Bak roda berputar, kehidupan memang terus berjalan. Dari terbit fajar hingga tenggelamnya sang surya, manusia pun selalu bertumbuh. Dari janin, terlahir sebagai bayi hingga tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan seterusnya. Selepas malam, kita masih bisa menanti pagi. Namun setelah menua, manusia tidak dapat kembali kepada masa sebelumnya.

Hari ini tidak seperti dengan hari kemarin. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

Kedua petuah bijak tersebut tampaknya relevan jika kita sandingkan dengan kehidupan manusia yang sebenarnya. “Tahun ini harus lebih baik dibanding tahun lalu”, “Usia saya sudah dewasa, harusnya kepribadian saya juga”, atau “Saya makin tua, tidak boleh bersikap seperti anak kecil lagi.” Kalimat-kalimat tersebut kerap kita ucapkan kepada diri sendiri.

Manusia sering kali dibebankan tuntutan lingkungan dan tahapan perkembangan yang memaksanya berevolusi. Ekspektasi pribadi untuk menjadi lebih baik juga menambah beban tersebut. Padahal, tidak ada yang salah jika masih melakukan kesalahan ataupun kekeliruan pada satu tahap perkembangan. Namanya juga hidup, manusia senantiasa berada dalam proses belajar.

Menjadi dewasa berarti berusaha bijaksana. Menghadapi peristiwa dengan meminimalkan konsekuensi negatif dan berusaha menghindari konflik.

Akan tetapi, ternyata menjadi dewasa tidak seberat itu. Mungkin anda punya sosok khusus ingin menjadi dewasa seperti A atau B. Namun jika kita lebih jeli sedikit saja, kita bisa belajar menjadi dewasa dari orang yang mungkin anda anggap paling tidak dewasa sekalipun.

Disadari atau tidak, anak kecil adalah sosok dewasa yang menjelma dalam tubuh kecil. Melalui hal-hal sederhana, mereka menggambarkan sikap dewasa yang semestinya. Hal ini berarti tanpa sadar kita juga sudah belajar menjadi dewasa sedari kecil. Jika terlambat menyadarinya, maka kita bisa belajar bersikap dewasa dengan mengamati mereka.

Setiap hari di lingkungan tempat tinggal, kita sering mendapati anak kecil yang bermain sesuka hati. Main sepak bola di tengah jalan, rok umpet di pelataran rumah tetangga, memanjat atap rumah dan pohon demi layang-layang yang putus, atau hujan-hujanan sekalipun bibir sudah membiru.

Bahkan jika hari libur, mereka bisa bermain sejak pagi hingga malam hari. Hanya pulang beristirahat jika ibunya sudah mengomel.

Sebagai orang dewasa, mungkin kita tak bisa lagi merasakan kebebasan mereka dalam bermain. Seharian penuh bermain dengan peluh diiringi tawa suka cita. Akan tetapi, kita tidak benar-benar kehilangan momen itu. Kita dapat merasakan sensasi menjadi anak kecil dalam keseharian kita menjadi orang (yang dituntut) dewasa.

Orang dewasa bisa kembali menjadi anak kecil yang selalu bersemangat bermain. Sekalipun capek dan mendapatkan “peringatan” sana-sini, semangat yang membara perlu dipertahankan agar tetap selalu bertahan dan berjuang. Seperti anak kecil, peluh mereka membawa tawa. Bagi orang dewasa, keluh mereka baiknya membawa bahagia.

Mereka pun bermain di jalan dengan santai sekalipun beberapa kali kendaraan lewat. Menggunakan pekarangan tetangga seperti rumah sendiri dan memanjat pohon yang rindang dan menjulang tinggi. Artinya, anak kecil tidak takut menghadapi risiko.

Sekalipun paham dengan keadaan lingkungan bermain, mereka tetap bergembira dan menikmati keadaan tersebut. Sekalipun lingkungan pekerjaan tidak mendukung, orang dewasa perlu tetap merasa bahagia.

Sebaliknya, beberapa orang dewasa justru terjebak dalam overthinking yang muaranya adalah galau. Galau berkepanjangan ini berdampak pada pilihannya yang tidak berujung. Jika orang dewasa bisa selalu berikap berani mengambil risiko tentu sangat menyenangkan karena bisa mengeksplor apapun tantangan di depan mata.

Selain itu, sebagai orang dewasa kita kadang merasa buntu dengan pertanyaan adik kecil kita yang tiada hentinya. Satu pertanyaan “kenapa?” akan berujung pada puluhan “kenapa?” lainnya. Mereka selalu mempertanyakan hal-hal yang belum mereka ketahui dengan rasa ingin tahu yang besar.

Berbeda dengan anak kecil, orang dewasa cenderung menutup diri dengan pertanyaan. Entah karena tidak mau dianggap kepo atau takut dianggap bodoh. Jika muncul pertanyaan pun orang dewasa memiliki senjata pamungkas. Searching di internet sering kali menjadi labuhan terakhir. Mereka memilih jalur aman yang dirasa tahu segalanya dengan jawaban yang benar.

Menjadi anak kecil juga berarti bersikap bodo amat. Tidak terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan, dan tetap menjalani aktivitas seperti biasanya. Sikap ini yang tampaknya paling dibutuhkan orang dewasa. Mereka ingin memiliki kemampuan untuk tidak mudah tersinggung dan memikirkan perkataan orang lain secara berlebihan.

Bersikap bodo amat juga berarti meredakan emosi yang bergejolak di dalam hati. Emosi yang dimaksud adalah rasa kesal, marah ataupun kecewa.

Seperti laiknya anak kecil, ketika bermain tak jarang terjadi salah paham sampai salah satunya menangis. Namun perkelahian itu tidak berlangsung lama sebab setelah tangisnya reda, mereka akan kembali bermain bersama. Kesedihan dan kekecewaan mereka sementara, kebahagiaan bermain adalah selamanya.

Bagaimana pun keadaannya, anak kecil selalu menikmati masa sekarang. Yang paling penting adalah hari ini dan saat ini. Mereka tidak menyesali masa lalu ataupun mengkhawatirkan masa depan. Betapa indahnya hidup ini seandainya orang dewasa bisa bersikap demikian?