Jagat entertainment kembali menyita perhatian. Setelah sebelumnya kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama pedangdut Saipul Jamil, kini Zaskia Gotik, turut menyusul, mengikuti jejak sesama pedangdut tersebut.

Zaskia Gotik, pedangdut yang dikenal dengan goyang itik ini, harus berurusan dengan pihak berwajib sebab diduga menghina simbol dan lambang negara. Tanpa hendak menjelaskan panjang lebar terkait kasus yang membelit wanita kelahiran Bekasi 25 tahun silam ini, ada sisi lain yang patut diketengahkan sebagai refleksi kita semua. 

Selain yang telah disinggung Shofa As-Syadzili dalam “Zaskia Gotik dan Pilar Kebangsaan”, sikap elegan Zaskia berupa pengakuan kesalahan (diikuti permintaan maaf) dan hasrat untuk belajar menarik untuk direnungkan. Kasus “32 Agustus” dan “Bebek Nungging” adalah tamparan agar bangsa ini terbangun dari tidur lelapnya. Terbangun untuk menelaah kembali proses kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam banyak hal, tak sedikit pihak yang menyayangkan aksi anarkis yang terjadi dalam demo terkait transportasi online misalnya. Sangat disayangkan, sebab kekerasan bukanlah budaya kita. Terutama dalam menyelesaikan masalah. Memang harus diakui, tak ingin disalahkan, tak ada yang mau bertanggung jawab dan absennya kerendahan hati untuk belajar –dalam kasus apapun- masih mudah kita temui.

Namun Zaskia Gotik, pelantun lagu satu jam saja ini, sebagaimana dilansir banyak media online, dalam jumpa persnya (22/3) tampil dengan kedewasaan berpikir dan bersikap. Ia dengan berani memohon maaf atas kebodohan, keteledoran, dan kekhilafan yang telah dilakukannya. Bukan maksud hati untuk melakukan pembelaan berlebihan layaknya fans fanatik terhadap idolanya, tapi harus diakui, inilah yang terjadi. Ada cermin kedewasaan.

Jika Mukhtar Lubis dalam pidato kebudayaannya pada tahun 1977, mengemukakan sikap hipokrit dan enggan bertanggung jawab sebaga ciri manusia Indonesia, maka Zaskia Gotik tidaklah demikian. Dengan ketabahan hati, Zaskia Gotik mengakui bahwa ia salah. Ia tidak berpura-pura, berdalih A-berdalih B, sebab takut akan mendapat ganjaran yang membawa masalah bagi dirinya.

Tentulah pedangdut bernama asli Syurkianih ini, bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia ikhlas, atas apapun yang terjadi dalam hidupnya dan siap bila harus berujung dengan mendekam di balik jeruji besi. Sebuah pelajaran berharga, terutama bagi para elit politik negeri ini yang senantiasa berdalih dan saling lempar tanggung jawab. Sekali lagi, Zaskia Gotik tidaklah demikian.

Sikap lain berupa keinginan untuk belajar lagi haruslah kita garis bawahi bersama. Semangat yang terpancar dari dalam diri Zaskia Gotik untuk menjadi insan yang berpendidikan patut dicontoh semua kalangan. Tentu dalam hal ini, belajar tidak melulu harus (duduk) di institusi pendidikan. Sebab belum ada jaminan bahwa institusi pendidikan memberikan kemerdekaan sepenuhnya dalam proses belajar-mengajar.

Semangat untuk menjadi manusia terdidik dari Zaskia harus kita tangkap dan tularkan kepada yang lain. Zaskia dengan elegan telah mengakui kesalahan atas candaannya. Ia siap untuk belajar (lagi). Zaskia yang hidup dari keringatnya sendiri, tidak digaji dari uang rakyat, telah memberikan pelajaran yang berharga. Ia mengajarkan kedewasaan dalam berpikir dan bersikap. Terimakasih Zaskia.