Candaan “the power of kepepet” ternyata ada benarnya juga. Dalam kondisi demikian, otak seperti bekerja lebih cepat secara otomatis. Benar atau tidak, begitulah yang saya rasakan.

Jadi begini. Malam kemarin, saya benar-benar deadlock mau menulis apa untuk deadline tulisan yang harus diselesaikan. Saya coba menyeduh kopi dan meluangkan waktu khusus untuk menulis. 

Tapi tiba-tiba handphone saya berdering, ada panggilan dari seorang kawan. Dia meminta saya untuk ikut bantu urusan kerjaan di Bandung. “Bro, ikut saya ke Bandung malam ini. Saya tunggu di dekat pintu Tol Serang Timur,” begitu kira-kira ucapan teman saya yang mendadak itu.

Saya pun mematikan laptop dan segera berkemas. Beruntungnya, saya punya istri baik dan pengertian. Bebeb juga membantu menyiapkan tetek-bengek keperluannya. Lalu, saya segera memesan ojek online (ojol) via gawai untuk mengejar waktu.

Sembari menunggu driver ojol datang, saya sempatkan waktu untuk mencium kedua anak saya, yang lagi pulas-pulasnya tidur. Tentu saja, saya juga mencium kening, mata, pipi, dan bibir bebeb sebelum berangkat.

Tak lama, Mas Driver ojol tiba. Tanpa perlu basa-basi berkenalan, kami pun langsung cap-cus.

Saat perjalanan, saya berbincang dengan Mas Driver, yang mungkin seumuran dengan saya. Ia mengaku sudah setahun lebih menjalani profesi sebagai driver ojol. 

Dari profesi itu, dirinya bisa membiayai keperluan sehari-hari untuk istri dan dua anaknya. Bahkan dari penghasilnya sebagai diver ojol, masih cukup untuk bayar cicilan rumah bersubsidi. Termasuk membeli gawai, dan motor yang dipakai untuk armada tempurnya. “Alhamdulillah Mas,” katanya bersyukur.

Saya iseng-iseng lagi, tanya alasannya menjadi ojol. Mas Driver bilang, karena pekerjaan itu yang paling memungkikan dilakukan. Terlebih, ia mengaku hanya lulus SMP. Sempat melanjutkan studi ke SMA, tapi putus jalan karena persoalan biaya.

Saya terdiam sejenak. Merasa tak enak hati, bahkan terkesan lancang mengorek informasi itu. Padahal, kita baru saja ketemu dan tak saling kenal. “Maaf ya Mas,” kataku. “Enggak apa-apa Mas. Yang penting kan tetap usaha dan enggak nyusahin orang,” jawabnya, yang terdengar sederhana tapi penuh makna.

Sebelum saya tanya alasan kenapa memilih ojol, Mas Driver sempat cerita sekilas jalan hidupnya. Tentu saya yang memulai bertanya-tanya.

Mulanya, dia sempat merantau ke luar kota dan menjadi buruh bangunan. Namun, proyek yang diikutinya tak berlangsung lama. Ia akhirnya memilih kembali pulang ke kampung halaman.

Kembali ke kampung halaman, Mas Driver sempat merasa bingung. Cukup lama ia tak mendapat pekerjaan baru. Sudah coba ke sana kemari, tapi tak juga mendapatkan hasil. Sementara, kebutuhan hidup terus berjalan. Apalagi, sudah berumah tangga, meski waktu itu masih tinggal di villa mertua indah.

Tibalah waktunya, seorang kawan menyarankannya untuk mencoba peruntungan sebagai sopir ojol. Saran itu dia lakukan. Tapi, masalahnya tidak cukup selesai dengan niat semata. Mas Driver tidak memiliki motor dan gawai yang memungkinkan untuk melayani penumpang.

“Awalnya nekad, mas. Celengen (tabungan) saya bobol. Malahan mas kawin istri, saya gadaikan buat nambah modal DP motor dan HP,” ucap Mas Driver.

“Emang enggak khawatir tekor gitu, Mas?” tanya saya lagi. “Namanya juga usaha, mas, apalagi sudah kepepet dan kebutuhan sudah mendesak. Lagian kan enggak enak nunut (ikut) orang tua mulu,” jawab Mas Driver tertawa lirih.

Setelah cukup lancar jaya, Mas Driver kembali diuji desakan baru. Siapa lagi kalau bukan corona jahanam, yang entah dari masa muasalnya bisa sampai Indonesia.

Selama pandemi terjadi, Mas Driver mengaku serba salah. Tetap di rumah untuk mencegah tertular virus korona, tapi kebutuhan ekonomi meraung-raung. Sedangkan (memaksakan) berangkat kerja, dia was-was tertular korona.

Apalagi, banyak kabar burung yang diterimanya sering simpang siur. Malah pernah ada kabar yang bilang terjadi ledakan orang positif corana di dekat tempat tinggalnya. Ternyata, itu cuma hoax yang tersebar berantai dari Whatsapp ke Whatsapp.

