Surti, seorang remaja, anaknya Pak Kades sedang sumringah. Itu karena arjunanya, Tejo, baru pulang dari kota.  Mereka sudah menjalin cinta sejak di bangku SD kelas lima.

Surti dan Tejo sudah 3 tahun berpisah. Semenjak tamat SMA. Untuk melepas rindu, mereka janjian di pematang sawah. Lalu menghabiskan hari di pondok sawah, dari pagi sampai malam seperti tidak ingin berpisah.

Kebahagiaan Surti seketika berubah. Surti kecewa. Arjunanya berubah.

Begini ceritanya. Awal bertemu mereka berbincang biasa. Mengenang masa-masa indah saat Tejo masih di desa. Di tengah perbincangan, Tejo menyelipkan permintaan untuk duduk lebih rapat dengan Surti agar makin mesra. Surti mengangguk sebagai jawabannya. Mereka melanjutkan bercerita.

Beranjak siang, Tejo mengajukan permintaan lain lagi. Ia ingin mengecup kening Surti barang sekali. Lagi-lagi Surti mengangguk sambil menyunggingkan senyum semanis gulali.

Lewat tengah hari mereka masih asyik bercerita sambil sesekali tertawa. Tetiba Tejo mengajukan permintaan ke-3. Permintaan Tejo kali ini: ingin menggenggam tangan Surti yang halusnya luar biasa. 

Tanpa pikir panjang Surti menyerahkan tangan kanannya yang selembut sutra. Dunia serasa milik berdua.

Menjelang sore mereka masih saja bercengkerama. Tapi kali ini raut wajah Surti sedikit berbeda. Senyumnya tidak semanis sebelumnya.

Tanpa terasa malam pun selimuti desa. Wajah Surti jelas sekali menampakkan lelah. Sambil melihat bulan, Tejo kembali mengajukan pemintaan kepada Surti yang sekarang malah tampak gelisah.

Kali ini permintaan Tejo makin berani dan semakin nakal.

“Surti, literally, aku pengen rangkul pundak kamu. Boleh ga?” ucap Tejo pelan dengan aksen Jakselnya. Surti hanya mengangguk pelan. Mereka melanjutkan ngobrol sambil mencicipi cemilan.

Di saat sedang asyik mencicipi cemilan, Tejo mengajukan pertanyaan lagi.

“Surti, hmm…boleh ga aku…?”

“Prak!!!” Tiba-tiba Surti menampar Tejo yang belum sempat menyelesaikan pertanyaannya. Pipi Tejo merah. Surti berlari meninggalkan pondok sawah dan Tejo yang sedang terperangah.

Tejo terkejut. Masih terperangah. Sampai dia lupa untuk mengejar Surti. Dia hanya duduk terdiam memaku.

Surti kecewa. Surti emosi jiwa.

Kenapa tiba-tiba Surti menampar Tejo? Padahal Tejo belum sempat menyelesaikan pertanyaannya. Apakah Surti kesal karena semakin malam permintaan Tejo semakin  nakal dan kelewatan? Apakah Tejo sudah berubah?

Sudah hilang Tejo yang dulu ngampung, dekil, lugu, tapi Surti suka. Berganti Tejo yang gaul, funky, yang doyan ngucapin literally.

Ternyata justru sebaliknya. Surti menampar Tejo bukan karena permintaan Tejo yang semakin lama semakin nakal. Justru Surti menampar Tejo karena dari pagi Tejo tidak pernah melakukan apa yang dia ucapkan. Hiks.

***

Cerita di atas saya dapat dari seorang teman yang sekarang menjadi pengisi seminar motivasi-motivator. Sudah berkeliling Indonesia untuk menyampaikan seminar motivasinya. Setidaknya ada 2 alasan kenapa cerita ini yang paling saya ingat dibanding beberapa cerita motivasi lainnya.

Pertama, karena plot twist ceritanya. Saya menduga Surti menampar Tejo karena permintaannya yang semakin lama semakin aneh-aneh. Walaupun sebenarnya biasa aja sih, namanya juga pondokan. Eh.

Kedua, saya merasa ikut ditampar oleh Surti. Maklum, saya juga termasuk orang yang sering cuma ngomong doang, lalu menunda-nunda sebuah tindakan. Bahkan terkadang tidak sama sekali dilakukan.


***

Tahun baru sudah berlalu hampir 2 bulan. Resolusi 2022 masih segar di ingatan. Coba ingat-ingat janji apa yang sudah kamu ucapkan.

Kamu yang sudah bertekad untuk rajin olahraga di tahun 2022, tapi sampai sekarang masih suka mager karena alasan cuaca. Belajar dari kisah Surti-Tejo, jangan sampai kamu baru sadar setelah “ditampar” penyakit dan kamu sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Kamu yang sudah bertekad move on dari mantan, bukannya sibuk memperluas circle pertemanan supaya dapat gebetan, eh malah masih sibuk stalking IG nya mantan.

Kalau dijodohkan teman, kamu malah marah terbawa perasaan. Padahal siapa tahu berawal dari ciye ciye di tempat tongkrongan, akan berakhir cipika cipiki di depan penghulu kelurahan.

Kamu yang kerja kantoran, yang punya resolusi kariernya lebih cemerlang, tapi kelakuan tidak menunjukkan perubahan. Padahal kamu sudah berkomitmen untuk meningkatkan pencapaian saat rapat tahunan.

Atasanmu minta pencapaian, yang kamu kasih 1001 alasan. Belajar dari kisah Surti-Tejo, kamu baru sadar setelah “ditampar” surat peringatan karena kinerjamu tidak menunjukkan perubahan bahkan semakin menurun tajam.

Bahkan lebih parah, bisa-bisa kamu menjadi target pengurangan karyawan.

Cerita Surti-Tejo mungkin hanya cerita ringan. Terinspirasi dari sebuah lagu milik Jamrud yang hits di tahun ‘90an. Tapi kalau kamu resapi lebih dalam, lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi maka kamu akan merasa sadar bahwa memang benar ini hanya cerita ringan hehe. 

Cerita ringan tapi penuh makna kehidupan, ye kan?

Terima kasih, Surti dan Tejo. Dari kisahmu kami belajar bahwa sebuah tindakan jauh lebih berarti daripada banyak perkataan.