Mendengar nama daerah yang satu ini pasti tidaklah asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Serangkaian konflik yang terjadi sepanjang tahun 1998 hingga 2001 sukses menelan ratusan korban jiwa. Tentu hal ini menjadi catatan kelam tragedi kemanusiaan yang sulit sekali hilang dari ingatan masyarakat kita.

Sebagai anak yang tumbuh dan dibesarkan di kota kecil ini, masih begitu jelas di kepala saya konflik yang terjadi pada saat itu menyebabkan bekas luka yang begitu mendalam bagi kedua belah pihak yang bertikai. 

Kobaran api yang melahap habis bangunan-bangunan, desing peluru, anak-anak yang harus putus sekolah dan kehilangan orangtua, sumpeknya tenda pengungsian dengan kondisi kelaparan yang campur aduk jadi satu bersama ketakutan, hingga mayat-mayat yang mengambang di aliran sungai jadi potongan-potongan kelam dari banyaknya ingatan kondisi saat itu.

Tidak ada menang ataupun seri, sejatinya konflik selalu saja merugikan, baik secara materil maupun imateril bagi pihak-pihak yang terlibat. Trauma berkepanjangan hingga cap yang melekat sebagai daerah bekas konflik merupakan segelintir dari banyaknya kerugian yang dialami masyarakat Poso.

17 tahun berlalu, dalam kurun waktu itu, beberapa kali masih sering terjadi insiden yang berusaha menguak luka lama kota kecil ini. Namun sebagian besar masyarakat Poso telah sepenuhnya berdamai dengan masa lalu. Masyarakat yang awalnya menganggap konflik tersebut dilatari perbedaan agama mulai paham bahwa semrawutnya kondisi politik daerah pada saat itu merupakan motif utama konflik. 

Politik sukses menjadikan masyarakat sebagai bidak-bidak untuk bertempur. Memecah belah kerukunan yang terjalin sekian lama—tentu saja dengan diselipkannya muatan SARA oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Setelah konflik usai, masyarakat Poso perlahan-lahan mulai menata kembali kehidupannya masing-masing. Pembangunan kembali daerah ini, di bawah bendera toleransi yang mulai berkibar, menjadi prioritas utama masyarakat saat ini. Rasa-rasanya konflik yang terjadi saat itu benar-benar membuat masyarakat Poso mengerti betul pentingnya arti toleransi.

Toleransi

Menurut data terakhir BPS, wilayah Kabupaten Poso didiami sekitar 240.000 lebih jiwa, dengan tingkat kemajemukan masyarakat yang cukup tinggi. Dari segi kepercayaan, tercatat 140.000 lebih jiwa beragama Protestan dan 78.000 jiwa beragama Islam. Sisanya diisi oleh penganut Hindu, Katholik, dan Buddha. Segi lainnya lagi, wilayah Poso juga dihuni beragam suku, mulai dari Jawa, Pamona, hingga Tionghoa.

Persis dengan kondisi masyarakat Indonesia yang begitu majemuk, dalam skala yang lebih kecil, Poso pun demikian sama halnya. Tentu saja semakin tingginya kemajemukan penduduk ditambah ingatan kelam tentang konflik, jika tak dibarengi dengan rasa toleransi yang tinggi, akan sangat mudah menyulut kembali konflik horizontal yang baru.

Konflik berkepanjangan yang terjadi sebelumnya akhirnya membuahkan pelajaran dan menghasilkan rasa toleransi yang hadir di masyarakat Poso saat ini cukup tinggi.

Mari mengambil beberapa contoh bentuk toleransi yang ada di Poso. Semisal Kebijakan Jumat - Minggu. Kebijakan ini diberlakukan di beberapa desa yang ada di Kabupaten Poso. Di mana pertemuan-pertemuan penting desa tidak boleh dilaksanakan pada hari Jumat dan Minggu. Karena pada hari Jumat masyarakat muslim harus melaksanakan salat, sementara pada hari Minggu penganut kristiani akan melaksanakan ibadahnya.

Perayaan-perayaan kesukuan dan keagamaan kini begitu meriah. Semua masyarakat tumpah ruah merayakannya tanpa memandang suku maupun agama tertentu. Padungku (acara adat panen raya), Lebaran, hingga Natalan dirayakan bersama dan seakan menjadi ajang silaturahmi masyarakat Poso.

