Kehidupan yang sangat dinamis ini ternyata telah menghadirkan seribu satu permasalahan yang ajaib. Mulai dari permasalahan yang bisa dibilang rumit, hingga permasalahan-permasalahan yang bisa diselesaikan sambil diam dengan sikap lilin. Kehidupan sangat kaya akan permasalahan.

Dan permasalahan-permasalahan yang ditelurkan oleh kehidupan yang dinamis ini nyatanya tidak melulu hadir di dunia kasat mata kita. Tidak selalu hadir di realitas kita. Bahkan masalah yang timbul sering kali lahir dari dunia hampa bernama media sosial. 

Dunia yang penuh akan kesalahpahaman. Dunia yang diciptakan untuk membuat kita lari dari realitas. Media sosial berperan menciptakan masalah baru selain bejibunnya masalah di dunia kita yang sebenarnya.

Saya sebagai pengguna media sosial yang cukup loyal telah belajar banyak dari sebuah permasalahan yang terjadi di dunia media sosial. Masalah yang saya alami ini sebenarnya sangatlah sepele. Bisa dibilang sangat tidak penting. 

Itu dulu. Dan sekarang saya telah belajar bahwa hal yang dulu saya anggap tidak penting nyatanya telah membuat saya melupakan hal-hal kecil dalam hidup saya.

Masalah ini bermula ketika ada satu teman saya. Dia seorang wanita. Suatu ketika saya dengan dia sedang kumpul-kumpul dengan teman-teman yang lain. Asyik saya ngobrol, tiba-tiba dia menegur saya dan entah itu sebuah efekan atau guyonan, saya juga tidak begitu paham.

Dia berkata, “Rid sok ngartis ya, komenanku di Instagram cuma dibaca aja gak diapa-apain, sombong kamu.” Deg, jantung saya berdegup. Di tengah teman-teman yang lain dia berkata seperti itu ke saya. 

Momen tersebut cukup awkward karena dia mengatakannya dengan cukup lantang. Saya pun saat itu tidak terlalu paham, apa maksud dia menyampaikan hal tersebut kepada saya. Hingga akhirnya kumpul-kumpul tersebut selesai. Saya kembali ke rumah.

Mengingat kata-kata teman saya tersebut, saya sempat bingung. Ada salah apa saya dengannya. Seingat saya selama ini saya tidak pernah memiliki musuh. Hingga saya ingat, komenan. Jangan-jangan ini hanya soal komenan media sosial. Langsung saya berinisiatif membuka Instagram dan langsung membuka kolom komentar yang isinya dia. 

Benar, ternyata ini masalahnya. Dia baper hanya komennya saja yang tidak saya balas. Dan saya langsung berujar, “Cuma masalah gini aja to!” Begitu tidak pentingnya masalah tersebut bagi saya saat itu.

Namun seiring berjalannya waktu, sambil terus mengingat perkataan teman saya tersebut. Saya akhirnya sadar bahwa komentar yang tidak dibalas itu kadang bisa bikin baper. Bisa bikin orang berspekulasi terhadap diri kita. 

Dan tentunya bisa bikin orang lain dendam kesumat kepada kita. Walaupun pertemanan saya dengan wanita yang mengefek saya tersebut masih baik-baik saja. Tapi perkataannya terlalu membekas di pikiran saya hingga saat ini.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa hanya dengan komentar tak dibalas, dunia media sosial bisa menimbulkan masalah yang serius terhadap perasaan. Tentu saja saya tidak menyangkal bahwa itu sangat tidak penting.

Tapi saya tahu ternyata hal tersebut tidak mengenakkan. Baru-baru ini saya merasakannya. Dan rasanya sakit memang. Saya berkomentar di kolom komentar IG teman saya dan ternyata hanya komentar saya yang tidak dibalas. Seperti ingin autoblokir saat itu juga.

Ternyata komentar yang tak dibalas itu tidak enak. Apalagi jika komentar itu kita berikan ke sahabat atau teman dekat. Jika tidak dibalas, rasanya gimana gitu.

