“Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi Hebat dalam tindakan”

Orang yang mengatakan itu adalah Konfusius. Seorang yang diakui Nabi oleh penganut agama Kong Hu Cu. Pengaruhnya yang besar dalam menyebarkan falsafahnya tentang moralitas pribadi dan pemerintahan membuatnya tercatat sebagai orang nomer lima yang paling berpengaruh di dunia dalam buku “100 Orang Berpengaruh di Dunia” karya Michael Hart.

Kebikaksaan-kebijaksanaannya banyak yang dibingkai dalam bentuk cerita. Salah satu yang menurut saya menarik adalah kisahnya dengan salah satu murid kinasihnya, Yan Hui.

Alkisah, suatu ketika Yan Hui meminta izin untuk pulang ke kampungnya kepada guru Konfusius. Sang guru pun memberi pesan kepadanya.

“jika kamu benar-benar hendak pulang, pesanku ada dua. Pertama jangan berteduh dibawah pohon. Dan kedua, jangan pernah membunuh orang”.

Yan Hui yang mendengar pesan itu hanya bisa mengiyakan dan mematuhinya tanpa mengetahui arti dari pesan itu. Ia pun kemudian pulang dengan tetap dihantui kuriositasnya terhadap pesan sang guru.

Di tengah jalan tiba-tiba hujan turun dengan deras. Ia lalu memiliki insiatif untuk berteduh di bawah pohon. Namun karena ingat akan pesan gurunya untuk tidak berteduh dibawah pohon ia pun mengurungkan niatnya. Dan memilih terus melanjutkan perjalanan meski harus kehujanan, daripada melanggar.

Beberapa langkah setelah ia meninggalkan pohon yang hendak ia gunakan sebagai tempat berteduh petir tiba-tiba menyambar pohon itu. Walhasil pohon itu roboh. Yan Hui mengelus dadanya. Ia berkata dalam batinnya, ini mungkin rahasia dari larangan guru.

Setelah sampai di rumah ia menjumpai istrinya tidur berduaan bersama orang lain dalam satu ranjang. Melihat itu emosinya langsung meluap. Ia segera mencabut pedangnya. Saat ia hendak menebaskannya Yan Hui ingat pesan sang guru agar tidak membunuh orang. Pedangnya pun ia sarungkan lagi.

Begitu jendela dibuka ia baru merasa bersalah karena hendak membunuh dan mampu memahami pesan gurunya. Ternyata yang tidur bersama istrinya adalah adik iparnya yang juga perempuan. Hampir saja emosinya mengantarkannya pada kesalahan yang amat besar.

Setelah kembali ke sang guru ia segera menyanjungnya.

“Guru! Anda ini sungguh sangat sakti. Mampu mengetahui apa yang akan terjadi”

Konfusius tersenyum-senyum karena geli mendengar perkataan muridnya. Sambil terus cengar-cengir ia berkata.

“Saya ini tidak sakti. Hanya saja karena kemarin kayaknya akan turun hujan deras dan agaknya banyak petir maka saya melarangmu untuk berteduh di bawah pohon. Kalau kamu dibawah pohon akan berbahaya.

Dan saat pulang kamu membawa pedang. Kan sudah biasa aku memberimu pesan untuk tidak membunuh orang setiap kali kamu membawa pedang.”

Terkadang seorang guru sejati memberikan perintah yang sebenarnya masuk akal namun tidak bisa dicerna saat itu juga. Saat itulah kita perlu membuang akal supaya tetap bisa menaati perintah dan tidak menentangnya dengan alasan kita tidak tahu maksud dari perkataan guru. Tetapi kita tetap harus memutar otak agar mampu mengetahui, apa sebenarnya kebijaksanaan yang hendak guru ajarkan.

Dalam kisah lain, saat Yan Hui telah menjadi penjabat ia mendapati keributan di persidangan antara pedagang dan pembeli. Yang diributkan hal sepele tetapi keributannya serius. Si pembeli meyakini bahwa delapan kali tiga hasilnya duapuluh empat. Sedangkan si penjual kekeh bahwa hasilnya adalah duapuluh tiga.

Keributan mereka berdua memancing emosi Yan Hui. Sehingga ia pun bergegas melerai mereka berdua dengan membenarkan pembeli dan menyalahkan penjual.

“Heh, pak! Delapan kali tiga hasilnya ya jelas, duapuluh empat.”

“Halah! Kamu ini tahu apa? Kalau kamu konfusius baru aku percaya” -ungkap pedagang.

“Loh, saya ini muridnya Konfusius. Kalau kamu tidak percaya mari ikut aku ke guruku. Kita bertaruh ya? Jika aku kalah jabatanku akan kuberikan padamu”. -kata Yan Hui.

“Iya. Jika kamu kalah jabatanmu berikan padaku. Namun jika aku kalah maka penggalah kepalaku!” -timpal pedagang.

Walhasil, mereka berdua berangkat menemui Konfusius. Sesampainya disana permasalahan itu ditanyakan kepada beliau. Dan apa jawabnya? Hasilnya adalah duapuluh tiga.

Yan Hui marah betul mendengar jawaban gurunya. Namun karena tidak berani membantah ia diam saja. Jabatannya pun dikasihkan pada pedagang.

Setelah si pedagang pulang Yan Hui baru berani berbicara kepada sang guru.

“Guru, kamu ini bagaimana? Anak kecil saja tahu kalau jawaban yang benar adalah duapuluh empat”

“ini urusannya bukan duapuluh tiga atau duapuluh empat. Kalau kamu disuruh milih kehilangan jabatan atau nyawa, mana yang akan kamu pilih?” -ungkap Konfusius.

“Saya pilih nyawa, guru” -jawab Yan Hui.

“Lah, iya. Kalau kamu kalah kan yang hilang Cuma jabatanmu. Tetapi kalau dia kalah nyawa satu akan melayang. Maka saya lebih memilih jawaban delapan kali tiga adalah duapuluh tiga asalkan nyawa satu terselamatkan” -Kata guru Konfusius.

Kebijaksanaan memiliki nilai lebih tinggi dari kebenaran. Sesekali kebenaran mesti harus disingkirkan guna mencapai kepentingan yang lebih tinggi. Dalam kisah diatas Konfusius memberi contoh kepada kita untuk terus menebar kebijakan sebisa mungkin. Asal tidak dengan cara yang keji.

Bijaksana adalah salah satu sifat Tuhan. Seringkali Tuhan memberi hambanya yang penuh dosa ampunan. Padahal sebenarnya ia layak untuk disiksa. Akhir kata, teruslah menebar kebajikan dan kebijaksanaan.