Anak yang lahir di Argentina 29 tahun silam itu telah memutuskan mundur dari dunia bola, tepatnya mundur dari Timnas Argentina. Memang sih, kita masih bisa melihat messi, tapi hanya dalam tataran klub bukan Timnas yang “ruh” nya berbeda dengan Negara. Siapa yang tidak kenal Messi? Hampir semua penggila bola memuja maestro bola tersebut, kecuali yang belum mendapatkan hidayah, hehehe.

Kita ketahui bersama, Messi telah memutuskan mundur dari Timnas Argentina setelah kegagalannya membawa trophi juara piala Copa America 2016. Dunia menyayangkan mundurnya Messi tapi tidak sedikit pula yang senang dengan mundurnya Messi di Timnas Argentina.

Konon mundurnya Messi dikarenakan beliau tidak tahan dengan cacian publik Argentina yg menganggap Messi tidak serius membela Argentina. "Messi itu penghianat bangsa", begitu kira2 makian suporter "baper" Argentina tersebut. Disisi lain, pemuja Messi menganggap Messi adalah pahlawan bangsa.

Messi adalah kebanggaan Argentina yg beberapa tahun dengan bolanya gagal memberikan kebanggaan publik Argentina. Messi selalu difitnah, dibully dan publik Argentina selalu membandingkan Messi dengan Maradona yang pernah membawa gelar piala dunia dinegaranya.

Messi tidak tahan terhadap cemoohan public, dan kita mengetahui dilayar kaca, bagaimana laki-laki yang biasanya tegar, tersenyum ketika dihadang, ditackling, diinjak bahkan pernah diludahi lawan selalu berdiri tegak melanjutkan perjuangan walaupun dengan rasa sakit bisa menjadi sedemikian rapuh, putus asa dan cengeng seperti sebagian besar pemain bola lainnya.

Dengan pandangan kosong, Messi sedih, air matanya jatuh dipipinya yang merah dan dengan mulut bergetar, terbata-bata memberanikan duduk di konferensi pers untuk memutuskan pergi dari Timnas. Perasaan Messi hancur setelah gagal menyarangkan penalty di final copa America 2016.

Tendangannya melesat, melambung tinggi, sejauh asa dan mimpinya. Messi bukanlah nabi yang waktu sedih langsung mendapatkan Wahyu Tuhan dari malaikat agar tidak sedih. Messi juga bukanlah Dewa yang bisa mengubah waktu dengan sekali "klik".

Messi adalah manusia biasa yang tidak rela dirinya menjadi bulan-bulanan publik yang menganggap dirinya bermain hanya untuk uang. Ekspektasi yang begitu besar dan cinta sejati Messi terhadap negara tidak sebanding dengan penerimaan sebagian masyarakat bola Argentina sehingga membuat sang maestro bola itu telah patah hati dan hancur melihat ulah sebagian fans dinegara yang sangat dicintainya.

Bagi saya pribadi, Messi adalah Argentina dan Argentina adalah Messi. Cinta Messi terhadap negara tidak perlu diragukan. Semangat beliau dalam berjuang sampai titik darah penghabisan tidak perlu dibuktikan. Karya seni mengocek bola, menghibur dunia, tidak perlu dipublish dan diumbar, karena semua tahu, jika Messi adalah sang penjaga dan penyelamat seni budaya dan keindahan sepak bola yang dalam beberapa tahun terakhir telah hilang, dikarenakan pelatih dan sistem bersikap pragmatis, hanya menginginkan kemenangan tanpa mengindahkan tujuan permainan yaitu hiburan, karya seni dan rasa hormat terhadap kawan maupun lawan.

Messi menunjukkan kebesaran hati, jika merasa gagal dan mengecewakan sebagian publik pemilihnya langsung mundur dari jabatan kapten bahkan dunianya, tdk seperti para politisi yg justru bersikap seperti "Messiah" ketika mereka tersandung kasus KPK.

Messi pula "menampar" kita, bagaimana ketika fitnah, hujatan dan cacian akan menyulitkan kita sendiri. Kita mungkin tidak bisa melihat dan mendengar kembali,  "ayat suci" Tuhan dikumandangkan di pentas piala dunia. Harapan saya, bahkan seluruh umat bola dunia adalah Semoga Messi diberikan kekuatan, iman, dan takwa dari Tuhan agar beliau kembali mau menjalankan perintah Tuhan sebagai khalifatullah fil ardh dalam menghibur dunia bola yg semakin rentan akan nilai-nilai sportivitas.

Messi, maafkan kami, karena membiarkan kamu sendiri dalam kehinaan. Maafkan kami yang tidak mengerti akan arti keikhlasan. Maafkan kami pula yang melupakan arti cinta kasih sesama. Messi, betapa sengsaranya mencintaimu. Kembalilah sayang, karena kami "mabuk" dengan cintamu.