Masih ingatkah Anda dengan lirik lagu slow rock klasik yang pernah ngehit di era 1990 an yang dipopulerkan oleh Scorpions, Under The Same Sun?. Lagu ini cukup enak didengar dengan suara khas Mark Hudson vokalis Scorpion. 

Jika diresapi lebih dalam, lagu ini memiliki makna mendalam tentang realitas lunturnya humanism dan tercabutnya perdamaian di muka bumi karena perebutan kepentingan dan konflik. Penulis lirik, Klaus Meine dan Scott Geffery Fairbairn, sepertinya ingin mengkritik tingkah laku manusia dan membawakan pesan perdamaian melalui untaian lirik lagu ini.

Digambarkan, ketenangan awal pagi hari ternoda oleh suara tembakan yang membunuh seseorang. Ironisnya tidak ada seorangpun yang menangisi kematiannya. Seorang ibu menangisi kematian putranya yang menjadi korban kejahatan. Di sisi lain, tangisan anak kecil yang menjadi korban dari perilaku orang-orang dewasa. 

Dalam setiap chorus tersirat pesan mendalam yang menjadi penutup lagu ini: “Jika kita bisa saling berbagi matahari, bulan dan bintang yang sama, lalu mengapa kita tidak bisa hidup berdampingan, saling menyayangi dan saling rukun untuk membangun kehidupan yang harmonis dan bahagia”. Then why, why can't we live as one.

Scorpion mengambil tamsil peranan matahari, bulan dan bintang sebagai objek pertanyaan karena ketiganya sangat dekat dengan kehidupan dan eksistensinya dibutuhkan manusia. 

Ketiganya selalu hadir untuk manusia tanpa mempedulikan ras, warna, suku, status, latar belakang dan agama maupun kepentingan manusia. Ketiganya tidak pernah protes dengan semua penyimpangan perilaku manusia yang mengakibatkan kerusakan di alam ini. 

Ketiganya tetap hadir untuk manusia dan bekerja sesuai hukum yang diperintahkan Tuhan. 

Keselarasan, keharmonisan dan ketaatan benda-benda langit akan hukum-hukum Tuhan itulah yang menginspirasi Klaus Meine dan Scott Geffery Fairbairn untuk menuliskan lirik kemanusiaan dan perdamaian. 

Namun mengapa manusia tidak mau mengambil pelajaran atau hikmah dari ketiga mahluk Tuhan itu? Meskipun berbeda namun bisa membangun keharmonisan dan saling membantu peranan menerangi dunia demi manusia.

Tentu penulis lirik lagu ini paham bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam perbedaan dan oleh karena itu tentunya mustahil bagi manusia untuk bisa hidup dalam satu bangsa yang sama, satu visi, satu misi dan satu tujuan agar bisa menciptakan kehidupan yang sama, damai dan harmonis. Namun bukan itu yang dimaksud oleh penulis lirik.

Semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, dalam pandangan Tuhan semua manusia itu sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. 

Perbedaan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah bentuk kasih sayang-Nya agar manusia bisa saling mengenal, memahami, melengkapi dan saling mengisi satu sama lainnya. 

Thus manusia dapat mewujudkan impian mereka untuk menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis dan sejahtera seperti matahari, bulan dan bintang.

Namun impian tersebut tidak akan terwujud jika sistem tatanan sosial tidak berjalan dengan baik. Oleh sebab itu maka dibutuhkan aturan-aturan antar manusia agar dapat hidup bersama, berdampingan, saling membantu, dan saling menghormati satu sama lain. 

Dalam konteks ini dapat dipahami bahwa adanya hak yang melekat pada setiap individu manusia. Hak itu dapat terpenuhi jika pihak lain tidak merenggutnya. Hak yang melekat pada setiap individu manusia ini dikenal dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Hak yang dimiliki oleh setiap individu manusia selalu berhubungan dengan kewajiban. Artinya, keberadaan hak pada diri seseorang menyebabkan adanya kewajiban pada diri orang lain, demikian pula sebaliknya. Ketentuan ini berlaku bagi setiap manusia yang ingin setiap haknya terjamin dan dilindungi. 

