Ketika mendengar JB, maka kesan kebanyakan anak muda Indonesia akan mengarah ke seorang penyanyi terkenal di Hollywood yang penuh dengan kontroversi. Betul, JB merupakan nickname Justin Bieber, pelantun lagu Baby asal Kanada yang cukup terkenal di dunia.

Namun dalam esai ini, penulis tidak akan membahas tentang Justin Bieber. Akan tetapi, penulis ingin membahas tentang sosok JBnya Indonesia. JB yang berasal dari Indonesia bukanlah seorang penyanyi ataupun artis, melainkan adalah dua orang pemimpin bangsa yang terkenal akan keakrabannya. Nama lengkap mereka adalah Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama.

Banyak pihak merasa heran, bagaimana dua orang yang memiliki karakter yang begitu berbeda, namun bisa membentuk hubungan yang begitu solid. Jokowi memiliki karakter yang kalem, namun Basuki dianggap banyak pihak memiliki sikap yang sangatlah galak.

Apabila dipandang dari luar, pasangan JB Indonesia yang mesra ini seharusnya tidak mungkin akan bertahan dengan lama, justru akan cepat bercerai karena perbedaan karakter  yang begitu menonjol. Oops, tolong pembaca jangan berpikiran yang negatif, lupakan tonjolan Sandiaga Uno.

Melalui esai ini, penulis ingin menggunakan analogi JB (Jokowi-Basuki) untuk belajar mengenai toleransi dan intoleransi dalam kehidupan sehari-hari. Merupakan sebuah pengetahuan umum, bahwa individu-individu yang memiliki karakter yang samalah yang akan mampu membentuk sebuah hubungan persahabatan yang baik. Apabila seseorang memiliki pribadi yang lebih suka bermain diluar (extrovert), maka akan kesulitan berteman dengan seseorang yang suka bermain game di rumah (introvert).

Meskipun Jokowi-Basuki memiliki karakter yang sangat berbeda, namun dua sosok pemimpin tersebut mampu mempertahankan hubungannya dengan baik ketika menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Meskipun akhirnya pada tahun 2015, mereka harus berpisah sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Basuki masih tetap menjalanin hubungan persahabatan yang baik.

Lantas, pelajaran apakah yang bisa kita ambil dari hubungan asmara Jokowi-Basuki? Kemesraan Jokowi-Basuki mengajarkan kepada kita bahwa untuk melaksanakan sesuatu yang bermakna dan berguna bagi kita, jangan biarkan perbedaan karakter menjadi halangan bagi kita.

Kemesraan Jokowi-Basuki mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan karakter ataupun perbedaan  pendapat, asalkan dapat saling bertoleransi maka akan mampu membentuk hubungan yang mesra. Kemesraan Jokowi-Basuki mengajarkan kepada kita bahwa untuk kepentingan bersama dan kehidupan yang lebih harmonis maka sikap intoleransi yang ada pada diri kita harus dihilangkan.

Kemesraan Jokowi-Basuki megajarkan kepada kita perebedaan ras dan agama tidak akan menjadi halangan untuk membentuk hubungan yang mesra. Kemesraan Jokowi-Basuki merupakan bukti nyata filosofi Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) yang hidup dalam masyarakat Indonesia.

Bukan hanya Justin Bieber yang memiliki fans dan haters saja, Jokowi-Basuki juga memiliki fans dan haters tersendiri. Jokowi-Basuki bisa memiliki fans karena hubungan asmara mereka telah menginspirasi orang-orang untuk membentuk hubungan yang baik dan harmonis dengan melupakan perbedaan karakter, ras, suku dan agama.

Jokowi-Basuki menunjukkan bahwa hidup dengan saling bertoleransi justru lebih menyenangkan dan nyaman daripada penuh dengan intoleransi. Meskipun begitu, hubungan asmara Jokowi-Basuki juga menimbulkan kecemburuan banyak orang yang tidak mampu memiliki hubungan mesra seperti meraka. Orang-orang yang iri ini dikenal sebagai haters Jokowi-Basuki.

Sebelumnya, penulis berharap haters untuk sementara lupakan Jokowi-Basuki sebagai pejabat pemerintahan ataupun politisi. Jadikan hubungan mereka sebagai inspirasi atas toleransi perbedaan karakter, suku, ras dan agama. Penulis disini tidak berbicara mengenai politik, akan tetapi murni berbicara mengenai hubungan dua sosok populer Indonesia yang memiliki perbedaan yang begitu menonjol, akan tetapi mampu membangun hubungan yang rukun dan mesra untuk kepentingan yang lebih besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebaik apapun sebuah hubungan manusia, gesekan-gesekan tetap akan terjadi. Banyak hal yang bisa memicu gesekan-gesekan tersebut, bahkan hal yang paling sepele sekalipun bisa menjadi besar.

Di jalan raya bisa kita jumpai, pengendara motor yang kebiasaan memotong jalan, secara tidak sengaja menyinggung dengan pelan kaca spion mobil yang ada di jalan dan tidak menyebabkan goresan ataupun kerusakan pada spion mobil tersebut, apabila pengendara mobil tidak bisa mentoleransi hal tersebut maka pastinya akan berujung pada pertengkaran di jalan raya dan bisa menyebabkan gangguan arus lalu lintas.

Dalam kehidupan sekolah misalnya, terutama akhir-akhir ini sering muncul pemberitaan kasus guru dipenjara karena menampar ataupun memukul muridnya yang dipicu oleh masalah sepele, seperti murid tidak mengerjakan tugasnya, datang terlambat, dan lain-lain. Apabila pada awalnya, guru mampu menahan diri dan bertoleransi terhadap muridnya tersebut maka pastinya masalah tidak akan menjadi besar dan guru tidak perlu sampai masuk penjara.

Kemudian, bahkan ada kasus orang tua murid yang menganiaya guru karena menampar anaknya, apabila dari awal ada toleransi dari guru untuk tidak menampar muridnya dan orang tua murid juga dapat menahan diri untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap guru, akan tetapi berbicara dengan baik-baik, maka orang tua murid yang kemudian dipenjara bisa dihindari.

Tindakan intoleransi tersebut tidak hanya mengakibatkan hukuman pidana bagi guru dan orang tua murid, akan tetapi apabila pemberitaan media telah menjadi konsumsi publik, maka tentunya akan berdampak negatif terhadap pembentukan karakter murid itu sendiri.

Terdapat sebuah pepatah China yang mengatakan bahwa “persoalan besar seharusnya dianggap sepele, persoalan sepele seharunsya dianggap bukanlah masalah”, yang maksudnya apabila kita bisa saling bertoleransi terhadap persoalan yang ada maka sebesar apapun sebuah persoalan, tidak akan  dapat menyebabkan akibat yang terlalu fatal.

Jadi, semua ini tergantung bagaimana seseorang berpikir dan bertindak, apakah mau menjadi sosok  troublemaker yang intoleransi ataupun peacemaker yang penuh toleransi.

Lupakan Jokowi-Basuki sebagai politisi ataupun pejabat pemerintah untuk sejenak. Sebagai bangsa Indonesia, semestinya kita jadikan hubungan asmara Jokowi-Basuki sebagai panutan untuk hidup saling bertoleransi dan memaknai filosofi Bhinneka Tunggal Ika lebih dalam dengan tanpa membedakan perbedaan karakter, agama, ras, suku, kaya atau miskin.

#LombaEsaiKemanusiaan