Kehadiran novel Laskar Pelangi dalam dunia sastra Indonesia menawarkan napas baru yang penuh dengan dialog dunia anak-anak yang mengalir dan segar. Setidaknya Laskar Pelangi sanggup membawa pembacanya menelisik kembali ke dunia anak-anak.

Novel semi biografis ini menjadi pionir untuk novel sejenis yang akhirnya menyusul di belakangnya. Namun bukan teknik dalam berceritanya yang akan penulis bahas, tetapi bagaimana pesan dalam nonel ini berhasil menggugah dunia pendidikan di negara kita.

Selain kenangan akan keseruan dunia anak-anak, penulis novel ini juga mampu meletupkan semangat belajar pada pembacanya. Dunia sekolah dari daerah yang jarang disebut sebelumnya oleh kita, Bangka, berhasil menginspirasi banyak pihak bahwa pendidikan adalah hati nurani bukan semata materi,

Kisah SD muhammadiyah yang reyot, yang menurut penulisnya bagai kandang kambing, dengan jumlah murid yang hampir tak memenuhi kuota belajar sebuah kelas baru berhasil mengubah keadaan di tangan hati nurani sosok wanita yang keibuan, Ibu Muslimah.

BU, Muslimah mengajar dengan pendekatan seorang ibu. Ia mengolah hasil belajar seorang anak terbelakang dengan caranya sendiri agar kelas tetap berjalan. Harun, sosok anak dengan kebutuhan khusus itu berhasil melengkapi sebuah kelas agar tak ditutup oleh institusi yang ada.

Bagaimana perjalanan sosok bu Muslimah menggugah anak anak kampung itu agar  menjadi anak-anak yang berani untuk bermimpi meski dengan keterbatasan sarana yang ada. Kuncinya adalah menumbuhkan gairah belajar dengan selalu membuat suasana kelas yang penuh tawa dan menyenangkan.

Belajar bukan hanya hafalan di kelas namun juga sangat asyik jika dilakukan di alam terbuka sambil secara langsung berinteraksi dengan alam. Sekolah menjadi begitu menyenangkan bagi anak anak tersebut sehingga mereka akan kehilangan setiap ada salah satu yang tak hadir di kelas hari itu.

Namun setidaknya, Andrea Hirata, sepertinya hendak menyentuh perasaan pembacanya dengan menunjukkan dua ironi dalam dunia pendidikan lewat perjalanan kisah tokoh tokohnya dalam novel ini.

Pertama, adalah kegagalan seorang anak yang cerdas luar biasa dalam melanjutkan sekolahnya. Lintang seorang anak nelayan yang harus menempuh puluhan kilometer untuk bisa hadir tiap pagi di sekolah, dan sangat antusias dalam belajar pada akhirnya harus mengalah dengan keadaan. Kemiskinan.

Tak ada yang sanggup untuk membuatnya terus melaju menjemput masa depan. Meski sangat cerdas, kemiskinan telah membuatnya melupakan akan cita cita. Ia seorang anak nelayan miskin mampun membawa sekolahnya yang reyot mengalahkan dominasi sekolah favorit yang selama ini menjadi langganan juara cerdas cermat.

Lintang seumpama bintang dalam rasi Cassiopeia yang meledak dini hari ketika menyentuh atmosfer, saat orang-orang masih lelap tertidur.

Cahaya ledakannya menerangi angkasa raya, memberi terang bagi kecemerlangan fikiran tanpa seorangpun tahu. Tanpa ada yang peduli, bagai meteor pijar ia berkelana sendirian ke planet-planet pengetahuan, lalu kelupnya meredup dalam hitungan mundur dan hari ini ia padam.

Tepat empat bulan sebelum ia menyelesaikan SMP ia berhenti dan padam. Seorang teman merenungkan dengan begitu melankolis bagaimana seorang anak super jenius berhenti sekolah karena kekurangan biaya. Hari ini seekor tikus mati di lumbung padi yang melimpah ruah.

Ironi kedua, ditunjukkan dengan jelas dalam gambaran sosok Ikal. Ia sanggup melampaui keterbatasan yang ada di sekolah dengan mimpi-mimpinya. Seseorang yang tak mudah mengeluh akan keterbatasan yang menghadang di sekitarnya.

Sekolah tempatnya belajar hanyalah SD Muhammadiyah yang miskin. Penuh dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Ia memahami bahwa keberhasilan sekolah bukan diukur dari lengkapnya sarana yang dimilikinya.

Seperti yang dikatakannya, ” Hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimanapun keadaannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita tersebut mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. 

Keinginan kuat itu juga menimbulkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban – keajaiban diluar perkiraan.

Siapapun tak pernah membayangkan jika awkolah kampung, SD Muhammadiyah, yang melarat dapat mengalahkan raksasa-raksasa di meja mahoni itu, tapi keinginan yang kuat yang kami pelajari dari petuah Pak Harfan sembulan tahun yang lalu, di hari pertama kamu masuk SD, telah terbukti. Keinginan kuat telah membalikkan perkiraan siapapun sebab kami tampil sebagai juara pertama tanpa banding. Bagiku Keinginan kuat tak kalah penting dibanding cita-cita itu sendiri.”

Dari paparan kedua ironi di atas kita serasa mendapat pukulan yang lembut namun menyakitkan. Dalam konteks kekinian kita masih mendapati anak-anak seperti Lintang yang harus melepaskan mimpinya karena himpitan ekonomi. Juga mendengar alasan klasik sekolah yang tidak bisa berprestasi hanya karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Dari novel ini kita bisa membaca kembali bahwa pendidikan bukan semata-mata materi. Ada nilai -nilai yang lebih penting yaitu bagaimana menumbuhkan generasi-generasi yang berani bermimpi dan bercita-cita dengan dilandasi dengan keinginan yang kuat.