Pada mulanya adalah aroma, bukan rasa. Itu barangkali alasan mengapa tikus dipilih menjadi tokoh utama di film Ratatouille (2007). Sebab tikus adalah salah satu hewan yang memiliki indra penciuman istimewa. Dan, memilih tikus sebagai tokoh utama barangkali juga dimaksudkan sebagai upaya menjaga kedekatan film ini dengan fabel atau semacam pengekstreman dari moto sang koki Auguste Gusteau, “Anyone can cook.”

Ratatouille adalah salah satu film animasi lama yang, menurutku, masih tetap enak ditonton berulang-ulang. Terutama soal persaingan antara dua maestro: Auguste Gusteau, koki terbaik di Paris, dengan Anton Ego, kritikus terkemuka dan paling disegani di Paris. Persaingan keduanya bahkan menjadi pembuka film ini.

Gusteau adalah koki termuda yang meraih penilaian bintang lima. Untuk makan di restorannya pelanggan harus memesan lima bulan sebelumnya. Dan buku memasaknya, Anyone Can Cook, memuncaki daftar buku terlaris. “Tapi tak semua orang merayakan kesuksesan ini.”

“Judul yang menggelikan, ‘Anyone Can Cook.’ Namun yang lebih menggelikan adalah Gusteau tampak sangat percaya dengan yang ia tulis. Aku, sebaliknya, menganggap memasak sebagai sesuatu yang sangat serius. Dan, tidak, aku tidak percaya ‘siapapun’ bisa memasak.” Anda sudah tahu, Anton Ego orangnya, Si Pemangsa yang Dingin. Atau barangkali Ego merayakan dengan caranya sendiri, sebab merasa menemukan lawan sebanding.

Sementara itu, di pedesaan pinggiran Perancis yang tenang, Remy, seekor tikus rumah berwarna abu-abu, menyimpan hasrat untuk menjadi seorang koki sehebat Gusteau. Ia mengasah kemampuan indera pengendus dan perasa, berjalan dengan dua kaki belakang agar tak selalu cuci “tangan” saat makan, dan yang paling penting ia selalu mengikuti acara masak-memasak Gusteau di televisi dan membaca bukunya.

“Makanan yang baik itu seperti musik yang dapat kau rasakan, seperti warna yang dapat kau cium,” kata Gusteau pada satu kesempatan. Remy hanya bisa membenarkan apa yang dikatakan Gusteau dan semakin yakin bahwa ia harus menjadi seorang koki hebat. “Aku mengatakan yang sebenarnya, siapapun bisa memasak, tapi hanya yang tanpa takut yang akan menjadi (koki) hebat.”

Hasrat besar Remy untuk menjadi seorang koki, atau sebutlah takdir jika anda sangat percaya pada kebetulan, akhirnya membawanya ke Paris. Ke restoran Gusteau tepatnya. Ia tiba di restoran hampir bersamaan dengan Alfredo Lingguini, lelaki muda yang selalu tampak kikuk dengan rambut merah kusut. Ia adalah anak lelaki Renata, kekasih Gusteau di masa lalu.

Remy dan Lingguini kemudian menjalin hubungan yang aneh. Awalnya, karena terlalu ceroboh, Lingguini menumpahkan sup dari panci kemudian merusaknya dengan menambahkan pelbagai bumbu yang tak keruan. Lalu Remy membereskan kekacauan itu.

Dan, voila, sup buatan Remy disukai oleh Solene LeClaire, seorang kritikus makanan yang secara kebetulan mampir ke restoran Gusteau. Ulasan LeClaire tentang sup Remy muncul di koran esok paginya. Sup itu dianggap sebagai penyingkapan kembali restoran Gusteau setelah kematian sang koki, dan menurutnya restoran Gusteau layak mendapat perhatian publik lagi.

