Zapatista adalah sebuah nama yang dipilih dalam pergerakan untuk memperjuangkan hak-hak petani pribumi di Negara Bagian Chiapas, Meksiko yang miskin. Zapatista mengangkat senjata dan menduduki San Cristobal pada tanggal 1 Januari 1994, hari di mana Meksiko menandatangani kontrak NAFTA, sebuah perjanjian perdagangan bebas negara-negara Amerika Utara (

Beberapa prinsip dan tujuan pergerakan yang dilakukan oleh para pejuang Zapatista di antaranya adalah (1) membangun otonomi dari sistem ekonomi yang kapitalistik, (2) membentuk pemerintahan komunal mandiri yang berakar pada tradisi kolektif para pribumi, (3) mengakhiri subordinasi perempuan dan mengembangkan terjalinnya relasi sosial yang saling menghormati, (4) meneguhkan hidup yang menghidupi, (5) tidak bersikap dan berlaku dominan dengan alam.

Menariknya adalah para perempuan adat ditempatkan di garis depan dari banyak perjuangan yang sedang berlangsung ini. Demikian catatan yang dibuat oleh seorang pembuat film, feminis, anti-kapitalis, anti-rasis, dan anti-patriarki, Caitlin Manning (2019) dalam Cooking Against Capitalism: Oaxaca’s Traditional Kitchens

Manning adalah profesor film yang baru saja pensiun dari CSU Monterey Bay, propagandis video untuk berbagai gerakan dan kelompok radikal (Gerakan Pendudukan oleh Mahasiswa, Occupy Oakland, Aksi Antifa, dan Prison Strike). Manning juga salah satu pendiri majalah Processed World.

Bagaimana menginterpretasikan prinsip dan tujuan Zapatista itu dalam konteks perjuangan politik kelompok marjinal, khususnya masyarakat adat di Indonesia?

Harus disadari bahwa dalam dinamika politik ekonomi global saat ini, tatanan dunia masih didominasi oleh sistem ekonomi kapitalisme. Meskipun sistem ini yang sebelumnya telah mapan dengan prinsip-prinsip yang neoliberalistik yang mengusung doktrin pasar bebas tunggal, kini telah tergerus oleh perlawanan bukan hanya kelompok kiri di berbagai belahan dunia, namun juga dari kelompok kanan yang neokonservatif di dunia, di Amerika Serikat, beberapa negara di Eropa, bahkan juga mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Membangun otonomi dari sistem ekonomi yang kapitalistik masih relevan selama dipahami dan dimengerti bahwa sistem itu dalam relasi atas properti dalam produksi masih dikuasai dan dimiliki secara individual atau oleh sekelompok orang saja. Bukan dikuasai dan dimiliki oleh semua orang dalam sebuah kelompok atau organisasi atau entitas produksi, katakanlah seperti koperasi, termasuk yang dikelola oleh masyarakat adat. 

Membangun otonomi artinya memisahkan diri dari sistem dan struktur ekonomi kapitalisme. Apakah ini relevan dengan konteks keindonesiaan kita? Jika kata kuncinya koperasi, maka jawabannya iya tentu saja.

Kedua, membentuk pemerintahan komunal mandiri yang berakar pada tradisi kolektif para pribumi. Dalam hal ini, istilah pribumi mungkin sedikit kontroversial jika dikaitkan dengan dinamika bangkitnya neo-populisme-konservatif yang mengeksploitasi politik identitas untuk kepentingan politik elektoral jangka pendek. 

Namun, dalam makna sesungguhnya, pribumi yang dimaksudkan adalah bukan yang asing di sebuah masyarakat atau bangsa. Tradisi kolektif dari masyarakat yang komunal dan seharusnya mandiri adalah juga khas Indonesia.

Ketiga, mengakhiri subordinasi perempuan dan mengembangkan terjalinnya relasi sosial yang saling menghormati. Ini bukan hanya sebuah nilai dan norma sosial yang parsial. Maksudnya, ini adalah nilai dan norma sosial yang sungguh diinginkan dan dibutuhkan oleh semua masyarakat, bangsa, di negara mana pun di dunia, dan tentu saja juga di Indonesia.

Keempat, meneguhkan hidup yang menghidupi sungguh menjadi antitesis dari hidup yang membunuh pihak lainnya dalam tatanan kehidupan yang neoliberal-kapitalistik. Praktik politik ekonomi yang dunia mengenalinya sebagai mengkomodifikasi apa pun untuk bisa dilabeli dengan harga dan diperjual-belikan. 

Jika tidak memungkinkan dengan cara-cara damai, bahkan berperang termasuk menciptakan peperangan pun dilakukan. Praktik yang sering kali dilakukan bahkan disebut sebagai imperialisme baru dengan merampas ruang hidup siapa pun.

Terakhir, tidak bersikap dan berlaku dominan dengan alam. Sikap dan perilaku ini menjadi salah satu ciri khas masyarakat Timur termasuk Indonesia. Filosofi hidup yang selaras dengan alam. Bukan berarti menyerah dan pasrah begitu saja, namun hidup damai dengan alam karena alam memberikan apa pun yang dibutuhkan masyarakat manusia. Bahkan ketika manusia menjaganya, diyakini bahwa alam pun menjaga manusia.

Bagi masyarakat Timur, alam semesta di dalamnya ada Ibu Bumi yang senantiasa harus dijaga dan dihormati. Bahkan di Indonesia, sebuah masyarakat adat yang disebut Minangkabau, hidup selaras alam adalah keseharian. Sebab alam takambang jadi guru, alam semesta adalah sumber inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Tentu saja, tidak hanya Minangkabau di Sumatera Barat, namun di setiap komunitas masyarakat adat yang ada di setiap penjuru Nusantara.

Demikianlah adanya, prinsip dan tujuan Zapatista dalam konteks perjuangan politik kelompok marjinal, ternyata sangat relevan dengan masyarakat di Indonesia. Bukan untuk mengadopsi atau bahkan menjiplaknya begitu saja, sebab kearifan lokal di setiap tempat dan masyarakat di dunia tentu saja berbeda-beda. 

Bahkan, di Indonesia pun juga ada gerakan masyarakat sipil yang secara khusus memperjuangkan masyarakat adat. Mungkin satu hal yang tidak mungkin mengganggu dan tidak berkenan: gerakan bersenjata.

Meskipun sebenarnya Zapatista pun konon tidak pernah meletuskan senjata walau menentengnya ke mana-mana.