Di zaman yang kian pesat ini, banyak perubahan yang terjadi. Acap kali, situasi-situasi tertentu menjadi tak terkendali bagi sebagian orang. Ditambah dengan berbagai macam bencana seperti pandemi yang terjadi saat ini, membuat manusia mempertanyakan kembali siapa dirinya. Apa itu manusia? Siapa manusia? Takdirkah yang membuat ku menjadi manusia? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tak terlontar, namun juga sering kali membuat hati bergetar.

Pertanyaan-pertanyaan macam itu juga sering kali perlu dijawab dengan kesadaran diri yang penuh tentang “Aku”. Semacam tak boleh ada intervensi ketika memikirkan jawaban tentang pertanyaan tersebut. Dibutuhkan kebebasan dan kemandirian batin yang teguh, seperti halnya Jean-Paul Sartre, yang menggaungkan kebebasan radikal sebagai upaya menjadi “manusia”. Tak hanya manusia, namun manusia yang otentik.

Sartre terkenal dengan pemikiran filosofisnya yang mengasyikkan sekaligus menantang. Ia dikenal pula sebagai pribadi yang selalu berubah di dalam hidupnya. Beberapa sikap yang ia ambil tak jarang banyak menimbulkan kontroversi, seperti di dalam politik, “teman-teman” wanitanya, atau bahkan pandangan filosofis yang ia bangun sendiri. Salah satu perubahan paling radikal dari posisi filosofis Sartre adalah ketika ia memutuskan untuk mengubah pandangan bahwa liyan adalah neraka bagi “Aku”. Menurutnya, selain kebebasan diri untuk membentuk suatu traktat moral, dibutuhkan juga sikap persaudaraan yang radikal.

Sebuah perubahan yang benar-benar mengagetkan bukan? Apakah Sartre memang selalu bimbang? Atau malah sikapnya yang demikian merupakan wujud dari pandangan filosofisnya tentang hidup di dalam situasi (pemikiran yang selalu dalam situasi)?

Bukan soal kebimbangan dan terombang-ambingnya diri Sartre, namun tentang bagaimana sikap yang mesti diambil ketika menghadapi situasi tertentu di dalam hidup. Kita menyadari bahwa hidup selalu berubah, tak pasti, banyak pilihan yang dapat dan perlu diputuskan. Konsep determinisme seakan hanya harapan belaka, bahwa hidup ini sudah ada yang menentukan. Doa-doa tentang “Tuhan yang menentukan takdir” seakan menjadi lagu tidur bagi manusia yang resah akan tantangan situasi. Lalu bisa jadi, hal inilah yang membuat manusia tak menjadi manusia lagi.

Berkaca dari pandangan filosofis Sartre, hal pertama yang harus dipahami yakni manusia adalah “Ia yang mengalami keterlemparan dan selalu keluar dari dirinya sendiri untuk bergerak menidak”. Apa maksudnya? Di sini Sartre ingin mengatakan bahwa manusia adalah dia yang menentukan sendiri siapa dia sebenarnya. Segala pilihan yang diambil, dibuat, dan diputuskan olehnya merupakan pembentuk kodrat sepanjang pergulatan hidupnya. Dengan kata lain, manusia tanpa takdir kecuali ia sendiri yang menentukan.

Hal kedua yang mesti dilihat berulang kali tentang manusia dalam kacamata Sartre adalah “a man is condemmed to be free” atau manusia dikutuk untuk bebas. Di sinilah titik di  mana manusia mampu menentukan siapa dirinya yang sebenarnya. Kebebasan ini dapat terwujud dalam usaha bersikap dan memilih atas kesadaran diri sendiri, maupun menidak atas klaim-klaim diri sendiri. Keadaan gamang dan melamun, sering kali menjadi kondisi hilangnya diri menurut Sartre. Manusia larut dan jatuh dalam lamunan, ia sudah tidak bebas! Oleh karenanya, segala sikap, pemikiran, dan segala hal yang berputar di dalam pikiran manusia perlu disadari secara sungguh agar ia dapat dikatakan bebas.

Lalu kembali lagi kepada persoalan moral dan etika, di mana kebebasan lah yang sering kali disalahkan atas dasar terjadinya kejahatan-kejahatan. Sartre memiliki pandangan yang berbeda akan hal ini. Dengan kebebasan, menurut Sartre, manusia mesti dan selalu dapat memilih yang baik. Meski bebas, manusia hanya dapat memilih yang baik bagi dirinya, dan itu dapat dikatakan baik jika “aku yang lain” memberi semacam afirmasi akan hal itu. Lagi pula, kebebasan juga menuntut suatu tanggung jawab dari manusia. Yang baginya, kebebasan itu dapat menjadi baik.

Mungkin pada titik inilah Satre mulai merubah pikirannya tentang orang lain dalam pembentuk konsep moral, di mana liyan juga menjadi penentu apakah “Aku” bebas dan otentik atau tidak. Kebebasan dan otentisitas “Aku” perlu dibuktikan di dalam keterlibatan bersama “Aku yang lain” atau liyan. Bersamaan dengannya, manusia atau “Aku” telah berusaha mengatasi tantangan situasi yang dihadapkan padanya. Keresahan memang ada, namun keresahan tersebut dapat diubah menjadi keterlibatan aktif di dalam kebersamaan “Aku yang lain”.

Memang, pandangan awal dari Sartre tentang orang lain adalah neraka merupakan usahanya dalam mewujudkan kebebasan radikal dalam dirinya. Kehadiran orang lain hanyalah upaya menjadikan diri sebagai objek atas kehadiran tersebut. Bahkan, adanya Tuhan diingkari oleh karena Sartre menganggap bahwa adanya Tuhan malah menghilangkan kebebasan manusia. Takdir Tuhan yang menentukan, manusia hanya ikut saja. Lebih-lebih hal ini adalah lawan dari metafisika klasik, eksistensi mendahului esensi.

Namun demikian, kita bisa melihat bahwa kontingensi memang nyata. Adanya sesuatu yang pasti dalam hidup manusia hanyalah kontingensi tersebut. Kita dapat menjadi subjek bebas atas pilihan yang dipilih, namun pada dasarnya kita hanyalah objek dari kontingensi itu sendiri. Lantas, harus apa dengan kontingensi tersebut. Resah dan berdiam diri, atau terlibat aktif dan menjadi otentik?