Dalam konteks masyarakat berbangsa dan bernegara modern, pemahaman bersama tentang hak setiap individu dan usaha-usaha untuk menjaga eksistensinya dapat dimunculkan dalam kesepakatan-kesepakatan, yang kemudian dapat dirumuskan menjadi suatu peraturan perundang-undangan yang mengikat setiap individu.

Ketika semua manusia adalah sama, maka seharusnya semua manusia pun sama di mata hukum. Tidak ada keistimewaan atau superioritas dari salah satunya. 

Semua memiliki hak dan tanggung jawab yang sama meskipun ada perbedaan dan batasan diantara mereka. Semua memiliki tugas yang sama meskipun dengan peranan yang berbeda-beda. 

Ketentuan ini berlaku bagi semua orang, baik ia bertakwa ataupun ingkar, apakah ia seorang yang suci atau pendosa, atau pun apakah ia orang yang mulia atau hina dan terutama bagi orang orang yang mencari keadilan di muka hukum. 

Oleh karena itu, dalam proses penegakkan hukum haruslah berpegang teguh pada norma-norma dan nilai-nilai HAM. Artinya, baik tersangka maupun korban harus diberikan dan dilindungi hak-haknya. 

Dengan demikian tersangka maupun korban juga harus diingatkan akan kewajiban yang timbul beriringan dengan perlindungan terhadap hak-hak mereka. Hal ini diperlukan demi terwujudnya proses penegakkan hukum yang efektif, transparan, akuntabel dan cepat.

Kesenjangan dan ketimpangan penegakkan hukum, terlebih lagi mengesampingkan norma-norma dan nilai-nilai HAM justru akan mengakibatkan masyarakat pesimis dan kehilangan keyakinan terhadap penegakkan keadilan. Kondisi ini pula akan berdampak pada timbulnya perilaku bystander effect dan apathy

Bystander effect merupakan suatu fenomena psikologi sosial karena munculnya difusi tanggung jawab yaitu ketika masyarakat maupun individu merasa terlepas diri dari tanggungjawab moral dan mengambil jarak untuk membantu seseorang yang membutuhkan pertolongan, terutama bagi korban kejahatan. 

Terlebih lagi bila kasus atau permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan hukum. Muncul anggapan, bisa jadi di awal diminta sebagai saksi, di pertengahan jalan proses hukum dia ditetapkan sebagai tersangka. 

Dan atau munculnya keyakinan bahwa tersangka akan mendapatkan hukuman yang ringan, jika si tersangka memiliki pengaruh dan kekuasaan pada masyarakat dan politik.

Perasaan takut salah dalam memberi tindakan pertolongan, merasa khawatir akan dirugikan setelah membantu orang tersebut serta alasan tidak ingin mencampuri urusan atau masalah orang lain menjadi beberapa pertimbangan pelaku bystander

Sikap dan perilaku ini akan mempengaruhi nilai moral masyarakat dan menimbulkan sikap apatis terhadap fenomena yang dihadapi bahkan kepada sesama manusia.

Munculnya sikap pesimis terhadap penegakan hukum dan sikap apatis di masyarakat akan ketimpangan dan kesenjangan hukum dan terakumulasi pada titik jenuh juga bisa berakibat pada timbulnya street justice dan anarchy

Masyarakat akan bermain hakim sendiri, muncul peradilan jalanan dan kekacauan karena masing-masing merasa benar terutama kepada orang yang disangka melakukan tindakan kejahatan. 

Masyarakat juga akan berlaku arogan karena merasa tidak ada norma hukum dan institusi hukum yang harus mereka percayai.

Tentu saja semua penyimpangan moral dan kekacauan ini tidak kita kehendaki. Namun demikian kita harus ingat bahwa ketenangan perdamaian dan hidup harmonis yang diperjuangkan tidak akan terwujud tanpa penegakan hukum yang adil, hukum yang menampung rasa keadilan sosial dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. 

Oleh karena itu sudah menjadi tugas kita semua untuk membangun sikap menghormati hak dan kewajiban orang lain, serta menjadi tugas utama negara melalui institusi hukum untuk membangun kesadaran dan menegakkan keadilan melalui proses hukum, juga mewujudkan realitas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.