Berbicara tentang Cina, kebanyakan orang akan berpikir tentang pedagang kaya nan pelit, yang hidup mengelompok di daerah yang akhirnya dikenal sebagai daerah pecinan. Mayoritas Cina di Indonesia dan mungkin di negara lain berprofesi sebagai pedagang, lebih luasnya pebisnis. 

Saya masih heran dengan sistem dagang mereka yang bisa berhasil di mana pun mereka berpijak di seluruh dunia. Seperti tanaman yang bisa tumbuh subur di atas berbagai jenis tanah. 

Cina menguasai pasar teknik dunia. Mereka mempunyai kebiasaan unik terhadap suatu barang, yakni  membeli, lalu membongkar; mereka amati, kemudian mereka tiru dan dimodifikasi. Hal tersebut membuat negara tirai bambu tersebut bisa memproduksi barang dengan harga pasaran yang jauh lebih murah dari produk lain yang serupa.

Cita-cita Cina adalah "Everithing is made in China by 2025" yang merupakan cita-cita besar untuk menjadi produsen berbagai produk kelas dunia.

Itu contoh pencapaian besar yang dimulai dari langkah-langkah kecil setiap masyarakatnya, baik yang berdomisili di negara tersebut atau yang berada di negara lain. Mereka mempunyai konsep hidup yang hampir sama.

Sebagai pribumi, kadang kesal juga melihat mereka sukses di wilayah kami dengan tenaga kerja dari kami pula. Ibarat kami jadi kuli di negeri sendiri. Namun apakah rasa iri sudah cukup membalaskan dendam (kalau itu masuk kategori dendam terkutuk?). Tentu saja tidak. 

Mereka bisa menguasai hampir semua aspek perekonomian di dunia. Mereka ditempa dengan yang namanya disiplin. Disiplin waktu tentu saja, disiplin keuangan suatu keharusan, disiplin kualitas kinerja juga peran utama dalam hidup mereka.

Mereka berlomba untuk tepat waktu dari memulai hari mereka. Kehidupan pribadi tidak bisa dipisahkan dari tertibnya berusaha. Mereka juga disiplin saat deadline tiba. Jadi memang menjaga betul kualitas komitmen yang mereka jalin dengan customer.

Orang Cina juga terkenal sangat efisien dalam menggunakan uang. Misal penghasilan mereka sebulan 2.000.000 rupiah, maka biaya hidup 500.000; sisanya untuk investasi dan saving. Jika bulan selanjutnya penghasilan mereka menjadi 3.000.000, biaya hidup mereka tetap di angka 500.000 rupiah dan sisanya untuk investasi serta saving. Mereka tidak mudah untuk mengubah gaya hidup. Mereka tidak terburu-buru menikmati hasil.

Orang Cina kuat hidup prihatin, mungkin kita menyebutnya pelit. Namun mereka melakukan semua itu untuk masa depan. Hidup mereka visioner sehingga tidak akan menggunakan hasil kerja dalam satu waktu. Mereka lebih memilih makan seadanya daripada menghabiskan uangnya hanya untuk makan saat itu juga. 

Ketika kita melakukan interaksi bisnis dengan orang Cina, mereka akan mengutamakan kualitas barang yang mereka jual atau jasa yang mereka berikan. Lebih baik menaikkan harga dengan kualitas terjamin daripada mengurangi nilai barang maupun jasa demi harga yang sama.

Perilaku terhadap karyawan juga mereka jaga. Mereka menghargai kinerja pegawai,  memberikan upah yang sesuai dengan kinerja, tidak arogan sebagai atasan. 

Sampai poin ini, kita bisa berkaca bagaimana kualitas bisnis kita selama ini? Jujur, saya sendiri tidak tahan melihat uang nganggur, eh. Rasanya sulit menahan diri untuk hidup seadanya saat sedang mendapat hasil yang agak banyak dari biasanya. 

Budaya kita juga masih berkiblat pada profesi seperti pegawai negeri sipil, polisi, tentara, dan berbagai pekerjaan lain yang dipandang terhormat di mata masyarakat. Banyak pengusaha (kecil) yang tidak ingin anaknya meneruskan usahanya. Prinsip kebanyakan dari masyarakat kita adalah anak tidak boleh "menderita" seperti orang tuanya.

Pedagang berusaha keras memasukkan anaknya menjadi polisi, petani juga ingin anaknya menjadi pegawai negeri, misalnya. Sedangkan usaha mereka akan terhenti tanpa penerus. Usaha yang sebenarnya bisa diestafetkan kepada anak cucu dengan pembaruan sistem dari ilmu-ilmu baru anak-anak mereka, hingga suatu saat usaha itu akan makin besar dan berkembang.

Kembali lagi pada yang disebut dengan mindset. Dari kecil, lingkungan kita menyuguhi pertanyaan "Apa cita-citamu, Nak?" Sekalian menyodorkan sejumlah opsi profesi: dokter, presiden, profesor, pegawai bank, dan pilihan-pilihan pekerjaan keren lainnya. Sehingga para orang tua sering kali lupa melibatkan anak-anak untuk berperan dan berlatih skill berdagang, bertani, berkebun, beternak serta keterampilan hidup lain di sela waktu belajar mereka di sekolah.

Orang tua akan bangga melihat anak-anak memakai kostum kerja yang prestisius, sering kali tanpa memberikan pilihan apa yang ingin mereka capai untuk kehidupan mereka. Orang tua meyakini pilihan cita-cita waktu kecil itulah tujuan akhir karier mereka yang harus diperjuangkan. 

"Loh, apa salahnya berkarier apalagi bagus?" 

Pertanyaan seperti itu tentu akan saya jawab sangat tidak salah. Kecuali ada setiran pilihan di sana. Kita membahas tongkat estafet usaha orang tua yang akan diteruskan anak cucu seperti yang lazim dilakukan orang Cina sehingga mereka bisa berhasil dalam hal ekonomi, bahkan di negara orang.

Contoh sederhananya, anak pedagang ayam akan mengembangkan usaha orang tuanya dengan membuat olahan ayam yang penjualannya bisa lebih besar dari orang tuanya. Bisa juga dikembangkan menjadi restoran khusus olahan ayam yang juga bisa berkembang pesat.

Banyak juga pengusaha hebat Indonesia yang lahir dari tongkat estafet usaha pendahulunya. 

Kita hanya mengulas sebuah perilaku positif orang Cina yang berhasil di sekitar kita. Meskipun kita sering merasa tidak nyaman karena posisi mereka kebanyakan justru lebih baik secara ekonomi dibandingkan orang pribumi sendiri. 

Proses itu tidak mudah dan tidak singkat. Perlu kedisplinan pun penuh tantangan. Namun yang pasti, kita juga bisa belajar lalu mencobanya.