Peneliti
2 tahun lalu · 2341 view · 3 menit baca · Filsafat filsafat_ibn_rusyd.jpg
Foto: Ilmuwan Muslim (Ibn Rusyd) dalam Lukisan Raphael di Vatican (youtube.com)

Belajar Filsafat itu Wajib

Islam adalah salah satu agama samawi yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil’alamien, yang kaya akan tradisi keilmuan. Namun kini, masa keemasannya sudah lewat. Generasi saat ini hanya bisa membacanya dari goresan sejarah. Tradisi keilmuannya (ilmiah) sangat tinggi, menonjol dan termasyhur ke seluruh antero dunia saat itu.

Tradisi Islam yang kaya itu justru, sadar atau tidak, telah ditinggalkan oleh umatnya dan Barat dengan bangga telah mengadopsinya, walau mereka tak berterus terang mengakuinya.

Barat kini menjadi maju dan telah meninggalkan Islam yang terpuruk jauh di belakangnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “Apa yang melatarbelakanginya sehingga Islam mengalami keterpurukan yang begitu lama? Apakah Islam akan mampu mengulangi masa keemasannya seperti dulu? Siapa yang bertanggungjawab dengan kemunduran Islam ini?” Dan segudang pertanyaan lainnya.     

Saya kira, salah satu faktor kemunduran Islam adalah disebabkan umatnya tak lagi menggunakan rasio untuk berpikir kritis. Berpikir kritis yang dimaksud adalah mengadakan penalaran rasional atau intelektual dengan menggunakan dalil-dalil logika, atau dengan kata lain umat Islam telah meninggalkan tradisi berfilsafat.

Padahal, berfilsafat menurut ahli fiqh sekaligus filsuf muslim dari Andalusia, pengarang buku Bidayat al-Mujtahid, Ibn Rusyd (1126-1198), adalah dianjurkan bahkan diwajibkan oleh syariah.

Sebelum Ibn Rusyd lahir, kira-kira satu abad sebelumnya, al-Ghazali (w. 1111) telah melakukan penyerangan yang luar biasa terhadap filsafat. Dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf), beliau menuduh para filsuf sebagai kafir, dan sejak itu pula di belahan timur dunia Islam, filsafat selalu dicuragai bahkan sampai ada pelarangan untuk mempelajarinya.

Namun setelah Ibn Rusyd menjadi dewasa, beliau berhasil menguasai ilmu kedokteran, filsafat juga ilmu fiqh. Ilmu fiqih yang telah dikuasainya membawa kita pada satu penjelasan tentang bagaimana sebenarnya hukum mempelajari filsafat tersebut.

Hasil penelitian tentang hal ini, beliau tuliskan dalam sebuah buku yang berjudul Fashl al-Maqal fi ma bayn al-Hikmah (Falsafah) wa al-Syari’ah mi al- Ittishal (Risalah yang Menentukan tentang Keserasian Filsafat dan Syariah). Kesimpulannya adalah mempelajari filsafat tidak dilarang, melainkan sangat dianjurkan bahkan diwajibkan oleh syariah.

Adapun alasan kuat yang disodorkan Ibn Rusyd tentang hal ini adalah sebagai berikut; filsafat bertugas mempelajari secara kritis segala wujud yang ada dan merenungkannya sebagai dalil atau indikasi adanya Pencipta.

Sedangkan syariah memerintahkan dan mendorong kita untuk merenungkan ciptaan Tuhan. Hal ini tentunya sesuai dengan kaidah ushul fiqih "al-ashlu fi al-amri li al-wujub" : hukum asal sebuah perintah adalah wajib.

Dengan demikian jelaslah bahwa mempelajari filsafat adalah sebuah keharusan dan tentunya mempunyai dasar yang dilegitimasi oleh syariah.

Mengenai perintah syariah untuk merenungkan wujud yang ada dan menuntut pengetahuan tentang alam semesta dengan menggunakan akal (penalaran intelektual) tertera secara tekstual dalam QS. Al-Hasyr: 2  “fa’tabiru ya uli al-abshar” artinya;  “renungkanlah, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan (vision)”.

Ayat ini menjadi pijakan dasar tekstual yang dikemukakan Ibn Rusyd tentang wajibnya mempelajari filsafat, karena di dalamnya adalah gabungan antara penalaran intelektual dan penalaran hukum.

Penalaran intelektual dalam terminologi filsafat disebut dengan demonstrasi (burhan) yaitu metode berpikir logis yang akan membawa pada keyakinan yang kuat (certainty).

Metode ini dipandang oleh para filosof sebagai metode terbaik yang akan membawa pada keyakinan yang kuat. Mempunyai pengetahuan demonstratif -tentang Tuhan dan semua wujud yang ada- sesungguhnya diperintahkan oleh Ibn Rusyd.

Tetapi sebelum sampai pada pengetahuan demonstratif tersebut, orang terlebih dahulu harus mempelajari macam-macam metode dan persyaratannya, kesemuanya terangkum dalam ilmu logika (mantiq).

Dengan demikian jelaslah bahwa Islam menganjurkan, bahkan mewajibkan, kita untuk berpikir kritis, menggunakan penalaran rasional dan dan filosofis.

Hal ini saya kira, merupakan sebuah perenungan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan diawal tentang kemunduran Islam yang disebabkan oleh fobia umat Islam untuk mempelajari filsafat sekaligus apriori terhadap sesuatu yang berbau filsafat.

Dan kini saatnya untuk bangkit dari keterpurukan dengan menghidupkan kembali tradisi berfilsafat yang pernah mencapai puncak kejayaannya di masa lalu. Maukah?  

   

Referensi Utama

Mulyadhi Kartanagara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta : Penerbit Paramadina, 2000