Purwokerto adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota kecil bukan berarti jauh dari peradaban (tertinggal), namun lebih menunjukkan pada luas wilayahnya. Hal ini karena Purwokerto memiliki struktur peradaban yang maju (sosio-ekonomi). 

Selain menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di Jawa Tengah, Purwokerto juga sering disebut sebagai "Kota Pendidikan" karena menjamurnya pusat-pusat pendidikan dari jenjang pra sekolah hingga perguruan tinggi.

Purwokerto identik dengan Gunung Slamet, yakni gunung berapi aktif tertinggi kedua di Pulau Jawa. Oleh karena itu, kondisi lingkungannya cukup sejuk dan tenang.

Kondisi semacam itu sering kali menjadikan Purwokerto sebagai tempat berlabuh pendatang dari kota-kota besar, seperti Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Purwokerto dinilai tepat dijadikan sebagai pelarian dari hiruk pikuk kehidupan di kota-kota besar.

Selain sejuk dan tenang, biaya hidup di Purwokerto juga terbilang sangat murah. Itu karena Purwokerto mewakili daerah wong cilik karena konteks wilayahnya yang jauh dari Negarigung (pusat kekuasaan Jawa: Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo). Artinya, Purwokerto adalah daerah pinggiran.

Makna wong cilik bukan berarti masyarakatnya hidup dalam kemiskinan. Namun, lebih menonjolkan watak yang serba prihatin dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, memamerkan kekayaan di Purwokerto menjadi hal yang tabu. 

Wong cilik juga berarti mewakili sifat yang egaliter (setara). Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan bahasa yang khas dalam kehidupan sehari-hari, yakni bahasa ngapak-ngapak. Berbeda dengan bahasa Jawa di Negarigung yang memiliki kelas bahasa, bahasa ngapak-ngapak justru tidak demikian. 

Ketika memanggil seseorang yang lebih tua, misalnya, ayah, menggunakan bahasa Jawa, akan dibedakan menjadi dua, yaitu rama (bahasa Jawa Ngoko) dan romo (bahasa Jawa Krama Inggil).

Dalam bahasa ngapak-ngapak memanggil ayah hanya perlu menyebut rika (yang berarti kamu). Misalnya, dalam bahasa Jawa Krama Inggil, romo bade tindak pundhi? (ayah akan pergi kemana?), maka dalam bahasa ngapak-ngapak, rika arep lunga ngendi? (kamu mau pergi kemana?),

Itu sebabnya orang-orang Purwokerto terkenal dengan orang yang lugas dan terus-terang (cablaka dan thokmelong). Terkadang penggunaan bahasa ngapak-ngapak bersifat nylekit (melukai perasaan) bagi seseorang yang tidak mengetahui bahkan bagi orang-orang Purwokerto sendiri.

Orang Purwokerto lugas dan terus-terang kepada siapa pun yang berusaha untuk pamer kekayaan. Mereka melabeli seseorang yang memamerkan kekayaan dengan sebutan nyanteng (sombong) ndesa temen (sangat kampungan). Biasanya label ini melekat kepada para pendatang yang notabene berasal dari Jabodetabek. 

Mayoritas pendatang tersebut adalah mahasiswa. Gejolak kaum muda yang identik dengan ajang mengakukan diri sering kali berujung pada upaya memamerkan kekayaan.

Oleh karena itu, biasanya para mahasiswa, khususnya yang tinggal belum cukup lama di Purwokerto tidak segan untuk mengendarai mobil ke kampus, menggunakan barang-barang mewah, hangout ke mal, makan di restoran cepat saji. Alih-alih membawa gaya hidup di kota-kota besar, justru itu terlihat sangat kampungan di Purwokerto. 

Bagi mahasiswa asli Purwokerto yang geram dengan pola kehidupan semacam itu, hanya ada satu pilihan, yakni melabrak mereka di muka umum yang terkadang berujung pada penataran. Hal ini lazim dilakukan pada momen-momen istirahat kuliah di kantin.

