Mahasiswa
3 tahun lalu · 1838 view · 3 menit baca · Pendidikan 546341203_1280x720.jpg
Foto: semiotik (vimeo.com)

Belajar Tanda dan Makna dari Jokowi

Dunia politik adalah dunia yang penuh dengan tanda. Tak jarang, tanda yang kita lihat dan kita dengar, hakikat yang ditandainya berlainan dengan apa yang kita pikirkan. Maka tak salah jika dalam berpolitik, kita dituntut untuk berhati-hati dalam memaknai setiap tanda yang dihadirkan oleh seseorang.

Mari kita ambil satu contoh prihal apa yang sedang ramai diperbincangkan di ruang publik, yaitu tentang statemen Presiden Joko Widodo (selanjunya ditulis Jokowi) yang menyerukan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk memboikot produk-produk keluaran Israel.

Dalam pidato penutupan KTT OKI yang lalu, seperti yang dilansir tempo.co (08 Maret 2016), Jokowi mengatakan, terdapat urgensi bagi OKI untuk meningkatkan dukungan terhadap Palestina melalui sejumlah langkah konkret, yaitu “penguatan tekanan terhadap Israel, termasuk boikot terhadap produk Israel yang dihasilkan di wilayah pendudukan.”

Dalam statemen Jokowi tersebut, kita akan menemukan ‘tanda’ yang menjadi sorotan publik, yaitu “boikot produk Israel”. Tentu yang ada di pikiran masyarakat luas, makna yang ada di balik tanda tersebut adalah ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tegas untuk tidak menggunakan dan membeli (impor) setiap produk yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan Israel semisal Coca Cola, Netsle, McDonald’s, Starbucks, Phillip Morris, Kurma, Jeruk Shantang dan lain sebagainya.

Tak lama berselang, penafsiran berikutnya hadir dari seseorang yang dalam kedudukannya memiliki otoritas untuk menafsirkan tanda-tanda tersebut, dan tentu penafsirannya bernilai ‘mendekati kebenaran’ ketimbang penafsiran yang dilakukan oleh masyarakat awam. Dialah Djohan Budi, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi.

Kurang lebih Johan menafsirkan statemen Jokowi sebagai berikut: “yang dimaksud itu bukan produk, bukan barang. Jadi, bukan boikot produk kayak makanan gitu, konteksnya kan boikot kebijakan, larangan Israel di Palestina.”

Jelaslah bahwa dari statemen “boikot produk Israel” menghasilkan dua pemaknaan dan penafsiran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, yaitu pertama boikot produk Israel berupa barang, dan yang kedua boikot produk Israel berupa kebijakannya.

Bagi yang ada di golongan tafsiran pertama, tentu anda akan merasa tertipu dan kecewa, karena bagaimana pun, sampai saat ini, tidak ada produk-produk barang Israel yang beredar diboikot oleh pemerintah. Bagi pemerintah sendiri, sebenarnya sah-sah saja untuk tidak memboikot produk barang Israel, dengan alasan makna yang dimaksud seperti apa yang dimaknai oleh Pak Johan yang kalem itu.

Lantas apakah Jokowi berbohong atau tidak tegas? Tentu saja tidak, karena statemen tersebut bermakna ganda.

Dalam konteks ini, saya bukan termasuk Jokowi Lovers yang secara membabi-buta mendukung setiap kebijakan yang dikeluarkannya, melainkan hanya sekedar ingin mengingatkan dan mengajak pembaca untuk lebih jeli dan teliti dalam menangkap dan memaknai setiap tanda yang dilontarkan oleh siapa pun, termasuk Jokowi.

Tentang Tanda dan Makna. Dalam kajian semiotika (ilmu tentang tanda), kita akan menjumpai sebuah proposisi yang menyatakan bahwa semuanya adalah tanda (everything is a sign; kullun âyatun). Ibn Sina misalnya, dalam kitab al-Najah halaman 236, ia menyatakan bahwa setiap yang ada tidak mungkin dapat terjelaskan dan terpahami selain daripada dengan tanda. Dari setiap tanda yang ada, pasti mengandung makna, dalam arti bahwa interaksi makna antar manusia dimediasi oleh tanda.

Lebih jauh, Charles Sanders Pierce menawarkan konsep menarik terkait dengan tanda dan makna. Dari setiap tanda yang ada, pasti terdapat tiga unsur, yaitu ground, denotatum, dan interpretant. Ground adalah dasar atau latar dari setiap tanda, ia bisa berbentuk kata ataupun bunyi. Denotatum adalah kenyataan objek dari tanda tersebut. Dan interpretant adalah penafsiran atas tanda tersebut.

Statemen “produk Israel” di atas, jika dikaitkan dengan teori triadik tawaran Pierce tersebut, mungkin saja mengandung arti: produk Israel adalah ground, kebijakan Israel adalah denotatum, dan persepsi masyarakat umum tentang pemboikotan terhadap produk barang Israel adalah interpretant.

Jadi, karena dunia ini penuh dengan tanda, supaya kita tidak banyak terkecewakan oleh seseorang—termasuk oleh Jokowi—karena banyak penafsiran kita tidak sesuai dengan kenyataan objek tanda dan harapan yang ada, mulailah berpikir secara logis, tenang dan jernih. Janganlah terburu-buru dalam mengambil keputusan. Karena sifat terburu-buru itu ‘katanya’ berasal dari setan dan menyesatkan.