Setiap budaya memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing. Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan Semesta Alam dengan kecerdasan yang melebihi makhluk lainnya, sudah sepantasnya kita memandang perbedaan itu sebagai sebuah hikmah untuk kemudian menjadi pelajaran penting dalam hidup kita.

Sama halnya dengan budaya dalam masyarakat di Indonesia. Apa-apa yang dipandang baik oleh suatu komunitas bisa dianggap sebaliknya oleh kaum yang lainnya. Karakter dan budaya itu saling melekat, apa yang sering diamalkan dan diyakini kemudian tumbuh menjadi kebiasan adat istiadat dan menjadi karakter yang memberikan citra dan identitas.

Pengalaman saya hidup menjadi minoritas di suatu daerah, membukakan hati dan pikiran saya untuk lebih bisa bertoleransi dan belajar dari keragaman yang ada di sekitar. Alih-alih merasa superior dengan budaya yang menempel sejak lahir, saya lebih suka belajar dan mengambil hikmah serta mengadopsi kebiasan-kebiasan baik dari budaya setempat dimana saya berada. Selain sikap ini merupakan salah satu kemampuan beradaptasi di tempat baru, juga berguna untuk membuat hidup kita terasa lebih happy dan enjoy.

Nah, berhubung saat ini saya tinggal di Papua, rasanya saya harus membagi apa saja yang bisa kita sama-sama pelajari dari kehidupan masyarakat di Papua.

  • Solidaritas yang tinggi

Yang paling saya nikmati hidup di tanah Papua yaitu rasa solidaritasnya yang begitu tinggi. Rasa solidaritas ini dipupuk oleh rasa persaudaraan yang amat erat. Orang Papua sangat rela menolong, bahkan terkadang sampai tidak menghiraukan diri sendiri. Pernah ada seketika di dalam perjalanan hidup saya saat keapesan dan kesialan bertubi-tubi datang, teman kecil saya yang notabene saat itu sudah memiliki pekerjaan tetap datang dan membantu saya keluar dari kesulitan. Padahal sudah lama sekali kami tidak berjumpa! Atas nama “teman main dari jaman susah”, ia tidak segan menolong dan membantu saya!

Berteman dan bersahabat dengan masyarakat Papua seperti saya ini pastinya kalian tidak akan merasa terkucil sama sekali. Tidak peduli seberapa berbeda kalian, tetap saja, selama kalian baik pasti akan merasakan betapa erat persaudaraan anak-anak Papua.

  • Bangga dengan identitas diri dan latar belakang

Menjadi anak Papua, yang jika dipandang dari sisi nasional mungkin hanyalah minoritas dengan berbagai perbedaan fisiologis yang ada, namun masyarakat Papua sangat bangga dengan identitas diri mereka. Anak-anak Papua menerima kehidupan yang dianugrahkan Tuhan pada mereka dengan rasa bahagia tanpa pernah merasa kecil. Pun terkadang memang, rasa minor menghinggapi pikiran akibat berbagai pandangan sosial yang miring terhadap kami. Tetapi bagaimanapun, jika ditanyakan dengan hati, we will proudly say: kami Papua!

Apapun kondisi latar belakang yang dimiliki disini pun, tidak berhasil meruntuhkan rasa bangga kami sebagai anak Papua.

  • Jujur apa adanya ketika berbicara

Yang paling saya nikmati hidup menjadi masyarakat Papua yaitu keterbukaannya. No kode-kode! Kalau bicara apa adanya, kalau tidak suka ya bilang tidak suka, kalau suka ya bilang suka. Walaupun dalam pandangan budaya komunitas lain kadang hal ini dianggap tidak sopan tetapi, dalam kondisi tertentu sifat terbuka ini adalah yang terbaik. Saat tidak tau, ya kami berkata tidak tau. Pokoknya jujur apa adanya.

Kalau kalian memperoleh kesempatan hidup disini juga jangan mudah baper dan merasa tersinggung yah. Karena berkata apa adanya, bukan berarti membenci. Misal saat dikatakan, “Ko ini kenapa pendiam sekali kah? Ketawa sedikit kah” dengan nada pada frekuensi tinggi yang memang sangat lumrah, bukan berarti kamu dibenci. Santai saja, woles. Kalau kamu baperan bisa-bisa kamu makan hati sendiri. Padahal yang lain biasa saja.

Juga kalau bertamu ke teman Papua, saat ditanya “mau makan apa?” jawab saja dengan jujur. Kalau kamu bilang “tidak usah kaks, terima kasih” maka jangan heran kalau kamu tidak disuguhi apa-apa selama bertamu. Tapi coba bilang saja “Oh air putih saja kaks, makasih e”, nah itu baru oke. Menghormati tetapi tetap bicara apa adanya, no kode-kode ?.

  • Mencintai alam layaknya menghormati orang tua

Bagi masyarakat Papua, hutan itu dihormati bagaikan seorang “mama”. Karena di hutanlah dulu para leluhur Papua memperoleh kehidupannya. Nah itu sebabnya, masyarakat Papua sangat menghormati alam mereka. Bukan semata mengejar cuan dan berlian lantas dengan bebas mengeksploitasi alam seenaknya. Di tempat tinggal saja, ada sebuah gunung di tengah kota yang disebut-sebut mengandung emas di dalamnya, tidak peduli berapa kali ditawar dengan kontrak trilyunan pun masyarakat adat disini menolaknya. “Ini sumber air untuk masyarakat, ini sumber hidup untuk masyarakat di sekitar sini”. Nilai dari gunung ini sendiri pun sangat tidak bisa diukur dengan uang.

Sayangnya, selalu ada beberapa oknum yang dengan mudah tergiur cuan dan tahta sehingga rela menjual alam yang menjadi tempatnya bernaung. Atau adanya invansi kaum kapitalis dengan modal besar yang datang dan dengan suka-suka merusak alam demi meraup keuntungan pribadi. Saat ini, menghormati alam ini menjelma dalam bentuk membangun rumah yang sederhana, menyediakan space untuk borcocok tanam, dan tidak mudah menebang pohon-pohon besar. Dan masyarakat Papua percaya, ketika kita merusak alam, maka akan ada karma yang berbalik pada si pelaku. Pokoknya tunggu saja!

Beberapa kebiasaan adat tersebut sangat patut turut kita internalisasikan dalam kehidupan kita sendiri. Ingatlah guys, jangan pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan ras atau sukunya. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang meminta lahir dalam kesukuan atau wilayah tertentu. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa memandang semua manusia sama hanya berdasarkan ketakwaannya semata. Karena itu coba berlapang hatilah memandang sesama anak bangsa dengan lebih baik, karena setiap komunitas pasti punya sisi positifnya. ?