Dari kejauhan, terdengar suara seekor kuda berderap kian mendekat. Seekor kuda stallion berwarna hitam, yang dikendalikan dengan sangat teliti oleh sang penunggangnya. Seorang laki-laki muda dengan beberapa perbekalan dan mantel berkuda yang turut dikenakan. Ia tampak tenang, mengendalikan Bruno—sang kuda tunggangan yang telah tumbuh bersamanya dengan laju selayak seorang kesatria.

Douglas, pemuda yang kini tengah mengembara ke arah utara kota Norwich daratan Inggris. Ia adalah seorang anak peternak lebah, di sebuah desa yang kini ditinggalkannnya untuk sementara. Douglas kecil, lebih menggemari bermain bersama kumpulan lebah-lebah yang berada di kebun belakang milik orang tuanya. Hingga terkadang, sang Ayah kerap mengajari bagaimana cara mengolah madu ataupun mencari sarang lebah liar di hutan selatan kota tersebut.

“Ayah, apakah kelak aku akan menjadi seorang peternak lebah seperti dirimu?,” tanya Douglas kepada sang Ayah sementara matanya tak henti mengawasi, jikalau ada sarang lebah yang terlewat olehnya. Namun, sang Ayah hanya terdiam dan lantas menghentikan kedua langkah kakinya.

“Kau lihat ini, Douglas.” Sang Ayah berkata seraya menunjukkan sebuah belati berwarna perak dari dalam tas kecil miliknya.

“Ini adalah alat yang biasa aku gunakan untuk memilah dan memotong sarang madu di peternakan. Tapi, bukan berarti ia tidak bisa menjadi senjata untuk melindungi diri dari serangan hewan buas atau mungkin musuh yang datang mengganggu. Kelak, ia—belati ini akan menjadi sebuah tujuan yang akan kau tanamkan padanya. Mengenai apa yang kau yakini dari dalam hati dengan lebih bijaksana.”

Douglas yang tengah termenung, kini semakin melajukan kuda hitamnya dengan penuh keyakinan. Seperti ingatan mengenai pesan sang Ayah pada dirinya ketika itu.

***

“Berhenti!”

Terdengar suara lantang dari arah pintu gerbang kota Norwich, yang akan ia masuki. Beberapa penjaga pintu gerbang kota tersebut, tampak memeriksa pendatang yang sama ingin memasuki kota dengan suasana hijau dipenuhi dengan sungai-sungai. Sebuah kota abad pertengahan dengan seorang raja yang masyhur akan kedermawanan dan kebijaksanaannya. Namun, tak seorang rakyat pun pernah melihat kehadiran sang raja. Konon, tersiar kabar bahwa sang raja tengah berada dalam kutukan seorang penyihir. Hal yang membuat para tabib dan penyembuh lainnya tidak berani dan menolak untuk mengobati kondisi raja tersebut.

Douglas pun mulai memajukan langkah kuda miliknya dengan sekali entakan. Kemudian, para pengawal segera mempersilakannya memasuki kota kecil nan baru bagi dirinya itu. Ia sebetulnya belum yakin benar, apa yang akan ia kerjakan dalam perjalanan tak tentu arahnya tersebut. Ia hanya tahu, bahwa dirinya perlu mencari sebuah pengalaman hidup untuk menambah bekal pengetahuan dari Ayah yang telah merawatnya sedari dulu.

Kemudian, tibalah ia di sebuah penginapan kayu sederhana di pinggiran sungai Yare. Penginapan kecil yang sepertinya memang diperuntukkan bagi para pengembara, yang tetap ingin menikmati kesendirian dalam perjalanan seorang diri mereka. Morch—sebuah penginapan yang akan menjadi tempat berteduhnya, selama menghabiskan masa pengembaraan di kota berparas elok tersebut.

“Ah, sepertinya aku akan memimpikan kota Norwich malam ini.”

Douglas pun bergumam, sembari menunggu kedua mata berwarna hijaunya terlelap. Sebuah rasa kegembiraan yang akan membawanya pada pengalaman hidup tak terlupakan.

