Mahasiswa
2 minggu lalu · 998 view · 9 min baca · Buku 68400_48011.jpg
Medium

Belajar Seni Mencintai dari Erich Fromm

Cinta adalah tindakan keyakinan; dan siapa pun yang kecil keyakinannya, kecil juga cintanya. - Erich Fromm

Apa itu cinta? Sebagai seorang yang kerap kali “gagal” dalam urusan begini, saya coba untuk mengulas sebagian kecil dari buku besar Erich Fromm ini. Ia lahir pada 23 Maret 1900 dan wafat pada 18 Maret 1980 di umur 79 tahun. Bukunya ini sangat fenomenal, salah satu magnum opus sepanjang hidupnya dengan judul asli: The Art of Loving.

Tulisan ini hanya sebagai refleksi atas hasil bacaan dan, jika perlu, untuk jadi bahan diskusi bersama. Buku ini menurut banyak kalangan memberi sumbangsih yang amat besar dalam dunia psikologi kontemporer, terkhusus dalam pembahasan mengenai cinta. Bacalah!

Saya sudah baca beberapa kali buku ini, namun masih belum memahami secara keseluruhan. Sehingga, jika esai ini tidak memuaskan, atau ada kekeliruan, itu hal biasa. Sebagai manusia, kesalahan itu “afek aktif” dan harus dimaklumi. Namun juga harus dikritik. Kritik adalah medan pertempuran untuk memperbaiki kesalahan dan kegagalan. Begitu kira-kira.

Pertama, untuk memahami buku ini, kita perlu mengetahui pijakan mana Erich Fromm berdiri. Ia adalah seorang psikonalis Jerman dan akademisi Mazhab Frankfurt yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga Yahudi ortodoks. Ia juga sangat mengidolakan tokoh-tokoh Yahudi progresif. Menjadi pengagumnya marxisme. Sebagai psikoanalis, lingkungan sosial dan budaya sebagai dasar teorinya.

Ia sangat kritis terhadap kekuasaan. Sistem kapitalisme, ia anggap sebagai penyebab ketimpangan sosial manusia. Seperti para tokoh sosialis yang lain, bagi Fromm, kapitalisme adalah sistem yang menjijikan dan tak manusiawi. Tidak ada cinta apa pun dalam sistem ini.

Cinta dan Problem Eksistensi Manusia

Untuk itulah, dalam buku ini, pertama, apa yang ditawarkan Fromm ialah ketika berbicara soal “cinta”, kita harus berangkat dari problem eksistensi manusia. Manusia adalah mahluk yang berkepentingan atas cinta. 

Apa itu cinta? Menurut Erich Fromm, cinta adalah sikap suatu orientasi karakter yang menentukan jalinan seorang pribadi dengan dunia secara keseluruhan. Cinta adalah manifestasi kehidupan itu sendiri.

Sebagai manifestasi kehidupan, berarti cinta adalah seni. Begitulah Fromm mengartikannya. Orang banyak yang percaya dan meyakini, bahwa seolah-olah cinta hanya persoalan dicintai dan bukan sebaliknya.

Atau ada ungkapan “berkorban untukku, berlakulah adil padaku”, sama sekali bukan manifestasi cinta, melainkan pengejawantahan hasrat ego, yang dengan sendirinya menjadi inrelevan atas cinta.


Cinta yang seyogianya memberi alih-alih menerima, atau lebih getol menuntut imbalan ketimbang memperjuangkan, maka ego atas dirinya telah mencemari arti cinta.

Fromm menggambarkan perilaku dicintai (bukan yang mencintai) hanyalah gabungan sikap popularitas dan sex appeal. Artinya, jika kita hanya berharap untuk dicintai – tanpa tindakan aktif untuk mewujudkannya – secara tidak langsung kita telah menunjukkan sikap ketidakberdayaan, pasif, dan “ego”.

Fromm bilang, cinta semacam itu, dalam budaya kontemporer tak lain adalah hasrat kapitalistik: memberi sedikit namun mengharap mendapatkan banyak. Berharap dicintai tapi jarang memberi cintanya. Jika kita beranggapan bahwa mencintai itu mudah, namun tak ada tindakan dan usaha, maka harapan dan ekspektasi sebesar itu hanya membawa kita pada kegagalan belaka.

