Seorang kawan saya yang bernama Mas Arif Mubaidillah pada saat mengisi kultum di acara anjangsana sekolahnya pernah bertanya pada seluruh tamu undangan yang ada di sana, "Semut yang memerintah semut-semut lainnya untuk bersembunyi agar mereka tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan pasukannya itu berjenis kelamin apa?"

Tiba-tiba suasana menjadi riuh sebab hampir semuanya ingin memberi jawaban. Dan rupanya jawaban mereka pun beragam. Ada yang menjawab laki-laki, sementara lainnya menjawab perempuan.

Kemudian Mas Arif melanjutkan lagi pertanyaannya, "Kalau laki-laki, apa buktinya? Kalau perempuan, apa buktinya?"

Suasana berubah menjadi lebih senyap dari sebelumnya. Sepertinya mereka menemukan kebingungan untuk menjawab pertanyaan kedua ini. Tak berselang lama kemudian, Mas Arif menyampaikan jawabannya. "Jenis kelamin semut yang memerintah semut lainnya itu adalah perempuan. Apa buktinya?"

Mas Arif menambahkan, "Dalam redaksi pada ayat Alquran tersebut, tertulis kata namlah, dengan menggunakan tambahan huruf ta' marbutoh yang biasa digunakan untuk menunjuk jenis perempuan dalam bahasa Arab. Sementara bentuk laki-lakinya adalah naml, semut laki-laki."

Saya yang menyimak penjelasan Mas Arif itu menjadi sedikit lebih paham dari alasan jawaban saya sebelumnya. Saya menyimpulkan, pantas saja dalam koloni semut itu pasti dipimpin oleh seorang ratu dan bukan seorang raja. Rupanya hal ini pun jauh-jauh hari telah dipublikasikan di dalam redaksi ayat Alquran. Dan baru-baru ini saya baru dapat memahaminya.

Lebih dari itu, ternyata gambaran kisah semut di dalam kitab suci ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Dari kisah semut di dalam Alquran ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran kehidupan. Yakni:

Pertama, pentingnya seorang pemimpin memiliki kemampuan untuk membaca keadaan. Dalam hal ini ratu semut telah memiliki kemampuan berupa naluri bertahan hidup (gharitsat al-baqa) yang tinggi. Kemampuan bertahan hidup itulah yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dan seluruh koloninya.

Instingnya begitu tajam sehingga ia bisa mengetahui barisan pasukan Nabi Sulaiman yang hendak melintas di atas mereka yang kemungkinan besar akan menginjak mereka jika tidak lekas berlindung dan mencari tempat yang aman.

Dengan memiliki naluri bertahan hidup yang kuat ini, maka ratu semut itu pun dengan mudahnya mengeluarkan titah dan kebijakan yang berpeluang untuk menyelamatkan para prajurit dan warganya.

Kedua, pentingnya kepatuhan terhadap pemimpin. Melalui kisah semut pada masa Nabi Sulaiman itu kita dapat mempelajari bahwa setiap anggota koloni semut sangat patuh dan profesional dalam menjalankan perannya masing-masing. Seakan tidak ada sedikit pun keinginan bagi mereka niat untuk membantah apalagi melakukan perlawanan.

Hal ini disebabkan dalam manajemen tugas semut ini, semua anggotanya sudah mengacu pada tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Pemahaman ini begitu penting mengingat mereka adalah koloni dengan ukuran yang kecil, namun jumlah populasinya begitu besar. Atas dasar kesadaran masing-masing anggota koloni itulah maka tidak ada di antara tugas semut itu yang saling tumpang tindih.

Ketiga, semut merupakan hewan pembersih. Kawanan semut sangat tidak suka dan tidak tega manakala mereka melihat ada serpihan makanan yang tampak menganggur begitu saja. Sehingga dalam waktu yang singkat, biasanya mereka akan segera mengerumuninya dan menggotongnya beramai-ramai agar lingkungan mereka menjadi lebih bersih.

Meskipun, jiwa bersih-bersih mereka itu terkadang kita menganggapnya kebablasan sebab mereka mendatangi makanan yang masih kita butuhkan, namun setidaknya kita bisa meneladani mental suka bersih-bersih mereka dan memaklumi ketidaktahuan mereka dalam memilah benda yang masih dibutuhkan oleh manusia atau yang telah dibuangnya. Dan, bukankah Tuhan pun menyukai mereka yang suka bersih-bersih, mutathahhirin?

Keempat, sikap persatuan. Mungkin telah banyak kita ketahui bahwa semut merupakan representasi hewan yang sangat solid dalam menjaga persatuan di antara sesama koloninya. Mereka tidak akan pernah saling memusuhi satu sama lain. Kecuali, mungkin, jika mereka berhadapan dengan koloni lainnya yang berbeda jenis yang akan mengganggu keselamatan mereka.

Kelima, pandai berterima kasih. Dalam sebuah kisah yang pernah disampaikan oleh Gus Baha' telah diterangkan bahwa sebagai bentuk tanda terima kasih semut terhadap Nabi Sulaiman dan pasukannya yang berhati-hati saat melintas di atas mereka, sehingga nyawa mereka menjadi selamat, maka koloni semut itu memberikan hadiah kepada Nabi Sulaiman.

Sebagai hadiah untuk beliau, salah seorang perwakilan dari prajurit semut yang terkuat diminta untuk mengambil sebutir gula terbaik yang mereka miliki untuk diberikan kepada Nabi Sulaiman.

Ia meminta izin pada paduka Sulaiman agar diperkenankan memanjati tubuhnya supaya ia dapat meletakkan sendiri sebutir gula terbaik itu pada lidah sang maha raja, sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih mereka.

Nabi pun mempersilakan mereka, mengamati tingkah mereka, dan menunggu aksi mereka dengan penuh kesabaran yang berbalut tulus senyuman.

Mengingat begitu mulianya kisah semut ini, maka Nabi Sulaiman pun sampai sempat dibuatnya tersenyum kagum atas kepeduliannya dalam melindungi warganya. Semut telah membuatnya banyak belajar mengenai manajemennya dalam mengatur, memimpin, dan menjaga koloninya.

Jika Nabi Sulaiman saja beliau mau memperhatikan, mengamati, dan belajar dari seekor semut, apakah kita juga tidak mau belajar darinya? Kira-kira lebih mulia mana, kita ataukah Nabi Sulaiman? Begitu mulianya seekor semut, an-naml itu, sehingga ia menjadi salah satu nama surat di dalam Alquran.