidupan kota.

Perempuan sepertinya tak bisa dikekang. Yang harus disalahkan adalah Rio sendiri yang membekalinya telepon satelit, yang membuat keberadaan Rio dan Tokyo diketahui intelijen.

Nariobi tidak hanya sangat dekat dengan Tokyo. Helsinki dan Profesor memiliki ikatan tersendiri pada Nairobi. Semua anggota cenderung menyayanginya. Sehingga, pada Part III, saat dadanya kembali dihantam--kali ini bukan dengan kata-kata Tokyo, tapi--peluru polisi sniper, semua anggota geng dan penonton merasakan sakit.

Apalagi yang polisi sarangkan ke dalam dada Nairobi bukan hanya sebuah peluru, tapi juga kesalahan masa lalunya itu. Yang baginya, lebih merusak dadanya daripada peluru. Polisi membuat ia berada di tempat terbuka untuk bisa dibidik peluru dengan menghadirkan boneka teddy bear besar biru dan anaknya Axel. Dadanya rusak oleh peluru sekaligus oleh kenangan kesalahan besar di masa lalunya.

Rasa sakit penonton terhadap apa yang menimpa Nairobi tidak berhenti sampai di situ. Penulis skenario seperti menyiapkan "hadiah sempurna" bagi penonton rasa sakit yang sangat menyesakkan dada atas apa yang menimpa Nairobi pada Part IV.

Bukan hanya Helsinki, Tokyo, Profesor, Bogota, Palermo, Denver, Stockholm, Lisbon, Rio yang terpaku dan meraung. Bahkan dada saya lebih sakit dan sesak dari saat saya menyaksikan apa yang menimpa Glenn pada "The Walking Dead" musim 7.

Bagaimana Alex Pina membangun setiap karakter perampok seperti ia membangun karakter Nairobi di atas, membuat penonton menjadi sepenuhnya berpihak pada aksi Profesor, dkk. dan menjadi makin mantap diyakinkan oleh film produksi Netflix ini bahwa aksi mereka bukanlah perampokan belaka, tapi perlawanan. 

Bella Ciao

"Bella Ciao"--sebuah lagu perlawanan masyarakat Italia melawan rezim fasis pada masa lalu--dipilih Profesor menjadi lagu penyemangat geng rampoknya.

Pada Season 1 part 1, lagu itu dua kali dinyanyikan secara dramatis. Pertama, pada episode 11, saat Moscow di dalam brankas uang Pabrik Uang, ujung linggisnya menyentuh tanah, untuk membuat tembusan terowongan. Moscow alias Agustin Ramos bersama anggota geng lainnya: Berlin, Tokyo, Denver, Nairobi dan Helsinki, merayakan itu dengan menari dan menyanyikan lagu "Bella Ciao" dengan riang gembira.

Kedua, pada episode terakhir Season 1 part 1, saat malam terakhir sebelum menjalankan misi perampokan, Profesor bersama Berlin alias Andrés de Fonollosa Gonzalves, menyanyikan lagu "Bella Ciao" secara emosional, untuk menegaskan kepada penonton bahwa upaya mereka adalah perlawanan.

Lagu "Bella Ciao"--seiring populernya film seri "La Casa de Papel" di seluruh dunia--di dunia nyata menjadi begitu populer dan dinyanyikan pada aksi-aksi protes dan demo 2 tahun terakhir, di beberapa negara Eropa dan terutama di negara-negara Amerika Latin. Juga dinyanyikan para refugee yang berhasil mendarat setelah berhari-hari terapung di lautan.

Selain lagu "Bella Ciao", film "La Casa de Papel" juga memopulerkan topeng Dali dan jumpsuits merah--yang dipakai dalam aksi rampok--sebagai simbol perlawanan. Sebagaimana "Bella Ciao", topeng Dali dan kostum terusan merah juga mewarnai aksi-aksi protes di belahan Bumi, dari Benua Amerika, Asia hingga Eropa. Dari Lebanon, Tunisa, Arab Saudi, Pakistan, Yunani, Prancis, Italia, Hongkong, dan terutama negara-negara Amerika Latin.

Tapi juga, sialnya, topeng Dali dan jumpsuits merah dipakai dalam beberapa aksi perampokan di dunia nyata.