Kabar mengenai restoran Gusteau akhirnya sampai juga pada Ego. Ia kaget dengan kabar yang dibawa si asisten, terutama karena ia merasa telah “menghabisi” restoran Gusteau bahkan saat sang koki masih hidup. “Gusteau akhirnya menemukan tempatnya yang tepat dalam sejarah, persis di sisi koki yang juga terkenal, Tuan ‘Boyardee’.” Kritik yang ia tulis tidak saja membuat restoran Gusteau kehilangan satu bintangnya, bahkan kemudian kehilangan sang bintang utama.

Menyamakan Gusteau dengan Boyardee sebenarnya adalah olok-olok. Boyardee adalah nama perusahaan makanan cepat saji dalam kaleng yang didirikan oleh imigran Itali, Ettore “Hector” Boiardi. Nama Boyardee dipakai sebagai nama perusahaan terutama untuk membantu masyarakat Amerika mengeja namanya dengan benar.

Pada satu senja di restoran Gusteau beberapa hari kemudian, setelah Lingguini resmi mewarisi restoran tersebut, Ego menyela jumpa pers yang sedang berlangsung. Suasana menjadi senyap. Ia langsung menuju Lingguini dan mengatakan akan datang kembali untuk makan malam besok. Mengetahui ia menghadapi seorang kritikus makanan paling disegani di Paris, Lingguini menjadi gagu.

“Kau terlalu lambat untuk orang yang berada di jalur cepat,” kata Ego. “Dan kau terlalu kurus untuk orang yang suka makanan,” Lingguini membalas dengan polos. “Aku tidak ‘suka’ makanan, aku mencintainya. Jika aku tak mencintainya, aku takkan menelannya,” Ego membalas.

Di restoran malam berikutnya, Mustafa, si pelayan memberanikan diri mendekati Ego dan menanyakan apa yang ia ingin pesan. “Setelah membaca publisitas koki baru anda yang kelewat panas, anda tahu apa yang kuidamkan? Sedikit perspektif.” Jawaban Ego membingungkan Mustafa, apalagi ia terlanjur gemetar.

Ego pun menyerah, “Baiklah, karena kalian kehabisan perspektif dan tak seorangpun tampak memilikinya di tempat yang luar biasa ini, aku ingin membuat kesepakatan dengan anda: anda menghidangkan makanan dan aku akan memberikan perspektif.” Namun si pelayan tampak tak juga memahami apa yang disampaikan oleh sang kritikus. Ego melompat dari kursinya, “Katakan pada koki anda bahwa aku akan menerima apa saja yang berani ia hidangkan.”

Remy, dibantu oleh saudara-saudara tikusnya, akhirnya membuat Ego nyaris tak sadar. Bukan sebab masakan yang canggih atau hasil eksperimen yang gila-gilaan, tapi justru resep yang sangat sederhana dan kampungan: ratatoullie. Hari berikutnya ulasan Ego muncul di koran. Meski tidak secara langsung menunjukkan apa keistimewaan makanan yang dibuat oleh Remy, namun ulasan Ego sudah cukup membuat saya merinding.

Dalam banyak hal, kerja kritikus itu mudah. Risiko kami kecil, namun kami menikmati posisi mereka yang menyerahkan diri dan karya mereka pada penilaian kami. Kami hidup dengan menulis ulasan negatif, sesuatu yang menyenangkan untuk ditulis dan dibaca.

Namun, kebenaran pahit yang dihadapi oleh seorang kritikus adalah, pada kenyataannya, sebuah karya sampah barangkali lebih bernilai ketimbang ulasan kami atasnya. Namun ada kalanya kritikus benar-benar mengambil risiko, yaitu ketika ia menemukan dan membela sesuatu yang baru. Dunia seringkali tak ramah pada bakat baru, pada karya baru. Karena itu orang baru membutuhkan teman.

Kemarin malam aku merasakan sesuatu yang baru, makanan yang luar biasa dari sumber yang sungguh tak pernah terduga. Mengatakan bahwa makanan dan kokinya telah menantang prakonsepsiku tentang memasak yang baik adalah pernyataan yang sangat tidak memadai. Keduanya mengguncangku hingga ke jantungku.

