Akhir-akhir ini, banyak ustaz yang cepat sekali populer. Popularitas itu, terutama, muncul ketika Islam dibumbui untuk menyerang praktik budaya yang ditanam oleh sejarah para Wali Songo. Ada juga ahli Islam instan untuk melambungkan elektabilitas calon tertentu, baik tingkat eksekutif maupun legislatif, sekaligus membunuh karakter lawan politiknya.

Yang menjadi fokus tulisan ini bukan tentang mereka, tetapi tentang orang yang baru belajar Islam, yang belajarnya dimulai dari Kiai YouTube atau Mbah Google. Belajar Islam memang bagus. Tetapi transmisi-sanad keilmuwan itu penting, agar paradigma Islamnya berbasis cinta, bukan benci dan dengki.

Pintu Pertama Belajar Islam

Lalu, jika mau belajar tentang Islam, mau dimulai dari mana? Belajar Islam secara berurutan tentu saja bukan dimulai dari belajar tentang khilafah kemudian mengafirkan Negara Pancasila. Belajar tentang khilafah, sistem pemerintahan Islam, sebelum belajar tauhid, fikih, dan tasawuf, itu seperti masuk kuliah S2 sementara SD saja belum lulus. Padahal Negara Pancasila adalah khilafah itu sendiri.

Pintu pertama belajar Islam secara berurutan adalah belajar tauhid. Meskipun begitu, belajar tauhid bukan berarti belajar mengafirkan orang, mensyirikkan orang, atau membid’ahkan orang. Belajar tauhid adalah belajar mengafirkan diri sendiri, bukan sebaliknya.

Pintu tauhid itu adalah akal. Inilah keistimewaan pesantren. Sejak dini, akal sudah dibawa dan diikutsertakan dalam mempelajari Islam, nukan dogma semata. 

Untuk mengenal Allah, tauhid menantang intelektualisme santri untuk berpikir dan menyelami alam semesta dengan logika, lalu membawanya mengenal Allah. Di dalam kitab-kitab tauhid pesantren, lembar pertama kitab tauhid membahas tuntas tentang akal, klasifikasi logika, dan atribut-atribut lain yang relevan.

Tak hanya itu, agar logika tauhidnya lebih matang, santri disuguhi ilmu logika (mantiq). Tak ayal, makin tinggi tauhid seorang santri, makin toleran dan open minded terhadap perbedaan pendapat, bukan mengafirkan kelompok yang berbeda.

Jika ada seseorang yang belajar tauhid, lalu setelah belajar dia merasa hanya kelompoknya saja yang tauhidnya benar, lalu semua orang selain dia, jika berbeda sistem tauhidnya maka pasti syirik, kafir, bid’ah, dan khurafat, berarti dia belajar tauhid yang cedera. Seharusnya, makin mendalam tauhidnya, makin intim hubungannya dengan-Nya.

Akal Tauhid, Hati Tasawuf, dan Badan Fikih

Karena akal dan logika hanya mengasah otak untuk mengenal Allah, sedangkan spare part mesin manusia terdiri dari akal, hati, dan badan, maka hati dan badan juga perlu diperkenalkan kepada Allah. Caranya, badan manusia diajak untuk beribadah, sedangkan hati manusia diajak merasa.

Dengan beribadah, badan manusia sedang bekerja untuk Allah. Dengan merasa, hati manusia sedang intim dengan Allah. Hanya saja, jika tauhidnya lewat pintu suka mengafirkan dan membidahkan orang lain, kayaknya hampir mustahil dia bisa intim dengan Allah. Yang terjadi malah sebaliknya, dia lebih intim terhadap pengafiran sesama muslim, lalu membenci manusia di luar agamanya.

Tauhid itu mengenalkan otak kepada Allah. Fikih itu mengenalkan badan kepada Allah. Tasawuf itu mengenalkan hati kepada Allah. 

Ketika otak sudah mengenal Allah, maka logika yang dimilikinya bisa mendukung keimanan untuk makin kuat. Pada level ini, otak memiliki kemampuan untuk mendiagnosa bukti adanya Allah dan sifat-sifat-Nya. Fokus tauhid, di dalam perspektif ini, bukan menjadikan seseorang mudah mengafirkan atau men-judge syirik orang lain, atau membidahkan perbuatan orang lain.

Jika yang di-judge syirik, bidah, atau kafir itu perbuatan, maka seharusnya terminologi yang dipakai adalah terminologi fikih. Tetapi, kajian fikih hanya mengenal dua hukum, yaitu wad’ie dan taklifi

Memang benar, syirik atau bidah itu haram, tetapi keduanya bukan termasuk ke dalam ranah fikih. Bisa jadi masuk ke dalam ranah fikih, tetapi tidak masuk di dalam tema-tema utama. Lagi pula, membagi perbuatan hanya ke dalam sunah dan bidah, jika tidak sesuai sunah berarti bidah, menurut Dr Sa’id al-Kamali, merupakan pendangkalan pengetahuan.

Pintu Islam yang Sangat Instan

Belajar Islam secara utuh perlu proses yang agak panjang. Seseorang yang baru membaca beberapa website dan beberapa video YouTube tentang Islam tidak bisa langsung mampu mengeluarkan fatwa dari Alquran dan Hadis.

Jika memang ingin belajar Islam yang sangat instan, dan sangat terburu-buru untuk menampilkan Islam secara kafah (menyeluruh), lalu ingin mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk diri sendiri, orang sekitar, dan seluruh dunia, maka belajarlah tentang cinta.

Cinta adalah representasi dari Islam secara sederhana, tetapi mendalam, padat, dan tepat. Cintai manusia, maka Anda sudah sangat Islam secara kafah. Mulai dari mencintai manusia yang berbeda, lalu manusia yang membenci, lalu manusia yang memusuhi. Jika Anda sudah berhasil mencintai manusia yang memusuhi, mencaci maki, dan ingin melukai Anda, sungguh keberislaman Anda sudah level tinggi.

Tetapi, jika Islam yang Anda pelajari mengajarkan untuk mengotori mulut Anda dengan caci maki, hati Anda dengan kebencian dan dengki, lalu tindakan Anda untuk melukai dan merusak, maka Anda sedang melucuti Islam dari diri Anda.