Tidak ada yang berhak melarang Anda untuk mengambil hikmah dari semua kejadian. Terkait dengan kasus Ka Ahok yang terus-menerus menghantui banyak warga Jakarta, ambillah hikmah dari kejadian-kejadian ini.

Berikut daftar hikmah yang berhasil saya petik dari segenap hiruk-pikuk yang terjadi di Indonesia pada beberapa waktu terakhir:

1. Dari Pak Jokowi saya belajar tentang bagaimana merawat legitimasi dengan cara santun dan mengedepankan maslahat.

2. Dari Pak Gatot Nurmantyo saya belajar memahami bahwa loyalitas bukan hanya sekedar kata-kata. Namun sebuah ideologi yang mengikat.

3. Dari Pak Tito saya belajar tentang sabar dalam kondisi terjepit.

4. Dari Pak SBY saya belajar mengenali langkah-langkah politik adiluhung yang mana telah menyadarkan kita bahwa musuh pemerintahan tidak akan pernah mati.

5. Dari Pak Agus Yudhoyono saya belajar tentang empati "prihatin", bahwa empati saja tidak cukup untuk membangun bangsa. Perlu pengalaman dan pengetahuan yang cukup.

6. Dari Pak Anies Baswedan saya belajar bagaimana cara memanfaatkan situasi ketika kita tidak dalam sorotan publik. Di situlah waktu yang tepat untuk bisa berbuat banyak hal.

7. Dari Habib Rizieq saya belajar tentang bagaimana cara menjunjung tinggi nilai-nilai suci agama Islam. Beliau menyadarkan kita bahwa tujuan mulia tidak membenarkan cara-cara yang tak mulia.

8. Dari Buni Yani saya belajar menjaga sikap di dunia maya. Saya belajar untuk berhati-hati dalam memposting konten. Beliau menyadarkan kita bahwa sentimen SARA yang dikelola dalam dunia maya dapat memicu konflik trans Provinsi bahkan trans Nasional.

9. Dari Pak Fadli Zon dan Pak Fahri Hamzah saya belajar memahami degradasi nilai-nilai logis dalam tubuh pemerintahan Indonesia. Mereka menyadarkan kita bahwa Negri ini butuh praktisi yang bijak, bukan pelawak yang culas.

10. Dari MUI saya belajar untuk lebih detail melihat persoalan agama dan betapa pentingnya akal sehat dalam mengawal fatwa. MUI telah memberikan kita pelajaran, bahwa fatwa tanpa akal sehat hanya akan menimbulkan kehancuran.

11. Dari Ustad Bakhtiar Nasir saya belajar tentang sebuah gerak praktis yang sangat penting tapi diremehkan orang. Ustad Bakhtiar menunjukkan sikap yang sepertinya tidak ada apa-apanya, itulah yang membuat saya geleng-geleng. Saya sangat memetik hikmah dari gerak-geriknya.

12. Dan yang terakhir saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ka Ahok. Anda telah membuat seluruh bangsa Indonesia membuka Al-Qur'an, dan mengintip surat Al-maidah ayat 51. Berkat Anda kajian-kajian tafsir seputar kata "auliya" dalam ayat suci menjadi tema yang popular dan menjadi sorotan publik.

Saya belajar dari Ka Ahok tentang bagaimana sebuah kejujuran tidak akan lengkap tanpa prilaku etis yang memanusiakan orang lain. Saya belajar bagaimana ketegasan tanpa kesantunan dan sadar diri hanya akan menimbulkan fitnah yang dapat menghancurkan keharmonisan bangsa.

Kepada segenap elemen yang telah memberikan saya pelajaran, sekali lagi saya ucapkan terimakasih.

Tanpa kalian (12 nama di atas). Seluruh buzzer, seleb sosmed, wartawan copas, komentator karbitan, ustad enter dan provokator sumbu pendek. Mereka mah apa atuh?