Pernah nggak diminta oleh atasan untuk melakukan sesuatu di luar pekerjaan rutin kalian? atau melihat anak-anak kita diminta oleh gurunya mengerjakan tugas selain mata pelajaran yang favoritnya? Kondisi semacam itu sering kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berikutnya yang timbul akibat kondisi tersebut adalah rasa kesal dan malas. Kesal karena kita harus mengerjakan sesuatu yang bukan keahlian kita sedangkan rasa malas timbul karena kita dipaksa belajar hal yang baru.

Sebagian orang ingin bertahan pada comfort zone. Artinya, mereka sudah nyaman dengan pekerjaannya saat ini. Oleh sebab itu, ketika ada perintah untuk memelajari hal baru, mereka cenderung menolak. Kalaupun harus melakukannya, pasti dengan berat hati.

Berbeda dengan orang yang suka belajar hal-hal baru. Mereka akan tertantang untuk belajar sesuatu yang belum mereka kuasai. Selain itu, mereka berani keluar dari zona nyaman dan berani mengambil risiko terjadinya kegagalan. Mereka menganggap bahwa kegagalan adalah suatu hal yang wajar dalam proses belajar.

Nah, pertanyaannya adalah bagaimana manusia mampu beradaptasi dan akhirnya mampu menguasai hal-hal baru tersebut? Saya pernah membaca sebuah artikel menarik yang dimuat di www.sehatq.com. Artikel tersebut membahas sebuah penelitian yang dilakukan tim dari University of Pittsburgh dan Carnegie Mellon University untuk menguak misteri cara kerja otak dalam memelajari hal-hal baru. 

Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa pembelajaran jangka panjang dan terus menerus membentuk pola aktivitas saraf yang baru. Ketika hal ini tercipta, di situlah seorang individu dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak dikuasai.

Contoh sederhananya adalah seorang yang baru belajar memainkan gitar. Otak orang tersebut pasti belum mengenal chord-chord gitar. Seiring dengan pembelajaran rutin selama periode waktu tertentu, ada pola baru yang menyehatkan terbentuk di otak. 

Dia semakin terampil menggerakkan jari jemarinya memainkan gitar sehingga menghasilkan melodi yang enak didengar. Otak adalah organ tubuh yang fleksibel dan siap menerima hal baru. Artinya, setiap individu mempunyai keputusan yang berbeda untuk terus-menerus memelajari hal baru sesuai dengan keinginannya.

Selain penjelasan di atas yang bersifat teori, saya mempunyai pengalaman menarik tentang seseorang yang belajar ilmu baru. Saya pernah mengajar di sebuah universitas yang saat itu membuka program studi baru, yaitu program studi akuntansi. 

Mahasiswa saya adalah anak-anak muda yang baru lulus SMA. Wah betapa beruntungnya saya karena mahasiswa-mahasiswa itu masih fresh sehingga saya nggak terlalu sulit untuk mengarahkan mereka. Tetapi, kondisi kelas tidak seperti yang saya perkirakan.

Awalnya, saya berpikir bahwa semua mahasiswa berasal dari SMA (baik IPA/IPS) dan SMK jurusan Akuntansi. Ternyata ada satu orang mahasiswa saya berasal dari SMK jurusan otomotif. Nah lo jadi masalah nggak tuh?

Dia yang biasanya pegang tang, obeng, kunci inggris, palu, linggis, cangkul harus belajar debet kredit dan itung-itung angka yang nggak ada duitnya. Waduh, ini bener-bener tantangan buat saya. Ah, sudahlah show must go on! Begitu tekat saya saat itu. Pokoknya nggak ada kata “menyerah” deh.

Awal perkuliahan berjalan dengan baik. Saya melihat semua mahasiswa antusias.  Wah seneng dong ya. Sebagai dosen baru, saya bisa bikin mahasiswa “terhipnotis”. Mereka memperhatikan serius sekali sampai-sampai waktu mengajar dua jam nggak terasa.

Masalah muncul pada pertemuan ketiga. Saya perhatikan ada yang janggal pada salah satu mahasiswa saya. Sebut saja dia si X. Ketika mengoreksi tugasnya, saya benar-benar kaget. Lho kok hasilnya jadi gini ya? Wah ada nggak beres nih!.

Jadi, si X ini mengasumsikan bahwa jika bertambah itu pasti “debet” sedangkan kalau berkurang itu pasti “kredit”. Waduh, jadi masalah besar kalau sampai nggak dibenerin. Jangankan si X yang masih mahasiswa, orang yang sudah menjadi praktisi saja bisa kebolak balik saat membuat jurnal. Mumpung belum terlanjur salah kaprah maka pada pertemuan berikutnya saya panggil si X. Saya jelaskan satu per satu kesalahannya dalam mengerjakan tugas.

Si X bercerita tentang kesulitannya memahami akuntansi. Selama tiga tahun dia belajar teknik otomotif. Gara-gara mendapatkan beasiswa, dia “terpaksa” belajar akuntansi. Saya bisa memahami semua penjelasannya dan menganggapnya wajar. 

Di akhir cerita, si X menyampaikan keinginannya untuk berhenti kuliah. Wah, sayang banget ya kalau kesempatan mendapatkan beasiswa harus disia-siakan. Saya terus memotivasi si X untuk bertahan dan mau belajar akuntansi. Saya punya feeling si X ini bisa belajar lintas bidang meskipun memerlukan kesabaran ekstra.

Di kelas saya ada seorang mahasiswi alumni SMK jurusan Akuntansi yang cukup pandai dan kebetulan rumahnya satu daerah dengan si X. Saya lihat mahasiswi ini bisa membantu si X belajar. Tanpa sepengetahuan si X, saya memonitor belajarnya melalui mahasiswi tadi. 

Di luar dugaan saya, si X punya semangat belajar yang tinggi. Dia tipikal cowok tangguh dan pekerja keras. Dalam waktu yang singkat dia mampu menyejajarkan diri dengan teman-temannya yang lain.

Ujian akhir semester telah selesai. Beberapa waktu kemudian nilai mata kuliah Pengantar Akuntansi sudah keluar. Surprise! ternyata si X mendapat nilai bagus dan nggak kalah dari teman-temannya. Wah seneng banget lihat usahanya.

Dari pengalaman saya mengajar si X, ternyata belajar lintas bidang bukan sesuatu yang mustahil dilakukan. Semuanya membutuhkan proses dan tidak ada yang instan. Kunci suksesnya adalah kemauan keras, kesabaran, ketekunan dan tidak takut gagal.