Manusia, sungguhkah mahluk yang sempurna? Jika benar, mengapa masih saja terdapat beberapa orang yang lemah mental? Bahkan seseorang yang mampu mengelola emosinya pun harus menggantungkan dirinya kepada harapan.

Ya, banyak yang menyetujui bahwa sumber kekuatan manusia adalah harapan. Sebentar, bukannya harapan sedikit seperti halusinasi? 

Memang terdapat kasus lain yang menyebabkan manusia menjadi lebih kuat. Kasus tersebut menempatkan manusia dalam situasi berbahaya. Situasi tersebut mengaktifkan insting bertahan hidup manusia, tetapi bukankah insting tersebut muncul karena manusia berharap agar selamat hingga mampu melanjutkan hidupnya?

Menurut pola pikir materialisme, harapan bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan halusinasi. Mungkin banyak dari para pembaca pernah mendengar sebuah kalimat yang menyatakan: “Untuk membuat diri menjadi tegar, manusia menggantungkan dirinya kepada sebuah kepercayaan, tetapi hal tersebut tidak mengantarkannya menuju jalan pemecahan masalah, melainkan menyajikan sebuah jalan pelarian.”

Untuk mempertegas, ajaran dasar sebuah kepercayaan seperti agama adalah penumbuhan harapan dalam diri.

Dari situ muncul sebuah pertanyaan, benarkah manusia mampu membentuk ketahanan mental tanpa mempunyai sebuah harapan sedikit pun? Mampukah menjadi makhluk sempurna tanpa menggantungkan diri kepada sistem kepercayaan, seperti agama? Benarkah seseorang yang menggantungkan diri kepada harapan (yang metafisik itu) sedang berhalusinasi?

Amor Fati adalah gagasan yang diniatkan untuk memberi pencerahan kepada manusia agar mencintai takdir buruk, mencintai sebuah tragedi, sehingga mampu menerimanya, dengan begitu manusia akan menjadi superman. Gagasan yang sangat relatedtable karena penerimaan adalah kunci sebuah kebahagiaan yang menstabilkan ketahanan mental.

Pencipta gagasan tersebut ialah seorang filsuf jenius bernama Nietzsche. Ia percaya dengan kemandirian manusia. Kemandirian yang dimaksud ialah tidak menggantungkan diri terhadap apa pun, termasuk Tuhan.

Jadi untuk menjadi superman, manusia diharuskan menceburkan diri ke dalam setiap tragedi yang menimpanya, bukan melarikan diri kepada pengharapan yang diberikan oleh ajaran-ajaran religius yang tidak nyata keberadaannya.

Sayang, tidak banyak orang yang mampu mempraktekkannya, mungkin hanya Nietzsche saja. Tetapi benarkah begitu?

Titik balik kesadaran Nietzsche bermula dari sebuah tragedi yang menimpa hidupnya, yaitu ketika jatuh sakit. Pada masa sulit itu, ia mencoba untuk optimis di tengah terjangan dekadensi—sebuah fenomena yang menyeret manusia untuk membuang moralnya, wujud perilaku dekadensi ialah menyalahkan keadaan dan bertindak semaunya—dengan bahan bakar harapan agar segera sembuh. 

Harapan untuk sembuh membuat Nietzsche tidak malas dalam mengamati realitas di hadapannya dengan terus-menerus menjaga pikiran agar tetap jernih.

Banyak remaja, pemuda, bahkan orang dewasa yang berambisi melawan bobroknya tatanan dunia, tetapi mereka tidak seperti Nietzsche yang mampu mengeluarkan diri dari pusaran dekadensi, melainkan terseret oleh pusaran tersebut dan terasing dari kesadaran (contoh; penggunaan narkoba).

Untuk kasus pengguna narkoba, penyembuhannya hanya mampu dengan metode rehabilitasi. Aku percaya, esensi rehabilitasi ialah proses penanaman sebuah harapan.

Pelaksanaan rehabilitasi pun juga harus disertai harapan. Tanpanya, para petugas tidak akan mampu bersabar. Tanpa harapan, kerabat dekat korban narkoba tidak akan mampu menjadi tegar, tidak akan mampu memberi dukungan kepada korban, bahkan bisa jadi ikut-ikutan dekadensi.

Kebetulan aku pernah berbincang dengan seorang pedagang religius. Ia terlilit utang yang cukup besar. Ia bercerita mengenai bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan cara gali lubang tutup lubang, berutang untuk membayar utang. Aku membayangkan bagaimana sulitnya bekerja seperti itu, seakan apa yang telah dikerjakan tidak ada habisnya, jalan di tempat.

Kemudian ia bercerita lagi, bahwa sebenarnya tidak takut menjalani kehidupan seperti itu, ia yakin terhadap Tuhan yang selalu memberi naungan di setiap langkahnya. Ia percaya tragedi yang menimpa hidupnya akan berakhir, ia sadar bahwa dunia adalah sebuah lahan cobaan.

Dalam kasus pedagang religius, bergantungnya manusia terhadap sebuah harapan malah menjadikannya tegar, menjadikannya sekuat superman.

Ternyata manusia memang mampu menjadi sekuat superman dalam hal ketahanan mental. Kurasa ketahanan mental merupakan kebutuhan pokok manusia agar mampu membuktikan dirinya sebagai makhluk sempurna.

Alasan yang mendukung asumsiku adalah tanpa ketahanan mental, manusia tidak akan mampu merampungkan tugasnya untuk mewujudkan mimpinya. Tanpa ketahanan mental, manusia tidak akan pernah mampu mengubah dunia penuh hutan belantara menjadi seperti sekarang ini yang penuh dengan inovasi.

Seorang yang cacat fisik sekalipun jika mempunyai ketahanan mental, maka ia akan mampu memberikan sumbangsihnya kepada dunia. Bandingkan dengan banyaknya manusia sehat secara fisik, tetapi tidak mempunyai ketahanan mental, arus dekadensi akan menyeretnya.

Jadi untuk memperoleh ketahanan mental super, lebih realistis menggunakan cara yang  mana, menggantungkan diri kepada harapan atau menolak harapan? Kalau jawabannya ialah mengantungkan diri kepada harapan, lalu ke mana kita mengantungkannya? Sudah benarkah cara kita berharap? Sudah tepatkah tujuan tempat kita mengantungkan pengharapan?

Jangan sampai ketahanan mental yang telah dibangun lama runtuh begitu saja, karena ketidak-tepatan tujuan tempat kita mengantungkan harapan. Hidup dan matinya manusia bukanlah sesuatu yang absurd, melainkan terdapat sebuah misi dan makna di dalamnya.