***

Lama Douglas berdiam diri di tepi sungai Yare bersama kuda gagah hitam kesayangannya itu. Hari kedua di kota Norwich, membuat ia merasa semakin gundah karena tak tahu hendak melakukan apa. Ia telah bertemu dengan beberapa penduduk dan menyapa mereka, pun berpapasan dengan orang-orang yang terkadang meminta bantuannya untuk sekadar memberikan pendapat mengenai cara berburu dengan baik. Bukan tanpa alasan Douglas dikentarai sedemikian. Lantaran, ia selalu membawa belati perak pemberian sang Ayah—terselip di samping boot hitam yang dikenakan.

Sesaat pandangannya tertuju pada sebuah kastil besar yang tampak dari seberang sungai tersebut. Istana Norwich, tempat sang raja bersembunyi dari rasa penasaran rakyatnya. Termasuk Douglas yang kini mulai mengetahui apa yang hendak ia lakukan.

***

”Izinkan aku memasuki istana!”

 “Namaku Douglas dari desa selatan.

Douglas berkata dengan lantang di depan pintu gerbang istana yang masih tampak tertutup rapat. Akhirnya, sang penasihat kerajaan membiarkan Douglas masuk dan menyampaikan maksud kedatangannya langsung kepada sang raja. Karena bagi kerajaan, mendapatkan tamu adalah kejadian luar biasa yang jarang mereka dapatkan walau dalam kurun waktu setahun penuh.

Sang raja tampak gagah, duduk di atas singgasana miliknya. Namun, ada yang janggal dari sosok sang raja. Ia memiliki suara bernada rendah dan kecil seperti seorang wanita.

“Wahai pemuda, ada kepentingan apa hingga kau jauh-jauh datang ke negeri ini?,” tanya sang raja dengan suara lembut namun tetap terdengar bijaksana.

Raja tak sembarangan membiarkan orang lain mendengarkan suara anehnya tersebut. Ia hanya mengizinkan beberapa orang kepercayaan istana untuk mendengarkan setiap titahnya. Bahkan, para pelayan dan pengawal kerajaan tak pernah sekalipun mendengar sang raja memberikan perintah langsung kepada mereka.

Namun, mendengar suara tersebut Douglas sama sekali tak merasakan khawatir. Karena baginya, tak ada yang aneh ataupun berbeda di negeri ini. Terkecuali setiap takdir yang telah tumbuh bersama pada setiap perjalanan manusia—termasuk dirinya.

“Hamba datang untuk mengetahui keadaan raja yang sesungguhnya. Hamba adalah seorang pengembara baru di negeri ini.” Douglas menjawab pertanyaan sang raja dengan penuh rasa kehati-hatian. Lalu, sang raja menawarkan Douglas untuk menyembuhkan suaranya itu. Tawaran yang serupa, seperti para pengembara lain yang pun sempat menyambangi kerajaan tersebut.

 “Kau, pergilah ke dalam hutan di sebelah timur sungai Yare. Di sana hidup seekor burung elang yang memiliki cakar berwarna emas. Ambilah untuk mengobati suaraku ini.”

Douglas pun menyanggupi permintaan sang raja tersebut dengan rasa iba, atas kedukaan kerajaan Norwich bertahun-tahun lamanya.

***

Dua hari perjalanan berlalu, hingga membuat Douglas berpikir. Bila ia mengambil cakar emas sang burung, maka sang burung elang tak akan memiliki kaki untuk menjalani hidupnya. Namun, bila ia tidak melakukannya maka pastilah ia akan dijatuhi hukuman oleh sang raja. Akhirnya, wajah sang Ayah dan perkataannya kembali melintas di hati Douglas. Ia pun yakin, bahwa manusia adalah selayak belati perak yang ia miliki. Mendapatkan semua keinginan atau menggunakan sebaik mungkin untuk menjadi pengembara sejati.

Douglas pun bergegas menunggangi stallion hitam kesayangannya. Meninggalkan hutan dan rayuan cakar emas dari kerajaan Norwich tersebut.

***

Kini, tak ada lagi rasa bimbang di dalam perjalanan yang akan ditempuhnya. Karena hidup, bukanlah lagi  perkara mengenai madu atau titah raja dari utara. Namun, sebuah pengembaraan yang akan menjadi pion-pion pengetahuan bagi dirinya.

Sebagaimana sang Ayah,

telah menitipkan sebuah belati perak di dalam lubuk hatinya.