Fromm menawarkan satu obat mujarab kepada kita – yang sering gagal – untuk mengatasinya dengan “memeriksa sebab-sebab kegagalan ini dan melanjutkan studi tentang cinta”. Artinya, kita harus mempelajarinya secara mendalam. Menelaah ulang kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dan mencari jalan keluarnya.

Di sisi ini, kata Fromm, langkah awalnya ialah kita harus menyadari bahwa cinta adalah seni. Dan untuk mempelajarinya, pertama, menguasai teori; kedua, menguasai penerapan

Dalam takaran ini, yang lebih penting dan paling ampuh untuk memahami cinta, kata Fromm, ialah penguasaan seni itu sendiri. “Cinta adalah sebuah seni yang harus dimengeti dan diperjuangkan”. Itulah mengapa cinta tak lain adalah tindakan aktif seseorang.

Dalam banyak kasus, kita kerap ambigu dan salah memahami kata “memberi”. Memberi bukan berarti "menyerahkan" sesuatu, terampas, berkorban. Itu sepenuhnya anggapan keliru. Cinta, yang berkarakter produktif, tak lain akan mengatakan bahwa memberi sama halnya dengan mencurahkan dirinya, yang paling berharga, dan mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan sepenuhnya.

Justru kemampuan mencintai seperti ini adalah tindakan aktif yang tak ada ketergantungan: mencapai orientasi produktif. Artinya, sikap narsistik sepenuhnya hilang. Cinta – elemen dasarnya, kata Fromm, yakni perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan.

Kita tidak ditakdirkan untuk hidup sendiri. Sebagai makhluk sosial, kita membutuhkan subjek dan objek selain dari lingkungan kita hidup. Keadaan ini pula yang membuat rasa cinta pada sesama manusia lahir. Juga tersalurkan kepada objek lainnya, termasuk kepada Tuhan. Cinta adalah makna kehidupan itu sendiri.

Bentuk-Bentuk Cinta

Di sisi ini, Fromm juga menjelaskan beberapa bentuk cinta. Di antaranya; cinta antara orang tua dan anak, objek cinta, cinta sesama, cinta erotis, cinta-diri, dan cinta kepada Tuhan atau Love of God.

Pertama, sejak lahir, seorang bayi tengah merasa ketakutan dengan kenyataan. Ketakutan akan terpisah dengan ibu akan kehilangan jika tidak mampu bertahan jika tanpa kehadiran sosok ibunya. Ini yang menurut Fromm sebagai kebutuhan bayi pada ibunya adalah tahapan pertama dalam cinta.

Namun, ini yang wajar di masyarakat antara anak dan orang tuanya. Kekanak-kanakan dan pasif karena hanya ingin dicintai. Sejak bayi, cinta ibu seluruhnya tercurahkan tanpa kita harus melakukan apa pun.

Kita hanya cukup menjadi diri sendiri (bayi) untuk mendapatkan cintanya. Cinta ibu ini, kata Fromm, sebagai cinta yang aktif: memberi cintanya tanpa menuntut harus dicintai. Cinta ini juga tidak ada syarat, Ibu telah merasa bahwa kita sudah merupakan bagian dari hidupnya.

Di sisi lain, kita akan diperlakukan berbeda dengan cinta ibu, cinta bapak memiliki syarat. Budaya kita yang menganggap bahwa bapak adalah “pelindung”, “guru”, dan sebagai “petunjuk jalan hidup”, justru diri kita jadi otoritasnya. 


Dia mencintai kita, mendapatkan cintanya, jika kita memenuhi harapannya, kemauannya, dan tugas yang diembankannya. Konstruksi berpikir kita harus sejalan dengan sudut pandangnya. Jika tidak, kita dinilai “gagal”.

Namun, apakah cinta orang tua kepada anaknya bisa diartikan sebagai sikap “narsistik”? Dalam banyak kasus, atas nama cinta pula, standar hidup ideal jadi beban kita untuk memenuhi hasrat orang tua. Alih-alih disalahkan jika kita gagal.