Upaya tersebut barangkali berlebihan bagi seseorang yang tidak memahami konteks budayanya. Namun, jika diamati lebih mendalam tanpa melibatkan perasaan berlebih, setali tiga uang dengan istilah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung sekaligus memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti. 

Bahwa untuk menunjukkan diri kita kaya adalah bukan dengan cara memamerkannya. Cukup menjadi rahasia pribadi dan keluarga. Hal itu lebih baik karena selain dianggap tabu, juga memunculkan kecemburuan sosial, yang mana berkebalikan dengan egalitarianisme orang Purwokerto.

Lahir dengan Pola Kehidupan Baru

Bagi yang dapat memahami pelajaran kehidupan ini, maka akan mengalami fase perubahan. Awalnya menggunakan mobil lambat laun memilih menggunakan sepeda motor. Budaya hedonisme hangout ke mall dan makan di restoran cepat saji berganti dengan budaya ngangkring di angkringan dan makan di ramesan (warung makan).

Tidak heran jika tempat parkir mobil di kampus-kampus terlihat sepi. Berkebalikan dengan tempat parkir sepeda motor. Begitu pun dengan mal-mal dan restoran cepat saji, jumlah pengunjungnya tidak lebih banyak dari pengunjung angkringan dan ramesan. Oleh karena itu, tidak sedikit toko-toko dan tempat usaha kuliner dengan harga yang cukup mahal berakhir dengan gulung tikar.

Hingga akhirnya muncul ungkapan yang lazim dilontarkan para penjual, "nek dagang ora murah, ora akeh nang kene ora gadang payu" (kalau berdagang dengan tidak murah, tidak banyak tidak akan laku di sini), Bagi orang Purwokerto, menilai suatu produk yang terpenting adalah murah dan banyak.

Kebiasaan hidup prihatin ini yang ditempa selama bertahun-tahun hingga akhirnya terbawa ke daerah asal. Para pendatang yang notabene berasal dari kota-kota besar (Jabodetabek) menemukan makna baru menjalani kehidupan yang tidak melulu konsumtif dan hedonis. Bahkan sering kali merasa risi menjalani kehidupan yang konsumtif dan hedonis.

Kehidupan semacam ini sekaligus mengajarkan pada pengelolaan keuangan dengan bijak. Bisa jadi, awalnya uang 100 ribu per hari bagi orang-orang Jabodetabek dianggap kecil. Namun karena terbiasa dengan kehidupan yang serba murah di Purwokerto, maka akan lebih menghargai uang 100 ribu per hari. Itu karena uang 100 ribu bisa dijadikan biaya hidup selama tiga hari di Purwokerto.

Dinamika semacam ini berjalan tanpa pernah putus. Seseorang yang pernah diingatkan untuk tidak memamerkan kekayaan pada dinamika selanjutnya sering kali berperan menjadi seseorang yang melabrak seseorang yang memamerkan kekayaan. Pada akhirnya, mereka memaklumi dan malu dengan apa yang pernah dilakukan. Pada puncaknya, mereka akan berubah menjadi pribadi yang lebih egaliter.

Coba tanyakan pada teman, kerabat, rekan kerja atau siapa pun yang pernah hidup cukup lama di Purwokerto, pasti mereka akan sepakat dengan hal ini. Masih belum percaya? Coba pastikan sendiri dengan lanjutkan kehidupan di Purwokerto dengan membawa segudang kekayaan, kemudian kembali lagi ke daerah asal. 

Itu karena hal yang paling dirindukan dari Purwokerto adalah kehadirannya yang mewakili kebersamaan dan kesetaraan. Maka dari itu, Purwokerto identik dengan istilah "mangan ora mangan sing penting kumpul," (makan tidak makan yang penting berkumpul), maknanya bisa berarti menghargai kebersamaan (kolektivis) ketimbang sibuk mengenyangkan perut sendiri (individualis).