Arsiparis
1 minggu lalu · 92 view · 3 menit baca · Cerpen 37701_39550.jpg

Belajar Menulis

“Pokoknya dalam menulis nggak perlu teori, titik,” itulah kata terakhir yang diucapkan Javed saat aku bertanya perihal teknik membuat cerita di sebuah diskusi di warung budaya yang ada di kota kami.

Javed adalah penulis cerita yang cukup produktif dan tergolong berkualitas. Hal ini dibuktikan karena banyak sekali penggemar tulisannya. Hampir tiap temanku dalam klub menulis berdiskusi selalu saja yang diomongkan adalah cerita-cerita yang ditulis oleh Javed.

Sudah hampir lima tahun aku dan teman-temanku yang gemar menulis bergabung dalam klub menulis yang dibina oleh Javed. Aku sangat ingin menjadi seperti dia tulisannya mengalir dan kadang kadang penuh kejutan.

“Menulis pasti ada trik triknya sehingga bisa mengalir lancar dan banyak yang suka membaca,” pernah suatu kali aku bertanya padanya karena begitu penasaran dengan tulisan yang bernas dan dirindukan.

Seperti biasa ia hanya tersenyum dan nggak pernah mau menjawabnya. Tapi anehnya ia selalu saja mengajakku mengkritisi tulisan seseorang yang dimuat di Koran. Dan seringkali ulasannya nggak pernah ada baiknya sama sekali.

Pernah suatu kali ia mengkritisi tulisanku yang belum kukirim ke Koran. Rencananya itu akan kukirimkan ke koran  dan setelah menerima kritikan itu tulisanku hanya kusimpan saja tanpa sama sekali kuperbaiki lagi.

Aku memang termasuk orang yang nggak bisa menerima kritikan, jadi begitu sekali dikritik aku langsung putus asa. Meski, kata orang, mental seperti itu tidak baik dimiliki oleh penulis.

Berbeda dengan Javed, dia ini termasuk orang yang kebal kritikan, bahkan sepertinya apa yang diucapkan orang tentang tulisannya ia hanya tersenyum.

“Menulis itu bercerita, kalau mau berkisah ya berkisah saja tanpa perlu teori macam macam. Kalau terlalu banyak teori ceritamu malah terasa dibuat buat,” itulah kata katanya setiap habis dicerca perihal tulisannya yang dikritik oleh teman temannya.

“Kalau nggak mau dikritik ya jangan mempublikasikan tulisan di media massa, beres kan,” tambahnya.

Mengenai kekuatannya menerima kritikan ini, sebagaimana yang diutarakannya dalam setiap diskusi di klub menulis kami, bahwa sejak kecil ia sudah terbiasa dirundung oleh teman temannya sekamar waktu di pesantren dulu.

Sebagai alumni pesantren Javed memang agak menguasai ilmu agama. Tulisannya pun banyak dibungkus dengan nilai nilai agama, yang secara cerdik ia olah dalam dialog dialog tokoh tokoh ceritanya.

Pernah juga aku mengikuti pelatihan menulis cerita dengan seorang penulis yang sudah memiliki banyak karya sastra berupa novel.

Menurutnya, jika ingin  menceritakan sesuatu lewat tulisan, mudah saja, yaitu dengan cara membuat peta cerita sebagai sarana untuk mengisi bagian-bagian detail yang ada di dalamnya. Tanpa peta cerita kita akan tersesat dalam ide yang nggak bertujuan.

Setelah ini saya sampaikan ke Javed ia tertawa terbahak bahak sambil berujar, “Menulis itu seperti ngomong, biarkanlah mengalir, karena nanti ada saatnya untuk menyunting hasil tulisan kita. Kamu jangan banyak mikir dan mulailah menulis.”

“Itu menurut, Aril, saat aku mengikuti pelatihannya, kok,  kamu begitu jawabnya, dia itu novelis produktif,” balasku ketika itu.

“Penulis itu punya cara berbeda beda, dan kewajibanmu adalah menemukan caramu sendiri jangan mengekor orang lain,” terang Javed sambil menunjukkan tangannya padaku.

Saat itu, aku memang mengikuti pelatihan menulis ala Ariel dalam acara yang digagas Forum Lingkar Pena (FLP) Lamongan. Acara  ini sekaligus menjadi prosesi penganugerahan juara lomba esai dan cerpen dalam rangka memeringati Hari Guru bekerjasama dengan Perpustakaan Umum  Lamongan.

Sebagai orang yang bercita cita jadi penulis,  aku sangat gemar mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh FLP Lamongan.

Di situ aku sempat berkenalan dengan  Fitri Arteta, salah satu pengurus  FLP Lamongan. Menurutnya kegiatan yang dilakukan oleh FLP Lamongan semisal  seminar kepenulisan dan lomba penulisan esai dan cerpen ini  lebih ditujukan  untuk menumbuhkan budaya literasi melalui tulisan dan memberikan bekal tambahan mengenai teknik menulis kepada para pemenang lomba khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Ada beberapa teori yang bisa kuambil saat mengikuti pelatihan menulis tersebut. Kemampuan menulis, menurut Arul, bukanlah bakat warisan sejak lahir karena menulis merupakan keahlian yang harus dilatih terus menerus dan dikuasai tekniknya agar bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca.

“Kalau kamu ingin jadi penulis rajin rajinlah membaca dan menulis. Tulisanmu tak aka nada kalau kau hanya rajin ikut seminar tanpa pernah menyelesaikan ceritamu. Tulislah apa yang ingin kau tulis dan jangan takut tidak dibaca atau tidak disukai orang lain karena kita tidak bisa membuat semua orang menyukai karya kita," Itulah pesan Javed yang selalu terngiang di kepalaku.

Aku terdiam merenungkan kata kata Javed. Aku mulai mencari tulisan-tulisan lamaku. Kubaca satu persatu dan sesekali kuubah kalimat yang membuatku bingung. Aku tata kembali kata demi kata dan mencoba menyelesaikannya menjadi cerita yang utuh,  tidak berhenti di tengah jalan. Aku terus menulis   kembali tulisanku tanpa berfikir teori ini dan itu. Sampai tulisan ini ditulis, aku masih ingat kata kata Javed, bahwa menulis itu tak butuh teori.