Penulis
1 tahun lalu · 102 view · 3 min baca menit baca · Agama 49038_28753.jpg
bali.com

Belajar Kerukunan dari Umat Hindu di Bali

Setelah beberapa hari tidak menulis dikarenakan aktifitas yang padat, tiba-tiba terbersit dalam angan untuk sekedar corat-coret tentang Bali. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa tulisan ini tidaklah lahir dari ruang hampa. Karena setiap tulisan selalu diiringi oleh konteks yang melatar belakanginya. Kalau dalam terminologi Ulumul Qur’an, biasa disebut Azbabun Nuzul. 

Entahlah, tulisan ini mau disebut refleksi, introspeksi atau bahkan sekedar kekesalan penulis terhadap realitas hidup yang semakin silang sengkarut, terserah saudara (pembaca). Kesilang sengkarutan ini bisa dilihat dari disharmonisasi yang seringkali terjadi antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, baik agama maupun aliran.

Ironisnya, ketidak harmonisan ini selalu dipicu oleh isu-isu agama sebagai bahan peledaknya. Agama rentan dijadikan alat provokasi oleh para elit yang berkepentingan dengan suatu konflik, sebagaimana kita mafhum bahwa, isu-isu agama merupakan salah satu isu paling sensitif untuk meledakkan suatu konflik.

Diakui ataupun tidak, yang jelas ini adalah realitas kehidupan kita. Baiklah, supaya saudara lebih yakin dengan statmen di atas, penulis akan mereviuw ingatan saudara ke beberapa tahun silam, dimana konflik  meledak dimana-mana, dengan berbagai macam isu sebagai pemicunya. Mulai dari isu agama sebagaimana lumrah terjadi, hingga isu etnis dan golongan.   

Penulis akan merunut berbagai macam konflik yang pernah meledak di Indonesia. Yaitu, mulai  konflik Muslim-Kristen terkait penyiaran agama. Dimana kalangan  muslim di beberapa daerah merasa menjadi sasaran atau target dari kristenisasi. Sehingga terjadilah ketegangan antara Muslim-Kristen sebagai dampak dari adanya praktik penyiaran keagamaan yang demikian.

Kemudian kerususuhan Situbondo yang berujung pada gerakan anti Kristen-Tionghoa, sehingga amarah itu memuncak pada tanggal 10 oktober yang mengakibatkan dibakarnya gereja-gereja beserta toko-toko milik keturunan Tionghua. Juga terjadi konflik Poso, Ambon dan tragedi Sampit.

Sekali lagi, penulis tegaskan bahwa, isu agama sangat rentan dijadikan alat pembakar amarah massa untuk meledakkan konflik oleh segerombolan elit yang hanya memikirkan kepentingan kelompok dan gerombolannya. Sebagaimana terjadi pada saat momen pilkada DKI Jakarta kemarin. Konflik politik yang dibungkus dengan konflik agama.

Perlu diingat, tulisan ini tidak hendak bermaksud membangunkan kembali amarah-amarah antar penganut agama, kelompok dan etnis yang pernah bertikai. Melainkan sebagai bahan refleksi dan introspeksi menuju hidup yang rukun dan damai, mengingat dewasa ini seringkali masyarakat kita disuguhi berbagai macam aneka konflik yang mengancam keutuhan.

Apalagi menjelang masa pilkada 2018 mendatang, masa dimana agama rentan dijadikan tunggangan politik. Demi memuaskan hasrat politiknya, tak jarang agama jadi tumbal keserakahannya, sehingga konflik komunal pun tak terelakkan. Sungguh naif bukan?, mari kita sudahi konflik-konflik tersebut. Segeralah sadar bahwa, kemajemukan adalah keniscayaan.

Dalam hal ini, penulis memandang perlu kiranya untuk belajar kerukunan pada umat Hindu-Bali. Bali adalah tempat yang tidak hanya nyaman karena keindahan alamnya yang eksotis, tetapi juga karena kerukunan yang berhasil dipraktekkan di tengah-tengah kemajemukan yang ada.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Hindu dan Bali adalah dua entitas tak terpisahkan. Mengutip bahasanya Faisal Ismail, Bali adalah Hindu dan Hindu adalah Bali. Karena memang, Hindu mempunyai peranan yang sangat dominan bagi kehidupan masyarakat Bali.

Ini dapat dilacak dari hari-hari besar keagamaan yang dirayakan oleh umat Hindu-Bali. Ada tiga hari besar yang dirayakan dalam setahun: Hari Raya nyepi, Hari Raya Kuningan dan Hari Raya Galungan (Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, 2014, 128).

Meskipun umat Hindu adalah mayoritas, tetapi mereka tidak menegasikan eksistensi umat lain yang minoritas, termasuk umat Muslim. Kaum mayoritas mampu hidup berdampingan dengan kaum minoritas dengan segala bentuk toleransi dan kerukunan. Umat Hindu yang mayoritas tidak semena-mena terhadap umat minoritas lainnya.

Salah satu contoh konkritnya adalah umat Hindu mempersilahkan umat Islam menggunakan lapangan Badung, Denpasar untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Lapangan ini pada biasanya digunakan oleh umat Hindu saat pelaksanaan hari-hari besar keagamaan dan upacara-upacara lainnya.

Menurut hemat penulis, hal semacam ini terjadi karena umat Hindu-Bali lebih mampu memanifestasikan ajaran luhur agamanya dari pada umat-umat yang lain. Kita pasti sepakat, bahwa setiap agama mengajarkan nilai-nilai keluhuran tentang kerukunan antar sesama umat manusia, tanpa memandang dari agama apa dia lahir.

Tetapi yang menjadi persoalan hari ini adalah ketidak mampuan umat-umat pemeluk  agama dalam menerjemahkan ajaran-ajaran agamanya masing-masing, sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Agama lebih dipandang hanya sebagai urusan hamba dan Tuhan-Nya dari pada urusan hamba dengan hamba yang lain.

Mari kita lawan bersama konflik-konflik komunal, terlebih konflik yang mengatasnamakan agama. Karena sejatinya, agama itu membawa pesan-pesan perdamaian dan kerukunan antar penganut agama-agama, bukan pertikaian dan konflik sebagaiman lazim terjadi. Sekali lagi penulis tegaskan, mari belajar kerukunan dari umat Hindu-Bali.

  

 

 

Artikel Terkait