Beberapa waktu yang lalu ada sebuah acara live bernama TikTok Awards di sebuah stasiun televisi. Acaranya sendiri tidak terlalu terdengar gaungnya, yang lebih bergema malah berita salah satu host acara tersebut yang dinilai gagal dan mengecewakan, lalu dihujat netizen rame-rame, dan sempat jadi trending topic twitter pulak.

Saya sendiri awalnya tidak terlalu peduli. Sekarang ini terlalu banyak cerita tentang artis, selebgram atau apapun labelnya, yang isinya hanya gimik-gimik yang kadang bikin eneg. Gimik yang membuka aib pribadi bahkan keluarganya, atau gimik yang tanpa malu membuat dirinya terlihat sangat bodoh dan menjadi bahan tertawaan. Namun setelah melihat di kanal YouTube Rans Entertaiment, bagaimana Nia Ramadhani, host yang dikritik habis-habisan netizen itu mengemukakan alasan-alasannya kenapa tidak bisa tampil dengan maksimal, sayapun jadi ikutan gemessss.

Iya, heran aja, masa sih seorang host tidak tahu format acaranya, padahal jelas-jelas dia harus tampil di situ? Oke, baiklah, anggap dia memang tidak tahu, tapi untuk sebuah event besar yang dihadiri seorang menteri dan petinggi stasiun TV, apalagi ini disiarkan langsung, apa tidak ada yang namanya gladi resik atau paling tidak briefing? Ketidaktahuan ini juga jadi terasa aneh, karena Nia sendiri adalah artis lawas yang sudah malang melintang di dunia keartisan. Saya yakin dia sudah sering menghadiri acara awards-awards an yang sejenis.

Ketidaktahuan harus membaca prompter di atas panggung juga menjadi alasan Nia Ramadhani, ketika dia mengalami kesulitan mengikuti dengan lancar apa yang harus dibacanya di prompter, dan menurut Nia itu dikarenakan matanya minus. Untuk hal ini, netizen sampai ada yang komentar, “Makanya, jangan wajah aja yang dirawat, mata juga dirawat, masa orang kaya ga bisa beli softlens?!”.

Komentar itu terdengar sarkas sih memang, tapi mungkin ada benarnya. Apabila Nia sudah mempersiapkan diri dengan baik, memahami dengan jelas situasi yang akan dihadapi ketika dia nanti tampil, mengatasi kendala-kendala teknis yang sebenarnya bisa dengan mudah sekali diselesaikan, kejadian yang menurut berita cukup membuat seorang Nia menjadi down setelahnya, akan bisa dihindari.

Alasan-alasan yang dikemukakan Nia Ramadhani memberikan kesan betapa dirinya kurang persiapan. Kesan kurang persiapan inipun tertangkap, ketika melihat di kanal YouTube yang sama, ternyata dia juga cukup riweh tentang kostum beberapa saat sebelum tampil. Lagi-lagi jadi mempertanyakan, apakah dia tidak melakukan fitting baju sebelumnya? Urusan kostum ini juga banyak disinggung netizen, Nia dinilai sibuk sendiri dengan pakaian dan rambut ketika di atas panggung. 

Sebagai artis lama yang mestinya sudah banyak pengalaman, alasan ketidaktahuannya ini malah jadi semacam boomerang, karena Nia malah seperti mengganggap remeh pekerjaan ini. Bukannya Nia punya tim manajamen dan asisten yang bisa diberdayakan untuk mencari tahu hal-hal yang harus disiapkan sebelum tampil?.

Menganggap remeh suatu pekerjaan yang telah dipercayakan pada kita, menurut saya adalah suatu sikap yang harus dihindari ketika ingin bekerja secara profesional, seahli, sehebat dan sekompenten apapun kita. Dokter yang mau mengoperasi pasiennya, pengacara yang mau membela kliennya, bahkan guru atau dosen yang mau mengajar, atau apapun profesinya sudah semestinya mempersiapkan diri dengan baik sebelumnya. Walaupun mungkin sudah ratusan pasien yang pernah dioperasi, walaupun banyak klien sudah diperjuangkan haknya, walaupun sudah puluhan tahun dan hampir setiap hari guru memberikan materi kepada muridnya, karena situasi dan kondisi bisa jadi berbeda.

