Kemajuan negara merupakan kemajuan bangsanya dan kemajuan bangsa merupakan kemajuan pendidikannya. Istilah tersebut mengisyaratkan pentingnya pendidikan untuk kemajuan suatu negara. Bahkan, pendidikan menjadi syarat utama yang menentukan kemajuan dan kemunduran suatu negara.

Lalu, bagaimana kondisi negara ini sekarang? Bagaimana kondisi bangsa dan pendidikannya? Jawaban yang paling tepat, silakan refleksikan masing-masing.

Pendidikan sebagai upaya peningkatan potensi sumber daya manusia yang akan meneruskan estafeta kepemimpinan masa depan bangsa ini, itulah yang menyebabkan pendidikan menjadi syarat utama penentu kemajuan dan kemunduran suatu negara.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa ditunda-tunda lagi, dan mendidik dengan sikap asal-asalan sangat tidak diperbolehkan. Keharusan tersebut akan semakin mendongkrak kualitas sumber daya manusia, dan mendorong percepatan dalam mengikis kemunduran-kemunduran yang terjadi di negara ini.

Pendidik sebagai pemilik kekuatan moral (moral force), memiliki peran penting dalam meningkatkan potensi peserta didik di sekolah. Pendidik tidak hanya menyampaikan pelajarannya (transfer of knowledge), melainkan harus dengan nilainya (transfer of value).

Pendidik tidak hanya menyampaikan tentang contoh akhlak terpuji dan akhlak tercela, melainkan memberikan teladan bagi peserta didiknya. Pendidik tidak hanya memberikan motivasi dengan kata-kata saja, melainkan dengan karya nyata. Perilaku tersebut sebagai stimulus pendidik kepada peserta didiknya, agar peserta didik memberikan respon yang positif dan terasakan langsung sebagai teladan baginya.

Konsep di atas selaras dengan konsep pendidikan yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat): Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dorongan dan arahan).

Beliau merupakan tokoh pendidikan Indonesia yang mendedikasikan dirinya untuk meletakkan dasar-dasar kebudayaan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Demi mengangkat harkat dan martabat, serta menghilangkan akar kebodohan sebagai akibat dari penjajahan. Didirikanlah Taman Siswa sebagai solusi permasalahan di atas yang mewadahi seluruh bangsa Indonesia untuk belajar dan meningkatkan potensi dirinya.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan, sebagai suatu usaha untuk memberikan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Upaya kebudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap yang dikenal dengan Teori Trikon.

Teori Trikon adalah: Kontinu, pendidikan di Indonesia harus dilaksanakan secara terus-menerus, Konsentris, dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia haruslah terpusat dari kebudayaan Indonesia sendiri, sehingga nilai luhur bangsa dapat tertanam di hati generasi muda, dan Konvergen, dimaksudkan agar mutu pendidikan di Indonesia berkembang dengan baik, setara dengan kualitas pendidikan yang sudah maju di dunia Barat.

Strategi Pembelajaran

Menguraikan kembali konsep Ki Hajar Dewantara, merupakan titik tekan untuk menegaskan konsep pendidikan pada awal sejarahnya hingga saat ini. “Lost on the track mungkin istilah yang tepat disematkan untuk pendidikan masa kini.

Betapa tidak. Problematika pendidikan kini semakin melimpah ruah, seperti hilangnya budaya luhur manusia dalam berperilaku, sulitnya mengatasi pengendalian diri, semakin mengikisnya spiritualitas keagamaan dan terlalu terbuai dengan canggihnya teknologi yang membuat seseorang semakin individualis.

Seyogyanya, setiap individu memaksimalkan potensi dirinya untuk memanusiakan manusia lain. Kecanggihan teknologi menjadi sarana yang lebih baik, digunakan sebagai alat untuk memperluas network dan meningkatkan wawasan global.

Menurut Ki Hajar, dalam pendidikan perlu meningkatkan daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (psikomotor). Singkatnya “educate the head, the heart, and the hand”. Menitikberatkan ke salah satu daya, akan menghambat pertumbuhan yang lainnya sebagai manusia. Ketiga daya tersebut harus dikembangkan secara bersamaan tanpa mengesampingkan yang lainnya.

Upaya mengembangkan ketiga daya tersebut secara bersamaan, merupakan proses humanisasi dalam pendidikan atau disebut dengan memanusiakan manusia. Dengan kata lain, mendidik manusia guna mencapai sisi kemanusiaan yang luhur, tidak mudah luntur. Pendidik harus memosisikan dirinya sebagai role model bagi peserta didiknya. Tanpa menjadi teladan, proses humanisasi dalam pendidikan tidak akan pernah tercapai.

Metode yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among, metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Pelaksanaan pendidikannya dapat berlangsung dalam berbagai tempat dan beliau memberi nama Tri Sentra Pendidikan: Alam Keluarga (Pendidikan Informal), Alam Perguruan (Pendidikan Formal) dan Alam Pergerakan Pemuda (Pendidikan Non-Formal). Ketiga alam tersebut, memiliki pengaruh yang besar untuk membentuk kepribadiaan serta tingkah laku anak.

Pemerintah, keluarga, pihak sekolah dan masyarakat merupakan stakeholder pendidikan. Sinergitas seluruh stakeholder pendidikan menjadi penting dalam proses pendidikan. Tujuan pendidikan akan tercapai dengan mudah apabila proses pendidikan dilakoni dengan sebaik mungkin.

Seluruh stakeholder harus memosisikan dirinya sebagai teladan bagi peserta didik dan peserta didik memosisikan dirinya sebagai pembelajar yang siap untuk dididik. Peserta didik akan menjadi pusat perhatian bagi seluruh stakeholder dalam mencapai tujuan pendidikan, sehingga ketercapaian tujuan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama.