“Agama Islam adalah agama yang paling mudah dilecehkan sekarang”, itulah kira-kira pernyataan Hairus Salim (Cendekiawan, Direktur Yayasan LKiS) saat mengakhiri diskusi bulanan Yayasana Satu Nama di Kantor Trubun Jogjakarta, Rabu (2/30. Diskusi ini mengambil tema: “Masa Depan Inklusi di DIY: Pengalaman Praktik Kebijakan di Kabupaten Kulon Progo.

Dari pernyataan Hairus Salim ini, penulis merasa tertarik untuk menelurusi dan mencari data, benarkah agama Islam adalah agama yang paling mudah dilecehkan sekarang?

Ketika mendengar pemaparan lanjutan Hairus Salim, ada benarnya juga. Ia memberi contoh, sekarang ini dengan gampangnya orang bisa menjadi ustad dan da’i, dengan polesan kostum surban, koko, peci putih, tasbih, dan ayat-ayat Qur’an dan Hadis dengan seenaknya dilontarkan.

Berbeda dengan ilmu lainnya, orang bisa dikatakan ahli di bidang Ekonomi jika orang tersebut pintar dalam bidang Ekonomi; orang bisa dikatakan Sejarawan jika orang tersebut pintar di bidang Sejarah; akan tetapi berbeda dengan agama Islam sekarang ini tandasnya.

Tetapi tidak semua ustad, dan da’i di Indonesia seperti apa yang dinyatakan Hairus Salim. Pernyataan ini menurut penulis, berlaku bagi para ustad dan da'i yang belajar agama Islam dengan cara instan. Salah satu contoh belajar agama Islam dengan cara instan mengambil dari mbah Google, tidak melalui silsilah keilmuan yang benar.

Lantas, bagaimana nasib jemaahnya atau muridnya jika pelajaran agama Islam yang diajarkan bersumber dari mbah Google?

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak para pembaca untuk tidak membuka Google di waktu mencari informasi seputar agama Islam. Tetapi harus diketahui bahwa mbah Google bukanlah sumber agama Islam secara langsung, sumber dari mbah Google harus ditelusuri kebenaran dan sumbernya dari siapa.

Coba kita melihat dunia pesantren. Menurut Uci Sanusi dalam Jurnal Pendidikan Islam, transmisi ilmu pesantren menekankan adanya pertanggungjawaban dan kewenangan transfer ilmu (ijazah al-sanad) yang jelas dan terpercaya dari kyai, dari gurunya kyai, dan seterusnya. Pola transmisi semacam ini yang dikembangkan di pesantren sekaligus menegaskan bahwa pesantren mempunyai corak khas dalam tradisi intelektualnya.

Kitab kuning yang dikaji, setelah tuntas dipelajari akan dianggap sah dan valid jika kyai sudah memberikan syahadah atau ijazah kepada santri untuk diajarkan kembali pada yang lain. Artinya, santri yang telah mempelajari kitab Jurumiyah, salah satu kitab gramatika bahasa Arab (nahwu), dapat mengajarkan kembali pada santri atau orang lain ketika ia telah menerima kewenangan dari kyai melalui ijazah yang diberikannya..

Begitulah tradisi dunia pesantren dari dulu sampai sekarang. Hal ini salah satu yang membedakan dunia pesantren dengan dunia akademik lainnya. Tradisi ini perlu dipertahankan karena tidak mudah dalam mempelajari ilmu, apalagi akan dijarkan dan diceramahkan kepada orang lain.

Mungkin tiadanya transfer ilmu (ijazah al-sanad) yang jelas dan terpercaya di luar dunia pesantren, yang menyebabkan munculnya pernyataan bahwa agama Islam itu adalah agama yang paling mudah dilecehkan sekarang. Wallahu A’lam.