Kedua, cinta bukanlah cinta, jika kita abai dan acuh atas persoalan sesama manusia. Ia hanya egotisme. 

Dalam hal objek cinta ini, Fromm mengatakan, jika benar-benar mencintai seseorang, kita harus mencintai semua orang, mencintai seluruh dunia, mencintai kehidupan. Jika bisa mengatakan kepada orang lain, “Saya mencintai kamu”, maka saya harus mampu mengatakan, “Saya mencintai semua orang, saya mencintai seluruh dunia, saya mencintai kamu dan juga diriku.”

Namun, mengatakan bahwa cinta adalah sebuah orientasi yang mengacu pada semua dan tidak hanya pada satu, tidak berarti bahwa tidak ada perbedaan di antara berbagai macam cinta yang tergantung pada macam objek yang dicintai.

Ketiga, dalam cinta sesama, ia paling fundamental. Artinya, cinta jenis ini sangat mendasar bagi manusia. Cinta sesama inilah yang Erich Fromm sebut sebagai cinta kesetaraan; juga rasa tanggung jawab, kepedulian, respek, pemahaman tentang manusia lain, kehendak untuk melestarikan kehidupan.

Keempat, bentuk lain dari cinta yang masih “abstrak” ialah cinta erotis. Cinta ini adalah bentuk ketertarikan individual, unik di antara dua pribadi yang spesifik. Artinya, dia tidak universal dan bersifat eksklusif, terpisah dari yang lain. 

Pada cinta ini, pacaran dan pernikahan kata Fromm adalah wujud dari hubungan yang dihasilkan dari cinta erotis. Cinta jenis ini bisa dibilang rumit, kita dituntut untuk rasa yang sama dan mengekang untuk sepemahaman.

Kelima, kita tidak bisa mencintai orang lain tanpa terlebih dahulu mencintai diri sendiri, pun sebaliknya. Mencintai diri sendiri juga berbeda dengan mementingkan diri sendiri. Jika kita telah mencintai diri sendiri, maka sepenuhnya ini adalah wujud cinta kita yang hakiki: mencintai manusia. Memperlakukan manusia lain sama dengan apa yang kita lakukan untuk diri kita.

Dan yang terakhir, cinta kepada Tuhan berarti mencintai apa yang Ia ciptakan. Manusia dan seisi alam semesta. Cinta kepada Tuhan tidak saja diproyeksi sebagai gagasan, namun tindakan untuk mewujudkannya. Tindakan untuk berbuat baik kepada seluruh ciptaannya, baik alam, sesama manusia dan mahluk-mahluk ciptaannya.

Argumen Fromm terkait Love of God ini cukup mengesankan saya. Terlebih ia tidak eksklusif seperti cinta yang saya sebut di atas, namun cinta jenis ini menempatkan seluruh aspek sosial sebagai sesuatu yang penting, terutama manusia, alam, dan relasi ciptaannya.

Relasi Cinta dengan Budaya

Secara garis besar, pada tataran cinta dalam berbagai aspek, selama ini suasana patriarkis terus membalut kultur dan kelekatan agama kita. Sehingga, misalnya ungkapan Karl Marx terkait agama sebagai Opium bagi masyarakat kerap ditafsirkan negatif dan menyimpang.

Penafsiran yang keliru ini juga menjangkiti hubungan sosial keluarga atau “family”. Ungkapan bahwa cinta Tuhan sama halnya dengan cinta “bapak” adalah bentuk ekstrem atas cinta.

Hukum dan aturan, dominannya dikendalikan oleh bapak dengan dalih di atas. Hingga kitab suci yang kita anggap sebagai keramat Tuhan dan harus mematuhinya seolah-olah juga dinilai dalih juga dari seorang bapak. Jika tidak, konsekuensinya fatal. Inilah sisi mistis dengan narasi agama yang rata-rata patriarkis dan dogmatis.


