Mahasiswa
1 bulan lalu · 187 view · 3 min baca menit baca · Agama 36444_60168.jpg

Belajar Kehidupan Pluralisme Agama Dari Orang Ambon

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam perbedaan baik suku, ras, bahasa, maupun agama. Maka dari itu, Indonesia memiliki julukan negara pluralisme yang dipersatukan dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. 

Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai kehidupan pluralisme agama dalam kehidupan masyarakat di Kota Ambon. Agama sendiri merupakan kepercayaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Mahakuasa yang mengatur sistem tatanan hidup manusia. Perbedaan tersebut haruslah dipandang sebagai sesuatu yang dapat menumbuhkan tenggang rasa . 

Karena itu, setiap individu harus benar-benar mewujud nyatakan sikap hidup pluralitas keagamaan dalam berbangsa dan bernegara. Masyarakat Kota Ambon termasuk sebagai orang yang memiliki tenggang rasa tinggi yang menjadi cerminan sikap yang sangat menghargai pluralitas agama.

Membahas tentang Ambon, sering disebut dengan dijuluki “Ambon Manise”. bukan sekedar nama, tapi dari tatanan pola tatanan kehidupan masyarakat di Ambon sangat manis, rukun dan saling menghormati satu dengan lain. 

Berbicara tentang Ambon, jangan hanya disangkut pautkan dengan kerusuhan tahun 1999 silam yang banyak memakan korban, luka dan trauma mendalam bagi masyarakat di Ambon saja. Beragam versi yang beredar bahwa kejadian tersebut merupakan konflik agama.  

Namun, hal tersebut tidaklah benar. Pada masa itu, masyarakat masih dengan mudahnya mempercayai isu-isu yang beredar yang sengaja dibuat oleh oknum-oknum tertentu hingga terjadi perpecahan yang berujung kerusuhan. 


Kini, kejadian berdarah tersebut telah berakhir. Kehidupan masyarakat yang dulu dengan sekarang sungguh berbeda. Dari kejadian tersebut, memberikan banyak pelajaran berharga hingga generasi sekarang. Kini, semua sadar bahwa pentingnya menciptakan kerukunan dalam umat beragama itu sangatlah penting. 

Seperti pepatah dalam bahasa ambon “hidop orang basudara laeng sayang laeng”, “ale rasa beta rasa”, “potong di kuku rasa di daging” merupakan sepenggal kata yang bermakna sangat luas. Orang ambon terkenal dengan gaya bicaranya yang cepat, kasar, dan bernada tinggi. Sangat berbeda dengan orang jawa yang lebih kalem dan lembut. Tapi sekali lagi, itu hanyalah perbedaan budaya. 

Salah satu budaya orang ambon yaitu Pela-Gandong. Pela adalah suatu ikatan persatuan sedangkan gandong mempunyai arti saudara. Jadi, Pela-Gandong merupakan suatu ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara. Hubungan Pela-Gandong ini antara 2 atau lebih negeri petuanan/ kampung/ desa. 

Ikatan persaudaraannya sangat kuat walau tanpa ikatan darah atau agama sekalipun. Awal tahun 2019, Kota Ambon meraih Anugerah Harmony Award sebgai kota dengan kategori paling rukun se-Indonesia dari Kementerian Agama Republik Indonesia. 

Dari sejumlah kota-kota di Indonesia, Kota Ambon kemudian ditetapkan sebagai kota dengan kategori keehidupan keagamaan paling rukun melalui surat keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2019. 

Penghargaan tersebut adalah bukti bahwa Kota Ambon bisa pulih dan bangkit kembali dari peristiwa berdarah itu, makin dewasa dan mengambil banyak hikmah dari konflik tersebut dan tentu saja belajar dari sejarah untuk menjadikan masa depan yang tentu lebih aman damai dan rukun. 

Sikap toleransi antar umat beragama di Kota Ambon sudah semakin kuat, untuk itu, hal ini harus tetap dijaga, dan budaya persaudaraanna tetap dijaga dan dilestarikan agar dari generasi ke generasi berikutnya tetap menjalankan budaya Pela-Gandong tersebut agar Kota Ambon bisa menjadi cerminan bagi daerah-daerah lain di Indonesia bahan sampai ke manca negara. 

Pada baru-baru ini dalam merayakan hari idul fitri kemarin, warga muslim di desa Batu Merah, Ambon mengadakan takbiran keliling kampung dan dijaga oleh warga kristiani dari warga negeri Ema, Ambon memiliki ikatan gandong (saudara antar kampung) hal ini menandakan kebahagiaan dan bentuk toleransi dalam hari Idul Fitri . 

Menjaga keutuhan itu memang tidaklah mudah, banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang selalu berusaha menghancurkan keutuhan dan kerukunan yang telah lama di bendung dengan menjadikan orang-orang yang tidak mengerti soal politik dan menjadikannya sebagai umpan untuk penyebaran hoaks. 


Karena itu, pemerintah harus selalu mengingatkan dan medorong masyarakat untuk menjaga kedamaian dan masyarakat lebih kritis lagi dalam menanggapi atau mempercayai isu-isu yang beredar. 

Bukan hanya mendengar dari salah satu pihak, tapi juga harus dilakukan observasi dan penelaan yang benar-benar sesuai fakta sehingga tidak adanya kekuatiran perpecahan yang berakibat fatal. Jika ada ditemui hal-hal yang mengganjal, langsung laporkan ke pihak berwajib, agar penanganannya lebih efektif. 

Memasuki dunia modernisasi, kaum anak muda memiliki peran yang sangat besar. Untuk itu, Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan masa depan anaknya. Dari megajarkan kerukunan, sifat saling menghargai, tidak mudah percaya dengan berita-berita yang beredar, dan lain-lain yang dapat membantu anak agar budaya kerukunan dan toleransi itu tetap terjaga tanpa batas akhir. 

Setiap anak harus diajarkan bertapa pentingnya menerapkan Pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan negara, karena setiap kita, adalah contoh dan cerminan bagi generasi yang akan datang. 

"Orang yang minim toleransi pasti sering hidup dalam lingkungan yang homogen sehingga gagap pluralisme". -Pandji Pragiwaksono

Artikel Terkait