Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya dan tidak mudah. Namun banyak orang yang ingin menjadi orang tua tidak peduli apakah sanggup, baik secara lahir (finansial) maupun batin (kasih sayang). Pokoknya nikah, punya anak, dan ya sudah, hidup terasa komplet kalau kata orang.

Padahal menjadi orang tua tantangannya banyak, lebih kompleks dari hanya menjadi suami atau istri saja. Kenapa begitu? Karena Tuhan sudah percaya menitipkan satu pasangan yang sudah menikah seorang anak, yang seyogianya harus dirawat sebaik mungkin agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain atau sekecil-kecilnya bagi diri sendiri.

Saya langsung teringat soal perdebatan di media sosial akhir-akhir ini tentang orang tua toxic. Ada berbagai macam opini pro dan kontra yang turut mewarnai perdebatan itu. Saya termasuk tim yang kontra terhadap orang tua toxic. Bagi saya, bukan hanya anak saja yang bisa durhaka, orang tua pun sama.

Durhaka di sini macamnya banyak. Orang tua yang selalu memaksa anaknya menjadi sesuatu padahal si anak tak mampu. Orang tua yang menyakiti anaknya dengan tidak memberi kenyamanan finansial terlebih kasih sayang. Atau yang lebih biadab, orang tua yang tega memerkosa anaknya sendiri dan masih banyak versi lain lagi.

Kalau dalam versi drama, ada kisah menarik antara orang tua dan anak yang sangat rekomen untuk ditonton dan diambil hikmahnya. Drama ini berjudul Sky Castle, besutan sutradara Jo Hyun-tak yang tayang di Korea pada akhir tahun 2018 silam.

Sedikit cerita, drama ini bercerita soal kehidupan lima keluarga borjuis di perumahan super elit bernama Sky Castle. Lima keluarga ini memiliki anak dengan masing-masing karakter. Ada Kang Yeh-suh yang pintar dan ambisius namun egois. Ada si kembar Cha yang tidak terlalu pintar namun baik hati. Ada Hwang Woo-jo yang pintar, santun dan baik hati juga ada Kim Hye-na yang pintar dan berani namun miskin.

Karakter-karakter yang dibangun pada setiap tokoh seolah mencerminkan dari pola pengasuhan orang tua mereka. Kang Yeh-suh tumbuh dengan pribadi egois salah satu penyebabnya adalah karena orang tua yang terlalu ambisius untuk memasukkan Yeh-suh ke fakultas kedokteran Universitas Seoul dengan berbagai cara.

Kemudian si kembar Cha Ki-joon dan Cha Seo-jon yang harus dihadapkan pada karakter seorang bapak yang terlalu keras dan ambisius terhadap nilai tinggi agar anak-anaknya bisa menduduki piramida tertinggi dalam sebuah status sosial.

Lain lagi dengan Hye-na yang memang sudah dilahirkan dengan IQ tinggi, jadi ia tak harus bekerja terlalu keras untuk belajar. Namun sebaliknya, dia harus super ekstra mencari uang guna memenuhi kebutuhan hidup dan membayar biaya rumah sakit ibunya.

Selanjutnya ada Hwang Woo-jo. Laki-laki yang terlahir pintar dan baik hati serta tumbuh bersama dengan keluarga yang bisa dibilang sempurna. Ayahnya seorang dokter dan ibunya seorang penulis buku. Sempurna di sini bukan hanya soal finansial yang mumpuni, namun juga support dari orang tua yang tak pernah menentang Woo-jo untuk menjadi apa yang dia inginkan.

Bagian paling pilu yang mengawali tragedi lain dalam kisah di drama Sky Castle adalah setelah Lee Myung-joo ditemukan tewas bunuh diri karena anaknya Park Young-jae 'membuang' sang ibu dan ayahnya Park Soo-chang.

Selama ini Young-jae merasa terkekang dan tak bisa menjalani hidupnya dengan merdeka karena paksaan dari orang tua yang menginginkan dirinya untuk masuk fakultas kedokteran Universitas Seoul. Setelah berhasil mewujudkan impian orang tuanya dengan mengorbankan impiannya sendiri, akhirnya Park Young-jae memutuskan untuk pergi dari rumah. Hal ini yang kemudian menyebabkan hancurnya keluarga Park Soo-chang karena keegoisan orang tua.

Tragedi berlanjut di kehidupan Kang Yeh-suh yang terlanjur tumbuh dalam keluarga yang mengidam-idamkan profesi doktor tiga generasi alumnus Universitas Seoul. Yeh-suh harus belajar dengan pelatih Kim (pada saat itu juga pelatih dari Young-jae) yang ternyata dalang dibalik kematian ibu Young-jae.

Puncak tragedi terjadi saat Kim Hye-na jatuh dari balkon, didorong oleh pembunuh suruhan pelatih Kim sebab Hye-na mengancam untuk melaporkan pelatih Kim karena telah bersekongkol dengan salah satu guru di sekolahnya untuk mencuri soal ujian agar Yeh-suh bisa mendapat nilai sempurna dan lolos masuk universitas.

Drama masih berlanjut, ibu Yeh-suh menutupi kebenaran pembunuhan itu demi anaknya yang malah mengorbankan Woo-joo. Sampai pada akhirnya setelah perdebatan batin dan psikologis, ibu Yeh-suh membawa semua bukti kecurangan dan kejahatan pelatih Kim ke polisi hingga pelatih Kim dan yang bersekutu dengannya dipenjara.

Yeh-suh harus menerima kenyataan bahwa dia dikeluarkan dari sekolah. Mimpinya masuk universitas lenyap. Dari kejadian itu pun, keluarga Cha yang awalnya keras dalam mendidik anak untuk menjadi apa yang mereka inginkan akhirnya tersadar.

Pelan-pelan kehidupan di dalam Sky Castle mulai berubah membaik. Orang tua tidak lagi mengekang anaknya untuk melakukan sesuatu dan menjadi sesuatu yang mereka inginkan. Anak-anak kembali dimerdekakan dan dibebaskan untuk memilih akan menjadi apa mereka di masa depan.

Saya pikir, begitulah seharusnya peran orang tua. Mendukung segala sesuatu yang diinginkan oleh anak selagi baik. Tidak memaksa kehendaknya dan hidup sesuai dengan apa yang Tuhan gariskan. Jadi kalau belum sanggup menjadi orang tua, jangan egois dan jangan keras kepala.