Saat ini saya sudah paham dan sadar, bahwa dari permasalahan komentar tak berbalas itu berkaitan dengan belajar menghargai lewat hal-hal sederhana. Dengan membalas komentar orang lain yang rela meluangkan waktunya untuk mengomentari foto kita, tulisan kita hingga apa pun yang kita posting di media sosial. Hal tersebut sudah sangat berharga bagi mereka yang memberikan komentar di kolom media sosialmu.

Tidak terkeculai DM Instagram atau komentar Instastory. Karaktermu sebagai manusia bisa dinilai dari bagaimana kamu menghargai orang yang berkomentar di akun media sosialmu.

Lain cerita jika komentar itu komentar negatif. Jika hanya komentar bercanda atau memberikan semangat, jangan sombong untuk pura-pura tidak melihat dan tidak mengecek media sosial. Balaslah. Bisa dengan kalimat-kalimat lucu. 

Atau jika kamu sedang malas, cukup dengan stiker pun mereka yang berkomentar di akun media sosialmu sudah merasa senang. Sesederhana itulah kadang para masyarakat dunia maya merasa dirinya dihargai.

“Aku tidak peduli sih soal gituan. Kan ini media sosialku dan aku bebas mau ngapain aja”, “gak ada waktu balasin komentar satu-satu”, “buang-buang waktu aja, mending cari hal yang lebih bermanfaat.”

Kalimat-kalimat di atas adalah beberapa contoh pembelaan bagi mereka yang menganggap membalas komentar itu tidak lebih penting dari membicarakan siapa menteri di kabinet pemerintahan yang baru ini.

Saya tahu media sosial itu adalah hak pribadi. Saya tahu bahwa kalian ada yang sibuk dan saya thau hal tersebut mungkin buang-buang waktu. Tapi kadang dunia maya ini juga hampir mirip dengan dunia nyata dan bahkan lebih kejam. 

Jika kalian merasa tidak peduli dengan hal seperti itu, masih banyak jutaan orang yang hatinya tidak kamu tahu. Ada mereka yang baper, marah atau patah hati hanya komentar mereka tidak dibalas. Jadi setidaknya cobalah lebih peka dengan hal-hal yang tidak penting .

Tidak ada waktu untuk membalas komentar satu-satu menjadi alasan yang sah jika kolom komentar kamu diisi ribuan komen atau ratusan komentar. Jika kolom komentar kamu hanya diisi satu, lima atau yang paling banyak sepuluh orang yang berkomentar. Alasan tidak ada waktu untuk membalas itu hanya alibi sampah.

Membuang-buang waktu dan lebih baik mencari hal yang lebih bermanfaat. Benar, membalas komentar itu hanya membuang waktu. Dan orang-orang yang berkomentar di media soialmu adalah orang-orang yang telah meluangkan 20 detik hingga beberapa menit untuk menuliskannya di kolom komentar medsos kalian. 

Sikap kita akan diuji apakah kita orang yang akan dispekulasikan sombong atau lebih baik menghargai hal-hal sederhana dengan membalasnya? Itu sebuah pilihan.

Makin majunya zaman pada akhirnya membuat manusia makin kreatif dalam berpikir dan tentunya berspekulasi terhadap masalah. Ketidakpentingan yang bagi banyak orang hanya sebuah masalah sampah nyatanya bisa menjadi bom waktu yang jika disimpan terus-menerus akan meledak secara diam-diam atau secara brutal. 

Membalas komentar di media sosial adalah sebuah masalah tidak penting yang nyatanya penting untuk disadari. Bahwa kita saat Ini adalah individu yang gampang baper dengan hal-hal tidak penting. 

Individu yang senang mencari sebuah masalah yang bisa diselesaikan dengan tidur. Dan seperti kata Kalis Mardiasih yang disadur dari Remy Sylado dengan beberapa modifikasi dari saya, kita memang terlalu sering merepotkan diri sendiri untuk masalah-masalah yang seharusnya dapat diselesaikan sambil ngopi dan ketawa-ketawa.