Tak cukup sampai di situ, konflik juga berhasil menggerakkan para pemuda dan pemudi Poso berbondong-bondong memotori membangun komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, perdamaian, dan kesetaraan. Hal tersebut tentu saja dengan maksud memperkuat rasa toleransi serta menghapus trauma yang masih tersisa di tengah masyarakat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, perdamaian, dan kesetaraan ini cukup sukses menjalankan tupoksinya masing-masing sebagai agen sosial yang mengabdi di tengah masyarakat. Semangat semboyan, moto, sekaligus falsafah yang melekat pada tanah Poso ‘Sintuwu Maroso’ yang berarti persatuan yang kuat seakan benar-benar mengakar kuat pasca konflik berakhir.

Tentu saja masih ada tantangan berat yang harus diselesaikan di sini, terutama bagi para pekerja kemanusiaan yang terus bergelut membangun keharmonisan dan menghapus trauma yang tersisa di Poso.

Menciptakan toleransi dari pengalaman konflik yang terjadi sebelumnya mungkin akan mudah karena melibatkan kesadaran penuh masyarakat itu sendiri. Yang merupakan bagian sulitnya adalah terus menjaga dan mempertahankan toleransi yang sudah tercipta tersebut, sehingga tak ada celah untuk kembali mengulang konflik yang sama di kemudian hari. Ini tentu akan menjadi renungan bersama, bukan hanya pemerintah, pemuda atau para pekerja kemanusiaan, tapi bagi seluruh masyarakat Poso saat ini.

Daerah Bekas Konflik dan Destinasi Wisata

Tidak bisa dimungkiri cap daerah bekas konflik yang melekat pada daerah ini memang masih jadi momok menakutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ditambah lagi pemberitaan negatif media. Percaya atau tidak, sebelum benar-benar menginjakkan kaki ke tanah Poso, kita tidak akan pernah benar-benar tahu seperti apa ramah tamah masyarakat, toleransi, serta keindahan daerah yang satu ini.

Tidak hanya tentang kemajemukan masyarakatnya yang serupa Indonesia. Dalam skala kecil pula, destinasi wisata yang berlimpah di Indonesia tercermin pada daerah Poso. Poso begitu kaya akan keindahan alamnya, mulai dari danau terbesar ketiga di Indonesia (Danau Poso), pantai pasir putih Siuri, air terjun Salopa, hingga objek peninggalan zaman megalitikum (Situs Megalitikum Lembah Besoa). Dan tentu masih banyak yang lainnya lagi.

Namun cap daerah bekas konflik mau tidak mau jadi salah satu sebab para wisatawan enggan untuk berkunjung ke daerah ini. Hal ini menjadi satu dari sekian banyak efek negatif yang ditimbulkan konflik sebelumnya terhadap pembangunan dan ekspos potensi daerah. 

Pemerintah dan masyarakat kini harus bersusah payah mengekspos potensi daerah ini. Tentu saja ini sangat merugikan bagi peningkatan ekonomi daerah. Tentu saja kita semua tidak mau hal yang sama terjadi di negeri kita yang tercinta ini.

Akhir Kata

Hari ini, di tengah kemelut tahun politik yang seakan-akan memancing masyarakat Indonesia terbelah menjadi kubu-kubu, tentu rentan mengakibatkan konflik horizontal yang baru tercipta. Saya kira penting rasanya mengambil hikmah dan belajar dari konflik yang terjadi sebelumnya di Poso, bagaimana politik yang disusupi muatan SARA betul-betul ampuh memecah belah kedamaian dan keharmonisan di tengah masyarakat.

Jika pada skala kecil Poso mampu menciptakan toleransi yang begitu kuat, saya benar-benar yakin jika bangsa ini akan bisa memupuk toleransi dan menjalani hidup secara toleran satu sama lain, bahkan tanpa harus ada konflik yang terjadi sebelumnya. 

Poso adalah salah satu contoh daerah yang harus merasakan begitu banyak dampak negatif dari konflik berkepanjangan. Lagi-lagi, tidak ada menang atau seri, untung atau impas dari konflik. Semua kalah. Semua rugi. Semua sengsara.

Melalui tulisan ini pula, penulis mengapresiasi serta menyemangati para pemuda, relawan, komunitas, dan organisasi yang turut sama-sama bergerak dan terlibat secara sukarela dalam proses rehabilitasi pasca konflik yang terjadi di tanah Poso. Semoga semangat dan kesehatan kita semua terus terjaga dan menular hingga ke pelosok negeri ini.