Belum lama ini, saya mendapat kiriman semangkuk bubur. “Sofia, anak saya, mudhun lemah”, demikian pesan seorang teman. Tradisi Jawa yang dinamakan juga tedhak siten, atau turun tanah ini dilakukan untuk merayakan kali pertama seorang anak belajar menginjak tanah. Momen anak-anak dikenalkan pilihan profesi dan pekerjaan. Memilih jalan hidup masa depan.

Saya turut bahagia, bukan sebab buburnya. Melainkan tertulari energi kebahagiaan orang tuanya. Apalagi obrolan tentang tradisi ini menjadi selingan, di antara dominasi percakapan corona-sentris. 

Meskipun kota tempat tinggal saya, mengklaim diri sebagai zona hijau, tapi banyak di antara kami berusaha tak tertipu “keamanan palsu” bersumber rilis statistik. Kami menahan diri, tidak berkunjung bahkan ketika teman-teman kami dianugerahi baby. Menjadi saksi upacara cukup dengan mengintip foto dan video tingkah gemas buah hati keluarga.

Salah satu adegan menggemaskan dalam mudhun lemah adalah prosesi saat bayi merangkak keluar dari kurungan dengan dikelilingi bermacam benda untuk diraihnya. Pensil, uang, cermin, buku tulis, mainan pistol, mainan kotak obat, mobil-mobilan, yang mewakili lambang profesi pilihannya. Dan, ternyata, Sofia ini memilih kotak obat. “Wah, si Sofia akan menjadi dokter”. Sebuah prediksi, tepatnya harapan dari keluarga.

Tanpa ikut melihat videonya, teman nyeletuk berkelakar, “Jangan-jangan yang ditaruh di di sekelilingnya, memang cuma bungkus-obat-obatan, tidak dikasih pilihan lain”. Ayah ibu dari Sofia, memang tenaga medis di sebuah fasilitas kesehatan.

Selain kegembiraan, banyak orang tua si balita yang sangat berhati-hati, karena diliputi kecemasan. Contohnya, Si Sofia ini belum merasakan diajak jalan-jalan sekedar ke kompleks perumahan. Jelas, karena tidak ingin menanggung resiko disentuh, diuyel-uyel apalagi diciumi tetangga. Bahkan neneknya sendiri harus mandi dulu, tiap kali ingin menggendongnya.

Merdeka Menjadi Apa Saja

Seperti tersimbolkan dalam tradisi turun tanah. Seiring tumbuh kembangnya, seseorang anak harus memilih dan memutuskan di antara banyak alternatif, sekolah, jurusan, pekerjaan dan kompleksitas masa depan. Terbuka kesempatan untuk menjadi apa saja.

Kemerdekaan untuk menjadi apa saja sesuai pilihannya ini penting. Pernah, teman saya mengungkap kaget dengan cita-cita anaknya, “Saya ingin menjadi chef”. Banyak orang tua lupa, ini era saat generasi bebas belajar dengan bermacam cara. 

Platform belajar online, misalnya bisa didapat dengan gratisan. Toh, diantara mereka banyak yang mengakses kisah-kisah, seperti misalnya tokoh Ikal dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata atau Alif tokoh dalam Negeri 5 Menara, karya Ahmad Fuadi yang mampu menggapai impian dengan mengakses beasiswa.

Jika hendak berbisnis bisa membaca kisah ala Yasa Singgih, owner Mens Republic. Pendeknya, ini era bebas belajar, bebas bekerja dan bebas berbisnis. Bahkan bebas jika memilih menjadi tenaga lepas.

Jadi, saya sedikit memperoleh harapan, saat mendengar puteri saya, “Saya nggak ingin, seperti ayah bunda. Pakai seragam setiap hari. Saya ingin kerja di rumah aja”. Keinginannya membuat saya ingat, waktu saya remaja sering mendapat nasihat. “Jangan jadi kuli pabrik, upahnya ngga naik-naik.”. Jangan jadi petani, panennya padi dua kali, bayar listriknya tiap bulan” Jangan ini, jangan itu.

Perjalanan hidup memang mengantarkan saya menjadi abdi negara. Bukan jalan menjadi kaya, tetapi sebuah profesi yang cukup diidam-idamkan di desa tempat saya tinggal. Toh, saya beruntung, ketika membaca kisah guru honorer dengan sepatu digantung di leher, karena menyusuri jalan berlumpur, dengan gaji ratusan ribu. Banyak yang memilih jalan PNS, tetapi yang didapat menjadi honorer. Jalan yang  acapkali penuh horror kesejahteraan.

