Bagaimana Anda mendapatkan ide untuk menulis The Wind-Up Bird Chronicle? Bagaimana struktur kerja harian Anda? Siapa musisi jazz favorit Anda? Apakah mudah menulis buku-buku yang lebih tebal, atau jauh lebih menantang?

Inilah beberapa dari sekian benyak pertanyaan yang Anda akan temukan saat membaca buku Semesta Murakami: Kumpulan Wawancara dan Obrolan Hangat dengan Haruki Murakami.

Murakami sendiri adalah seorang lelaki yang lahir di Kyoto pada tahun 1949, dari keluarga kelas menengah yang memiliki minat khusus pada budaya jepang. 

Ia terlahir dari kedua orangtua yang berprofesi sebagai guru sastra Jepang, tapi secara alami Murakami tak menyukai itu (sastra Jepang).

Sejak dini Murakami menolak sastra, musik, dan seni Jepang lalu mendekatkan diri dengan dunia di luar Jepang. Sebuah dunia yang hanya ia kenal melalui rekaman jazz, film-film, Hollywood dan buku.

Pada umur 22 tahun, ia menikahi Yoko Takahashi, yang merupakan teman satu kampusnya di Universitas Waseda. Tak sampai menyelesaikan studinya, Ia kemudian memutuskan keluar dari Universitas dan membuka bar jazz bernama Peter Cat, sebelum secara tiba-tiba memutuskan menjadi seorang penulis.

Novel pertamanya Hear the Wind Sing langsung meraih penghargaan Gunzo Literature Prize. Hingga akhirnya pada tahun 1987 novel realistis pertamanya, Norwegian Wood, mengubahnya menjadi mega bintang sastra.

Membaca buku semesta Murakami akan membukakan kita sebuah cakrawala seputar kehidupan dan dunia kepenulisan Murakami. 

Selain itu, akan ada banyak hal yang Anda akan pelajari soal dunia kepenulisan, sehingga buku ini sangat cocok bagi mereka yang punya niatan jadi seorang penulis.

Nah, dari pengalaman saya membaca buku ini, saya akan menjelaskan beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran bagi mereka yang punya niat menjadi seorang penulis.

Pertama, umur bukanlah hambatan untuk memulai menulis

Banyak orang yang menganggap jika umur adalah hambatan untuk memulai menulis. Menulis memang bukanlah perkara mudah. Tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses panjang.

Sebab itu, beberapa orang menganggap umur tua tak lagi punya kesempatan, dan sudah terlambat untuk memulai. Anggapan-anggapan ini lantas membuat mereka enggan untuk berani memulai.

Padahal jika kita belajar dari Murakami kita akan mendapatkan sebuah fakta jika, Haruki Murakami mulai menulis di usianya yang tak lagi muda. Ia mulai menulis di usia 29 tahun.

Murakami menekankan jika untuk menulis kuncinya hanyalah komitmen dan semangat pantang menyerah.

Komitmen dan semangat inilah yang kemudian mendorong Mukarami untuk menghabiskan waktunya lima sampai enam jam sehari untuk menulis, hingga bisa menjadi penulis hebat sampai saat ini.

Kedua, lupakan aturan tentang menulis dan mulailah menulis

Banyak orang yang tak berani memulai menulis karena selalu terhalang dengan aturan-aturan menulis. Ketakutan akan aturan-aturan menulis inilah yang kemudian membuat orang untuk takut memulai.

Padahal langkah awal untuk menjadi seorang penulis adalah mulailah dengan menulis. Hal yang kemudian diungkapkan Murakami saat diwawancarai Deborah Treisman.

Menurut Murakami untuk menjadi seorang penulis maka mulailah menulis dan lupakan aturan-aturan. Menulislah dan biarkan ceritamu sendiri yang menuntunmu hingga akhir.

“Ketika aku mulai menulis, aku tidak punya rencana sama sekali, jadwal, maupun alur cerita: beranjak dari satu dua paragraf itu, aku hanya terus menulis. Pada akhirnya kisah itu sendiri yang telah menuntunku hingga akhir.” tutur Murakami.

Ketiga, jadikan aktivitas membaca sebagai habitus

Menulis adalah sebuah aktivitas untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau ide-ide yang kita miliki. Sebab itu, untuk memperkaya ide atau gagasan kita, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan asupan lewat aktivitas membaca.

Maka tak jarang banyak anggapan jika aktivitas menulis tak bisa lepas dari aktivitas membaca. Hal seperti ini yang Murakami lakukan. Sejak kecil ia sudah akrab dengan buku, bahkan banyak belajar dari buku yang ia baca.

"Aku suka Stephen King, Raymond Chandler, cerita detektif. Aku tidak ingin menulis hal semacam itu. Yang ingin aku lakukan adalah menggunakan strukturnya, bukan isinya. Lalu aku menaruh isiku pada struktur tersebut.” tutur Murakami

Keempat, kesehatan bagi penulis itu penting

Menjaga kesehatan adalah hal penting bagi penulis. Tubuh yang sehat akan menciptakan kemampuan konsetrasi yang baik. Hal yang dibutuhkan seorang penulis agar bisa mengelola gagasan dengan apik.

Sebab itu, Murakami dalam sesi wawancaranya menekankan betapa pentingnya kesehatan agar bisa memiliki kemampuan konsentrasi yang baik.

Murakami menganggap menjadi penulis dituntut untuk memiliki fisik yang kuat "Aku harus tetap bugar. Jika Anda tidak cukup kuat Anda tidak akan menulis selama lima jam" tutur Murakami.

Pada sesi wawancara berbeda ia mengatakan “Anda harus memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi. Aku rasa inilah bumbu yang paling penting bagi penulis. Untuk itulah aku berlatih setiap hari. Kekuatan fisik sangat penting. Banyak sekali penulis abai soal kesehatan fisik. Mereka minum terlalu banyak dan merokok tanpa henti. Aku tidak mengkritik mereka, tapi bagiku, daya tahan fisik adalah kunci.” tutur Murakami

Lebih lanjut dalam sesi yang sama penulis novel Kronik Burung Pegas ini juga menuturkan, “Ketika aku sedang dalam mode penulisan novel, aku bangun jam empat pagi, dan bekerja selama lima hingga enam jam. Pada sore hari aku biasa berlari sejauh sepuluh kilo meter atau berenang sejauh 1.500 meter (atau melakukan keduanya), lalu membaca sedikit dan mendengarkan musik. Aku tidur jam sembilan malam. Aku menjaga rutinitas ini tanpa variasi.”

Itulah beberapa hal yang bisa Anda pelajari dari buku Semesta Murakami. Namun pada akhirnya, mengaplikasikan kiat-kiat itu kembali lagi kepada seberapa besar tekad dan kesungguhan kita untuk berani memulai.