Meski masih waswas, Mas Driver memilih jalan tetap bekerja. Hanya saja, segala anjuran protokol kesehatan, seperti memakai masker, dan membawa hand sanitizer. Bahkan sesampainya di rumah yang biasanya langsung leyeh-leyeh, sekarang juga berubah cukup drastis. Dia mengganti baju kerjanya dan segera bebersih diri.

Memang benar tak ada yang bisa menjaminkan itu aman. Tapi wawas diri adalah usaha terbaik untuk mencegah tertular virus korona. Setidaknya, ada perilaku hidup baru menjadi lebih sadar sehat.

“Kadang-kadang kalau terdesak kok yo jadi sadar ya mas,” kata Mas Driver. “Mungkin kita memang harus sadar diri dan bisa menikmati dengan gembira dalam kondisi apapun,” sambung Mas Driver yang cuma bisa tak balas senyum.

Kok Mas Driver ucapannya semirip perkataannya Syekh Ali Jaber dan Gus Miftah di posdcast-nya Dedi Corbuzier yang kemarin saya tonton yah. Kira-kira begini, “belajar menerima dengan lapang dada, maka hati akan tenang dan bahagia.”

Ngomong-ngomong soal kepepet, saya jadi ingat cerita lucu proses pencalonan Abdurahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden Indonesia. Kisah ini sudah banyak beredar di kanal YouTube. Bahkan dimuat di banyak berita setelah diceritakan oleh Khofifah Indah Parawansa saat Haul Gusdur pada 2017.

Khofiah bilang, kala itu mendapat telepon dari Gus Dur sekira jam satu dini hari. Ia diminta untuk mengurus berkas pendaftaran Gus Dur sebagai presiden. Sementara, batas waktu pendaftaran adalah jam tujuh pagi. Artinya, hanya menyisakan enam jam saja.

Padahal dalam pendaftaran harus ada persyaratan menyertakan surat-surat, seperti berkelakuan baik, pernyataan sedang tidak pailit, dan lain sebagainya. Dengan waktu yang super mepet, Khofifah mengaku bingung untuk mengurus surat itu. Apalagi, surat-surat itu perlu ditandatangani oleh pihak kepolisian, kejaksaan dan lain-lainnya.

Singkat cerita, Khofifah bilang Gus Dur punya akal yang tak terduga olehnya. Gus Dur hanya meminta membuat Khofifah membuat surat-surat tersebut, dan ditandatangani oleh Gusdur sendiri. 

Meski saat berkas diverifikasi bikin deg-deg Khofifah, ajaibnya segala berkas yang dibuat cepat itu diterima panitia pemilihan. Gus Dur dinyatakan lolos sebagai calon Presiden dan bersaing dengan Megawati Soekarno Putri. Dan seperti kita tahu, Gus Dur pun terpilih sebagai Presiden ke-4 Indonesia.

Cerita yang sama, juga terjadi saat Gus Dur hendak menunjuk Megawati sebagai wakilnya. Khofifah yang lagi-lagi mendapat perintah dari Gus Dur untuk mengurusnya, mendapat kesulitan persyaratan dari PDI-P. Konon, pihak PDI-P tidak ada yang mau memberikan surat-surat persyaratan karena mereka tidak mencalonkan Megawati sebagai wakil presiden.

Tapi Khofifah tetap mendaftarkan tanpa membawa berkas pencalonan Megawati sebagai wakil presiden. Saat ditanya petugas pendaftaran, Khofifah tanpa pikir panjang menjawab, bahwa Megawati sebelumnya sudah lolos administrasi saat mendaftar jadi calon presiden, sehingga tidak perlu lagi mengurus berkas saat didaftarkan sebagai walon wakil presiden. 

Rupanya, petugas menerima alasan itu dan meloloskan Megawati. Sang putri Presiden Pertama Indonesia, Soekarno itu pun terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Gus Dur.

Saya bukan bermaksud menyamakan Mas Driver dan Gus Dur. Apalagi, Gus Dur seperti kata Khofifah, punya makom setingkat wali. Dan saya percaya itu.

Tapi dalam hidup, kadangkala ada hal-hal yang tidak terduga tanpa melihat status, pangkat dan kedudukan apapun. Sama dengan pandemi corona yang bisa menular kepada siapa saja.

Kita mesti terus ikhtiar dan tetap survive menghadapinya. Seperti juga Mas Driver tadi, yang tetap senang gembira menjalankan profesinya. Padahal, ancaman virus bisa kapan saja datang menjakitnya. Tapi dengan ikhtiarnya, doi tetap bisa tetap sehat dan tetap produktif bekerja.

Maka, belajar wawas diri dari siapa pun, bisa menjadi benteng kita dari tekanan atau kepepetnya menghadapi situasi. Tak terkecuali, dalam masa pandemi yang tak pasti ini. Lagi pula, imunitas tubuh kita masih cukup bisa diandalkan mencegah terjadinya sakit selama kita menjaganya tetap prima.

Dan di masa pandemi yang penuh dengan ketidakpastian dan sering membuat kepepet ini, saya percaya kekuatan pikiran dan imajinasi kita bisa menjadi penuntun melakukan kalibrasi ulang menapaki kebiasaan baru. Kuncinya, ya wawas diri, disiplin, dan iktiar penuh gembira melewati semua prosesnya.