Jadi ingat bapak saya, beliau cukup sering dimintai tolong menjadi MC acara nikahan. Dalam acara nikahan, tentu harapannya adalah acara dapat berjalan hikmat dan sakral, sehingga kesalahan penyebutan namapun bisa membuat kecewa. Karenanya, bapak biasanya selalu memastikan apakah nama calon pengantin dan orangtua masing-masing sudah benar, menanyakan kota asal dari pasangan, kadang malah menanyakan awal kenal atau di mana pertama kali bertemu, dan lain sebagainya. Ish.. terkadang saya pikir, bapak kok jadi kepo begitu. Namun, ternyata itulah bagian dari cara beliau untuk mempersiapkan diri.

Hasil ngobrol dengan calon pengantin atau keluarganya, menjadi bahan yang digunakan ketika menjadi MC, agar tidak mempermalukan dirinya ataupun keluarga yang sudah meminta kesediaan bapak. Apakah bapak dibayar, yo enggaklah? wong yang minta tolong itu tetangga atau teman-teman takmir masjid di mana bapak biasa sholat jamaah. Sebanternya palingan dibawain berkat kotakan nasi atau kuenya double. Eh tapi itu dulu… seiring waktu, ketika permintaan makin sering lama kelamaan beliau tidak hanya disangoni berkat double tapi juga amplop. Alhamdulillah, rejeki ga boleh ditolakkan? hehe

Begitulah, padahal menjadi MC nikah bukanlah profesi bapak, tapi beliau tidak pernah menganggap remeh dan selalu melakukan persiapan-persiapan, agar teman atau tetangga yang meminta tolong, tidak kecewa dan merasa puas. Tentunya pasangan manapun berharap menikah hanya dilakukan sekali seumur hidup, dan momen sakral mereka menuju halal akan bisa dikenang dengan kesan yang manis bagi seluruh keluarga.

Dalam buku True Professionalism, David H. Maister menjelaskan bahwa orang-orang profesional adalah orang-orang yang diandalkan dan dipercaya karena mereka ahli, terampil, punya ilmu pengetahuan, bertanggung jawab, tekun, penuh disiplin, dan serius dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Jadi, pekerjaan yang dilakukan dengan persiapan yang baik dan sikap yang serius, yang dengan kemampuan, keterampilan, dan keandalannya, akan siap dan sigap menghadapi hal-hal yang di luar dugaan mungkin terjadi, itulah profesionalitas.

Kitapun bisa belajar memaknai profesionalitas melalui sikap seorang Raffi Ahmad, yang menjadi partnert host Nia Ramadhani dalam acara awards malam itu. Bayangkan ketika dalam suatu proyek atau pekerjaan, ada seorang partner yang tidak bisa menjalankan tugasnya dengan optimal, apa yang biasanya terjadi? Kemungkinan besar kita akan kesal, jengkel, yang berakibat pula pada mood kita dalam bekerja.

Betapa sering, kita ngegrundel, ngomel, sambat saat mendapati seorang teman tidak bekerja dengan maksimal. Betapa mudahnya kita kecewa bahkan mungkin melimpahkan kesalahan kepada rekan satu tim, saat pekerjaan tidak berjalan atau berhasil sesuai harapan. 

Namun, saya tidak melihatnya pada seorang Raffi Ahmad. Penampilannya tetap baik, moodnya tetap terjaga dan lebih salut lagi dia berusaha menutupi kekurangan partnernya. Ternyata di belakang panggungpun, Raffi masih sempat memberikan semangat untuk Nia Ramadhani yang sudah merasa kalau tidak tampil baik di acara itu.

Di antara berjuta pasang mata dalam siaran live, yang tentunya ada banyak hal yang dia sendiri juga harus “jaga”, Raffi begitu sigap menghadapi situasi yang berjalan tidak semulus yang mungkin dia harapkan. Bagaimana kualitas, kompentensi dan sikap profesionalnya berada dalam situasi itu jelas terlihat. Jadi, wajarkan kalau Raffi Ahmad kaya raya eh maksudnya disebut-sebut sebagai MC dengan bayaran termahal seindonesia?