Di masa lalu, bukan rahasia bahwa aku meremehkan moto terkenal chef Gusteau: “Anyone can cook.” Namun baru sekarang aku sungguh-sungguh menyadari apa yang ia maksud: Tidak semua orang bisa menjadi seniman hebat, namun seniman hebat bisa datang dari mana saja.

Sulit membayangkan sumber yang lebih rendah hati ketimbang si jenius yang sekarang menjadi koki di restoran Gusteau. Ia, dalam opini kritik ini, tiada lain adalah koki terbaik di Perancis. Dan aku ingin segera kembali ke restoran Gusteau dengan lebih lapar.

Film ini tidak saja enak ditonton berulang-ulang tapi juga meninggalkan kesan yang kuat dalam diriku, bukan dalam soal masak-memasak, melainkan dunia tulis-menulis. Percaya atau tidak, film ini adalah salah satu pelecutku untuk menulis setelah sekian lama memelototi puluhan tulisan setengah jadi di laptopku.

Sejak pertama kali menonton film ini, aku selalu tergoda untuk mengganti kata “memasak”  dalam moto Gusteau dengan kata “menulis.” Dan aku membayangkan Gusteau sebagai seorang pengarang bijak yang selalu bisa memupuk semangat penulis pemula untuk berani menulis.

Sebaliknya, Ego adalah sosok yang membuat para pengarang, bahkan yang sudah berpengalaman sekalipun, mengurungkan atau sekadar menunda penerbitan karya mereka entah sampai kapan.

Terus terang aku sangat menikmati komentar-komentar Ego. Sebagai seorang kritikus, ia ditampilkan dengan sangat baik dan demikian menjengkelkan. Bahkan saya kemudian berpikir dan hampir setengah percaya bahwa kritikus yang baik itu memang selalu menjengkelkan, terutama bagi pengarang-pengarang medioker dan pemula seperti aku.

Sementara, Gusteau tidak pernah menanggapi atau merasa terganggu dengan komentar dan kritik Ego. Dan begitulah mestinya seorang seniman hebat, tak pernah merasa kerdil oleh kritik. Meski akhirnya ia meninggal setelah kritik tajam Ego padanya dimuat di surat kabar.

Menulis, menurutku, memang tak jauh beda dengan memasak. Diperlukan semacam keberanian dan kepengrajinan yang gila-gilaan untuk bereksperimen dan merambah pelbagai kemungkinan yang paling musykil.

Seperti dikatakan Gusteau bahwa seorang pengecut takkan pernah menjadi koki hebat. Untuk menjadi koki hebat anda harus imajinatif dan berani mencoba sesuatu yang baru. Dan tak seorangpun boleh membatasi anda, sebab batasan anda adalah jiwa anda sendiri.

Aku kemudian percaya, paling tidak berlaku untuk diriku sendiri, seorang pengecut takkan pernah menjadi penulis hebat. Yang menjengkelkan adalah masalah selalu muncul belakangan. Berkat Gusteau, aku percaya bahwa tak seorangpun boleh membatasi kita dalam menulis, tapi standar tinggi a la Ego yang telanjur kupercaya ternyata menjadi batas bagiku. Seperti terperangkap di labirinku sendiri.

Ada satu kata dari Ego yang begitu melekat dalam benak saya: “perspektif”. Ego benar ketika mengatakan bahwa seorang seniman harus selalu memiliki perspektif yang jelas, segar, dan sedap. Tanpa itu barangkali ia akan jatuh pada pengulangan-pengulangan yang akhirnya menjadi demikian membosankan.

Setelah menonton film ini berulang-ulang, kemampuan menulisku ternyata tak beranjak terlalu jauh. Masih juga seperti dulu, sering macet di halaman pertama, atau mungkin lebih parah, hanya judul dan satu-dua paragraf yang tak selesai.

Namun saya harus berterima kasih pada Ego, sebab ia benar belaka ketika mengatakan bahwa kerja kritikus itu mudah. Yang kuperlukan hanya sedikit baca, sedikit tahu, dan sedikit angkuh. Bagaimana dengan keinginan menjadi pengarang? Ah, nanti dulu. Aku belum siap membaca ulasan kritikus macam aku.