Cinta atas Tuhan dan alam semesta juga sesama manusia harus dimulai atas tafsir Fromm atas cinta ibu terhadap anaknya. Karena cinta ibu di atas ia abadi tak berkurang sedikitpun.

Cinta dan Kapitalisme

Status sosial kita acap kali dikaitkan dengan persoalan cinta. Kemapanan lebih dikedepankan ketimbang kemampuan karakter dan orienstasi produktif. Padahal cinta adalah karakter yang dewasa, mampu untuk mencintai diri sendiri, semesta alam, manusia, dan Tuhan. 

Namun, pengaruh budaya kita atas karakter masyarakat mengubah segalanya. Ini yang disebut Fromm bahwa dalam masyarakat kapitalis kontemporer, pengertian kesetaraan telah berubah.

Manusia diubah layaknya mesin, teralienasi dan kehilangan eksistensinya. Kesetaraan tak ada dalam budaya ini. Kesetaraan diproyeksi sebagai kesatuan, bukan pembebabasan (dalam arti kemerdekaan atas eksistensinya). 

Kesetaraan hanya dilihat pada aspek fiktif; misalnya, kepentingan Jokowi sama dengan kepentingan petani Wasile, kepentingan Prabowo sama dengan warga Sukoharjo, yaitu sama-sama warga negara, makan sama, minum air sama, baca buku/koran sama, dan lain seterusnya.

Padahal, faktanya, petani di Wasile sedang terancam akibat dari perusahaan PT. MHI yang merampas hak atas tanahnya, begitu juga dengan di Gane yang sedang melawan perusahaan kepala sawit, juga warga Sukoharjo yang sedang tercemar limbah bau busuk PT. RUM, dan daerahnya lainnya yang ada di Indonesia.

Narasi awal itulah yang sedang diidap masyarakat kita bahwa seolah-olah itulah cinta. Padahal, maknanya sebaliknya. Pada era ini, kehidupan sosial kita sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalis yang melahirkan cinta semu dan ilusi. 

Cinta dijadikan sebagai komoditas, yang diperjualbelikan, diekspolitasi, dan dangkal. Tak ada ‘tujuan hidup’, prinsip hidup’ selain sebagai konsumen yang ditinndas.

Dalam sistem kapitalisme, cinta sejati tak akan pernah mekar. Kita diubah layaknya objek yang disetir secara masif, bak mesin; tak pernah merdeka, terus ditindas, dan dijajah namun merasa merdeka. 

Kita tidak sadar, hidup kita distandarisasi, sesuai kepentingan kapitalis. Kelas-kelas sosial direduksi hingga merasa bahwa tak ada ketimpangan di dalamnya. Tunas-tunas cinta berdiri di atas rantai kapitalis.

Tidak ada cinta, “tetapi transaksi paket kepribadian”. Mengobral kepribadian di pasar lalu mencari harga setimpal. Lalu dengan demikian, orang yang bicara cinta dengan klasifikasi kelas sosial yang timpang seperti ini, masih adakah cinta? 

“Bicara cinta, atau mendaku bahwa ia mencintai, lebih membuat seseorang turut serta dalam kepalsuan umum. Hanya martir gila yang betul-betul pantas bicara, dan sungguh-sungguh mencintai. Sisanya, orang-orang yang berkhotbah saja,” sindir Fromm.

Cinta dan Penerapannya

Masalah-masalah pelik yang dibahas Fromm memang saya tidak terlalu menjelaskan di sini. Namun, secara garis besar, Fromm memakai kata “seni” sebagai pangkal bomerang atas sistem picik yang menghancurkan cinta. 

Teori dan praktik jelas jadi latihan atau prasyarat untuk menusuk secara tajam sikap narsistik atas cinta.

Saya rasa, penerapan atas seni mencintai melalui dengan kesadaran integritas dan kemerdekaan atas eksistensi manusia sudah sedikit dibahas di atas. Yang terpenting di sini, Erich Fromm menguraikan praktik cinta agar bisa mempertahankan cinta dengan ideal. Adalah kedisiplinan, konsentrasi, fokus, berpikir secara objektif, dan aktif.

Artikel Terkait