Keponakan saya, yang tinggal di kota besar, pada kesempatan ikut ayahnya mudik, pernah komentar yang membuat saya terasa kuno. “Sekarang era disrupsi, Om. Memilih pekerjaan jangan konvensional banget. Sekarang butuh profesional yang berbasis digital. Bisa jadi data scientist, ahli cyber security, software architect, business analyst,” Entah apalagi yang dia sebutkan. Karena dia “penduduk asli” dunia digital. “Kalo bingung, jadi youtuber saja, uang milyaran”.

Sebab itulah, saat mengantarkan anak saya ke gerai Sang Pisang yang baru launching, di kota kami. Spontan saja saya berpesan, “Contohlah anak presiden, Nok. Walaupun bapaknya orang nomor 1 di Indonesia, tetap berusaha mandiri, berani dan tidak malu wirausaha. Si Kakak jualan martabak. Adiknya jualan pisang.”

Wajar jika orang tua seperti saya, kemudian sedikit bergeser pemikiran. Tidak terkungkung pola pikir lama, berupaya keluar dari jalan penuh rutinitas. Melatih anak-anaknya terbiasa dengan alternatif-alternatif, mengajaknya berpikir kreatif.

Aura Krisis, Aura Kemenangan

Sebagai seorang yang bekerja dalam birokrasi, saya tahu sulitnya berinovasi. Jadi saya cukup maklum, saat Bapak Jokowi menyebutkan tidak adanya aura krisis sembari mengkritik pembantunya-pembantunya yang terbelenggu rutinitas, tidak pandai mencari jalan keluar. Milenial seinovatif Mas Nadiem saja kerepotan. Krisis akibat pandemi ini memang membuat segala jenis pilihan seperti bertemu jalan buntu.

Selain lelah, saya melihat wajah marah pada Presiden. Konon, marah itu selain mencerminkan kekecewaan kepada orang lain. Juga tanda kecewa kepada dirinya sendiri.

Tak mungkin menebak kekecewaan seperti apa yang tersembunyi dalam diri beliau. Tetapi, saya pribadi mencatat kekecewaan pada diri personal saya. Pasalnya, Gibran pernah saya sodorkan sebagai contoh konkret untuk anak saya. Eh, malah memilih tombol shortcut, mencalonkan menjadi walikota. Apa ini makna berpikir cepat? Atau kita belum merdeka dari cara-cara lama.

Di tengah narasi tentang nihilnya aura krisis. Wajar banyak pihak merasakan pancaran energi-energi negatif. Salah satunya adalah energi aneh berupa hasrat politik. Tidak heran, tumbuh kekecewaan publik. Tetapi, atas nama keuntungan elektoral, tentu saja jawaban paling mungkin adalah bagi pemain-pemain politik, pada Gibran ini terpancar karena “aura kemenangan”.

Sudahlah, saya tidak sedang berbincang dinasti poltik. Sudah terlalu banyak diksi itu akhir-akhir ini. Hanya diam-diam saya merasa kalah dan salah. Terlanjur menjadikannya contoh konkret bagi anak saya, bahwa kita bisa menjadi apa saja, tidak harus seperti orang tuanya. Menjadikannya sebagai contoh anak muda dengan energi keberanian, kemandirian, dan kebebasan.

Bolehlah, memilih dunia politik adalah pilihan yang baik. Posisi yang baik harus direbut orang-orang muda yang baik. Saya sepakat. Tetapi ada satu hal, yang harus saya ralat untuk anak saya. "Nok, kelak kamu bisa menjadi apa saja, termasuk jika ingin mengikuti jejak orang tua". Pada titik inilah, saya memaklumi jalan Gibran.

Setiap orang tua mengangankan anak-anaknya lebih baik dari dirinya. Tetapi saat pandemi ini, saya nguping obrolan ibu-ibu di desa “Nggak tahulah, apa jadinya. Jika sekolah internetan ini terus dijalankan. Orang-orang kaya, orang-orang sih enak. Lha anak saya, sudah saya mati-matian nyukupi kuota. Eh, malah malasnya minta ampun”. 

Yang lain menimpali “Kalem to, Bu. Toh sudah tidak zaman bicara rangking. Semua akan naik kelas”. Yang lain berkata, “Betul, nggak usah khawatir dengan masa depan anak-anak. Pasti nanti ada jalan”

Pasti ada jalan. Mungkin ini terdengar sebagai kepasrahan. Berjalan tanpa peta. Tidak ada aura kemenangan. Tidak bisa memilih, tetapi mengalir saja. Meskipun begitu, barangkali kita memang belum bisa “naik kelas”. Sudah wataknya manusia-manusia kebanyakan seperti kita, hanya bertahan, sembari menyimpan sedikit harapan. Meskipun harapan itu tak seglowing wajah Aura Kasih.