Mahasiswa
4 hari lalu · 111 view · 4 menit baca · Keluarga 58264_70149.jpg

Belajar dari Kasus Audrey, Mulailah Hindari Anak dari Bullying

Tips Menghindari Anak Jadi Korban Bullying

Bullying merupakan tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Bullying ini ada banyak jenisnya. Mulai dari menyakiti dalam bentuk fisik, seperti memukul, mendorong, menendang dan sebagainya. 

Sedangkan dalam bentuk verbal bullying ini lebih kepada menghina, membentak dan menggunakan kata-kata kasar. Kedua bentuk bullying tersebut sama-sama merugikan korban dan menyakiti si korban, bahkan bisa juga hingga terjadi depresi dalam diri korban.

Tak hanya itu, alasan si pelaku menindaspun berbagai macam. Mulai dari adanya rasa iri terhadap target bullying, lebih pintar dari mereka, atau merasa terancam dengan kehadiran seseorang yang lebih cantik, dan tentunya semua itu di dasari dengan rasa ketidak sukaan. Tetapi, pembulian juga bisa terjadi karena suatu masalah yang terjadi antara pembuly dan si korban.

Seperti kasus yang baru-baru ini menjadi hangat di perbincangkan, yaitu pembulian yang terjadi kepada siswi SMP yang di lakukan oleh 12 siswi SMA. Akhir-akhir ini kasus tersebut menjadi perbincangan public baik dalam negeri ataupun luar negeri. 

Meskipun bully mem-bully terbilang sudah begitu familiar di telinga kita, tetapi tidak banyak di antara kita yang tau bagaimana membuat seorang anak terhindar dari bullying. Nah, untuk itu kita bisa memulainya dengan mencari tau cara menghindari anak menjadi korban bullying.

Yang pertama, kenali karakter anak kita. Biasanya anak yamg menjadi target bullying cenderung memiliki sikap cepat merasa bersalah atau penakut. Untuk itu orang tua di anjurkan untuk mengenali karakter anaknya. Tentunya hal ini bertujuan untuk mengantisipasi intimidasi yang menimpa anak kita. Tak hanya itu, dengan adanya pengenalan pribadi anak, orang tua dapat lebih cepat menemukan solusi untuk masalah tersebut.

Yang ke dua, perlu adanya komunikasi dengan anak. Hal ini bertujuan agar anak kita merasa cukup nyaman bercerita kepada kita sebagai orang tuanya, disaat ia mengalami  intimidasi di sekolah, atau bahkan lingkungan sepermainannya. Nah, setelah adanya komunikasi yang di lakukan antara orang tua dan anak atau antara kakak dan adik. Akan lebih mempermudah kita untuk mendapatkan informasi tentang hal itu dan bisa sharring bersama mencari penyelesaiannya

Yang ke tiga, jangan terlalu cepat ikut campur. Disini orang tua harus percaya bahwa anaknya bisa menyelasikan masalahnya sendiri, termasuk kasus bullying yang terjadi pada mereka. Orang tua cukup memupuk keberanian dan rasa percaya diri pada anak-anaknya.

Namun, jika anak tersebut memiliki kekurangan tertentu, terutama kekurangan fisik: Pertama, seperti yang sudah saya uraikan atas, orang tua perlu menanamkan sebuah kepercayaan pada diri anak. Buat ia menerima apa yang sudah Tuhan berikan dan hal itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Kedua, ajarkan pada anak untuk tidak terlalu termakan oleh ledekan teman, karena semakin kita terpengaruh ledekan tersebut, maka semakin senang teman yang meledeknya.

Yang ke empat, jangan ajarkan anak lari dari masalah. Jika anak mengalami masalah di sekolah, ajarkan ia untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan malah  mendukung anak untuk lari dari masalah. Karena kebanyakan anak yang menjadi korban bullying akan menjadi malas sekolah atau bahkan meminta orang tuanya memindahkannya ke sekolah lain. 

Sebagai orang tua, kita tidak harus mengikuti kemauan si anak tersebut, cukup kita ajarkan ia cara menyelesaikan masalah yang ada. Orang tua juga harus ingat pembullyan terjadi bukan hanya di satu sekolah saja, tetapi hampir di seluruh sekolah.

Yang ke lima, ajarkan anak melawan dan melapor. Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah mengajari anak melawan secara verbal. Jika hal itu tidak mempan, berilah motivasi kepada anak agar ia berani untuk melapor kepada yang berwenang di sekolah. Misalnya wali kelas, kepala sekolah atau petugas kesiswaan.

Yang ke enam, kenali dengan baik siapa teman anak. Terkadang anak-anak lebih merasa nyaman untuk bercerita kepada temannya, ketimbang orang tua atau anggota keluarganya. Untuk itu, orang tua bisa memulai pendekatan kepada teman-teman anaknya. Pendekatan itu perlu dilakukan. Agar nantinya, orang tua bisa memantau jika terjadi perubahan perilaku terhadap anaknya.

Yang ke tujuh, mengoptimalisasikan kasih sayang orang tua dan keluarga. Perlunya orang tua atau keluarga, memberi perlindungan, kasih sayang dan perhatian kepada anaknya. Hal ini dilakukan agar nantinya anak juga lebih mudah untuk bercerita tentang kesehariannya.

Hasil riset menyebutkan, anak yang tumbuh di lingkungan yang baik, akan tumbuh menjadi generasi yang stabil, optimis serta emosional. Yang artinya, perilaku orang tua dan keluarga secara otomatis akan membentuk pribadi dan mental anak. Sehingga, bila anak cukup mendapatkan perlindungan, kasih sayang dan perhatian, ancaman dari luar pun mampu dihadapi si anak dengan optimis, bersumber dari psyline.id.

Yang ke delapan, perlunya membina relasi antar guru dan orang tua. Setelah relasi terbina dengan baik. Orang tua bisa menggunakan itu untuk mendapakan informasi adanya kasus bullying. Tak hanya itu, orang tua juga bisa melaporkan secara langsung jika si anak bercerita mengenai bullying yang terjadi diantara teman-temannya.

Dalam kasus-kasus bullying ini, peran orang tua sangat penting bagi anaknya. Tidak hanya menanamkan rasa percaya diri dan memupuk keberanian anak saja. Orang tua juga di haruskan memberikan perhatian khusus kepada buah hati. Sebagai orang tua perlunya melakukan pendekatan komunikasi kepada anak, sehingga nantinya anak tersebut akan bersikap lebih terbuka.