Kala itu tiba-tiba aku ingin pulang kampung halaman. Aku kangen masakan sayur bening khas buatan emak. Sebetulnya tidak hanya kangen emak dan masakannya saja sih, tetapi ingin mengistirahatkan diri dari rasa penat ingar bingar Kota Jogja.

Biasanya aku pulang kampung naik bus jurusan Jogja-Semarang. Kemudian berlanjut naik bus jurusan Semarang-Surabaya. Jarak Jogja-Pati jamak di tempuh sekitar enam jam. Namun kemacetan jalan raya akibat perbaikan di banyak titik jalan membuat aku sampai ke Kota Pati pukul 19.00 WIB.

Baru saja aku turun dari bus, salah satu ojek pangkalan mendekatiku lantas bertanya sekalian menawarkan jasa transportasinya, "Rumahnya mana, mas? Ayo tak antar sampai rumah." Sudah begitu ia bilang, "Jam segini sudah nggak ada angkutan, mas."

"Oh gitu, aku tinggal di Bulumanis, pak," jawabku sambil meneguk air mineral.

Lalu ia berjalan membuntutiku sembari bertanya lagi, "Bulumanisnya mana? Beneran, mas, jam segini nggak ada angkutan. Ayo, mas, tak antar sampai rumah," rayunya.

Aku menoleh ke belakang sambil mengayunkan langkah kaki dan menimpalinya: "Nanti ya, pak, aku lapar, mau mampir ke warung dulu. "

"O ya udah, mas, kalau begitu," sahut tukang ojek.

Usai makan aku beranjak ke halte bus. Si tukang ojek tadi menghampiriku dengan pertanyaan serupa, "Gimana, jadi aku antar nggak, mas?"

"Berapa ongkosnya sampai rumah, pak?' tanyaku.

"65 ribu aja, mas!" jawabnya.

"Kira-kira bisa kurang nggak, pak?" tawarku.

"Wah soalnya sudah jam segini sih, mas, tarifnya memang segitu," jelasnya.

Tanpa panjang lebar aku menyudahi pembicaraannya. Lalu aku berjalan menjauh darinya menuju ke sebuah toko terdekat hendak membeli camilan. Namun sekitar 5 menit berlalu, lagi-lagi tukang ojek tadi menghampiri aku, kali ini nggak ngomongin soal tarif ojek.

Sambil mengisap rokok, tukang ojek itu duduk mendekat berjejer denganku. Ia bercerita perihal teman akrabnya di desa Bulumanis Kidul. Dia menyebut nama temannya, aku pun kenal betul orang yang disebutnya.

"Nyek Bi itu punya keahlian bisa memijat tulang yang terkilir atau terpelesat. Aku kenal dia karena dulu pernah satu perguruan pijat denganku. Bedanya ia lebih terampil dariku. Namanya tidak saja dikenal di lingkungan kampungnya tetapi orang daerah sini juga banyak yang pada tahu, mas," jelasnya.

"Iya, pak, memang banyak sih yang cocok dan sembuh sepulang pijat dari sana," timpalku.

"Selain nyek Bi, aku juga punya kenalan orang sana, biasanya kalau aku lagi senggang mengajaknya mancing ke tambak, mas," bebernya.

"Oh gitu ya, pak," jawabku.

"Aku sebetulnya suka memancing ikan mujaer dan rengkik di Bulumanis, mas." Ia melanjutkan ceritanya. Ia nyerocos soal beragam umpan ikan, jenis ikan yang malu-malu mau makan umpan, yang nyerot, yang sok puasa sampai jenis ikan yang gurih dan yang bau tanah. Baginya, memancing adalah pekerjaan sambilan namun bisa menghadirkan sensasi rekreasi saat dapat strike.

Semua omongannya aku dengarkan dan sesekali manggut-manggut, entah mengapa yang diobrolkan kebetulan nyambung dengan hobi lamaku. Akhirnya aku ikut bercerita pengalaman perihal memancing di banyak tempat.

Tak lama pembicaraan jeda, aku ditawari lagi, "gimana mas ini udah semakin malam, biasanya kalau sudah jam segini tukang ojek yang lain tidak mau narik dalam jarak jauh, mumpung aku mau ngantar sampai rumah? Duh pak kalau uang segini bisa diantar sampai mana? Ya dah nggak apa-apa, ayo aku antar sampai ke rumah mas.

Tukang ojek itu mungkin tidak pernah belajar selok-beluk cara kerja otak seperti yang diajarkan di bangku perkuliahan psikologi.  Atau seperti yang disampaikan dalam seminar teknik ilmu marketing modern yang berbiaya mahal itu.

Walau begitu aku baru menyadari saat sampai di rumah bahwa dari dialog panjang lebar tersebut di atas, rupaya tukang ojek tadi hendak menggaet calon penumpang dengan menerapkan ilmu neuro linguistik programing dengan teknik mirroring.

Dia berhasil menyamakan gelombang pikiran target market. Target marketnya pun nggak terasa diajak ngobrol mutar kesana kemari hingga pada tahap kondisi tertentu dia mampu mengklik target market secara persuasif.

Pertanyaan yang menarik diajukan adalah tukang ojek tersebut belajar ilmu psikologi terapan dari siapa? Aku menduganya mungkin saja ia belajar dari banyak pengalaman di jalan yang kerap bersinggungan dengan beragam karakter. Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik bagi kehidupan.

Dari situ ingatanku jadi kembali pada sebuah pepatah arab; kullu insanin ustadzun wa kullu makanin madrosatun. Setiap orang yang kita jumpai adalah guru, dan dimanapun kita berada adalah tempat belajar. 

Terkadang guru kehidupan memang suka menyamar dalam banyak peran. Ia menjelma pada siapa saja, bisa pengamen, anak pank, tukang ojek, penjaja makanan di bus-bus dan lainnya. Mereka semua adalah guru non formal yang bisa disimak oleh siapa saja yang berendah hati mengosongkan wadahnya.